SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

AGRESI MILITER BELANDA TAHUN 1947-1949 ( Studi Kasus di Tulungagung Jawa Timur)

Yuan Tyastiti

Abstrak


ABSTRAK

 

Tyastiti, Yuan. 2013. “Agresi Militer Belanda Tahun 1947-1949 (Studi Kasus di Tulungagung Jawa Timur)”. Skripsi, Program Studi Ilmu Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Dewa Agung Gede Agung, M.Hum (II) Drs. Marsudi, M.Hum

 

Kata Kunci: agresi militer Belanda, Tulungagung.

 

Agresi militer Belanda di Indonesia terjadi setelah Indonesia merdeka. Peristiwa ini terjadi dua kali selama kurun waktu kurang dari lima tahun, pada tanggal 21 Juni 1947 dan 19 Desember 1948. Belanda melakukan agresi militer dengan alasan aksi polisionil yaitu menangkap,memberantas terosis atau penjahat yang menganggu ketentraman negara. Penyebab utama agresi militer Belanda sebenarnya berawal dari keinginan Belanda berkuasa kembali di Indonesia. Tulungagung merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Timur, walaupun kecil tidak luput dari serangan militer Belanda dikarenakan memiliki aset-aset seperti pabrik gula. Alasan lain peneliti mengambil tema ini adalah belum ada sumber referensi yang mengangkat tema agresi militer Belanda di Tulungagung.

Berdasarkan latar belakang, peneliti mengambil rumusan masalah: (1) Bagaimana Gambaran umum Kabupaten Tulungagung pada masa Agresi Militer Belanda? (2) Bagaimana peristiwa Agresi Militer Belanda tahun 1947-1949 di Kabupaten Tulungagung? (3) Bagaimana dampak peristiwa Agresi Militer Belanda tahun 1947-1949 di Kabupaten Tulungagung? Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan gambaran  umum Kabupaten Tulungagung tahun 1947-1949, bagaimana peristiwa Agresi Militer Belanda dan dampaknya agresi militer Belanda di Tulungagung.

Peneliti mengambil teori deprivasi relatif dari Ted Robert Gurr, teori tersebut muncul karena adanya deprivasi relatif yang dialami masyarakat sebagai perasaan kesenjangan antara nilai harapan dengan nilai kapabilitas yang dimiliki seseorang. Nilai harapan adalah harapan akan kualitas hidup dan kehidupan sebagai kondisi untuk dinikmati, sedangkan nilai kapabilitas sebagai kondisi untuk mendapatkan harapan itu. Gurr meyakini ketidakpuasan deprivatif akan melahirkan terjadinya berbagai aksi kekerasan masal, karena semakin besar intensitas ketidakpuasan semakin besar pula dorongan untuk melakukan kekerasan. Penulis menganggap bahwa konflik kekerasan dalam peristiwa agresi militer Belanda di Tulungagung merupakan respon dari kekecewaan (rasa kecewa/deprivasi) dari masyarakat Tulungagung terhadap kelompok lain (Belanda) dan begitu juga sebaliknya.

Peneliti menggunakan metode sejarah, metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah mencari sumber dari perpustakaan Tulungagung, perpustakaan UNESA, perpustakaan UM, perpustakaan Kota Malang, perpustakaan museum Brawijaya dan perpustakaan Nasional Indonesia. Arsip dari ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), arsip Surabaya, arsip Tulungagung. Sedangkan wawancara dengan Mbah Turkan, Mbah Mansoer, Mbah Dwi, Mbah Maeran dan Mbah Kamid. Setelah mencari sumber, peneliti mulai melakukan pemahaman data dengan cara dilihat sampul buku, isi dari buku tersebut dan juga hasil wawancara yang sejaman dan setempat. Setelah itu peneliti ngelompokan data dari sumber-sumber yang didapat dan mencatat hal-hal yang penting, kemudian peneliti menyusun hasil interpretasi fakta-fakta sejarah ditulis menjadi sebuah kisah yang selaras yang dituangkan dalam betuk sejarah lisan.

Menjelang agresi militer Belanda, kondisi masyarakat Tulungagung aman, tentram dan tidak ada gangguan, setelah agresi berlangsung Kabupaten Tulungagung mendapat serangan dari pasukan Belanda. Masyarakat tidak tinggal diam dengan perlakuan Belanda yang sesukanya. TNI dibantu Tentara Pelajar (TP) melakukan politik bumi hangus dan gerilya diberbagai tempat di Tulungagung, contohnya pabrik gula di Modjopanggoong, pabrik gula di Kunir, jembatan Kunir, dan bangunan-bangunan lain. Dampak yang diperoleh dari segi ekonomi adalah masyarakat sebelumnya sulit mendapat uang dikarenakan kas keuangan Negara kosong dan setelah itu perekonomian berangsur-angsur membaik, selain itu mendapatkan gedung yang dibangun Belanda, sekolah, pabrik dan lainnya. Segi politik, masyarakat Tulungagung mempunyai rasa gotong-royong dan membantu memperjuangkan kemerdekaan. Segi Sosial,pemerintah membuka berbagai sekolah bagi seluruh lapisan masyarakat seperti kursus dan pelatihan.

Penulis menyarankan bagi peneliti yang akan datang untuk ikut meneliti agresi militer Belanda di Kabupaten Tulungagung, karena masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang belum digali atau diteliti misalnya seperti tentara pelajar atau sukarelawan yang membantu melawan pasukan Belanda pasca agresi militer Belanda tersebut, bagaimana aktifitas dan pengaruhnya dalam masyarakat, apakah mereka diangkat menjadi tentara atau meneruskan pekerjaan atau sekolahnya. Selain itu saran lainnya yang belum didapat oleh peneliti yaitu peran wanita dalam agresi militer Belanda di Tulungagung selain membantu memasak.