SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERKEMBANGAN KLUB SEPAK BOLA SURABAYA 1900-1942

AS'AD SYAMSUL ARIFIN

Abstrak


ABSTRAK

 

Arifin, As’ad Syamsul.2012. Perkembangan Klub Sepak Bola Surabaya 1900-1942. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial. Pembimbing (I) Drs. Nur Hadi,M.Pd. M.Si, (II)  Drs. Marsudi, M. Hum

 

Kata kunci: Sepak Bola, Surabaya.

Kota Surabaya sangat identik dengan Persebaya dan Bonek Mania. Sepak bola sudah menjadi bagian dari Surabaya baik dengan prestasi maupun kontroversinya. Antusiasme masyarakat Surabaya terhadap sepak bola cukup tinggi, bisa dilihat di Stadion Tambaksari jika Persebaya bermain. Sepak bola di Surabaya sudah berkembang sejak masa kolonial, sebagian pemain Ducht East Indies untuk Piala Dunia 1938 berasal dari Surabaya. Perkembangan sepak bola berkembang bersamaan dengan perkembangan ekonomi dan politik surabaya. Untuk memfokuskan kajian ini maka akan dibatasi dalam beberapa pokok pikiran antara lain ; (1) bagaimana kondisi Surabaya sampai tahun 1942 (2) bagaimana masuk dan berkembangnya sepak bola di Surabaya, serta (3) apa prestasi dan kontribusi sepak bola Surabaya pada sepak bola Hindia Belanda.

Metode peneitian yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah tersebut adalah metode penelitian historis, dengan jenis penelitian deskriptif dan naratif. Langkah-langkah yang digunakan dalam metode penelitian historis adalah pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.

Dari uraian dan pelitian di atas maka diperoleh beberapa sintesis antara lain (1) Surabaya pada masa kolonial adalah kota pelabuhan, perdagangan dan industri yang ramai dikunjungi oleh para investor dari Eropa. Kedatangan orang Eropa berakibat pada dibangunya beberapa fasilitas publik demi memenuhi kebutuhan hidup mereka seperti fasilitas pendidikan, hiburan dan olahraga. Salah satu fasilitas olahraga yang dibangun masa kolonial adalah Stadion Tambaksari.

(2) Proses kolonisasi yang dilakukan oleh orang Eropa juga berdampak terhadap persebaran budaya, salah satunya adalah olahraga sepak bola. Di Surabaya klub sepak bola yang pertama didirikan oleh Jhon Edgar seorang siswa HBS pada tahun 1895 dengan nama Victoria. Sepak bola di Surabaya mulai berkembang pada tahun 1900-an dengan dominasi orang Eropa dengan Soearabajasche Voetbal Bond (SVB) sebagai perkumpulannya. Pada 1905 orang Tionghoa mendirikan klub sepak bola Tionghoa Surabaya, dan baru pada 1927 orang-orang Bumiputra mendirikan Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) (3) dalam perkembangannya Surabaya memiliki kontribusi dan berprestasi dalam persepakbolaan Hindia Belanda diantaranya Tuan Pamudji wakil dari SIVB sebagai salah satu inisiator pendiri PSSI. SVB pernah Sembilan kali menjadi juara kompetisi antar kota di Jawa hingga 1942, sedangkan Tionghoa Surabaya sepuluh kali menjuarai kompetisi antar bond Tionghoa se-Jawa, tapi SIVB yang pada 1935 berubah menjadi Persebaya hingga tahun 1942 belum pernah merebut gelar juara kompetisi. Di Surabaya juga terdapat klub sepak bola perempuan yang dinamakan Djago. Beberapa bintang besar dalam persepakbolaan pada masa itu juga pernah membela panji klub-klub Surabaya antara lain, Tan Cin Hoat, Dr. Nawir, Beb Bakhyus, Tee san Liong, A.W van der Vin, Tan See Han, Sutan Anwar dan Tan “Bing” Mo Heng. Di Surabaya juga beberapa kali diselenggarakan pertandingan yang bertajuk laga internasional antara lain dengan kedatangan tim Chinese Olympic Soccer Team, dan Lo Hua dari Tiongkok, Kheung Wah dari Kamboja.

Dari tulisan ini muncul beberapa saran kontruktif (1) untuk PSSI dan segenap insan sepak bola tanah air agar segera menyudahi dualism kepemimpinan yang saat ini terjadi, demi prestasi sepak bola Indonesia (2) untuk para pengurus Persebaya baik Persebaya 1927 (LPI) maupun Persebaya DU agar segera terjadi rekonsilisasi untuk prestasi sepak bola Surabaya yang lebih baik lagi, serta bagi oknum Bonek Mania agar mengurangi terjadinya insiden-insiden yang memicu keributan baik dengan suporter lain, aparat keamanan dan juga warga  (3) untuk para sejarawan agar muncul lebih banyak lagi tulisan tentang sejarah olahraga, khususnya sejarah sepak bola.