SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Dampak Ekonomi Dan Ekologi Wisata Air Panas Gonoharjo

Arif Subekti

Abstrak


ABSTRAK

 

Subekti, Arif. 2011. Dampak Ekonomi Dan Ekologi Wisata Air Panas Gonoharjo. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Dewa Agung Gede Agung, M.Hum. (2) Aditya Nugroho Widiadi, S.Pd., M.Pd.

 

Kata Kunci: Wisata, Gonoharjo, Ekonomi, Ekologi

 

Pembukaan Wisata Air Panas Gonoharjo tahun 1982, yang mengembangkan usaha-usaha konservasi sumberdaya alam, dalam beberapa hal telah mengubah fungsi tanah perkebunan milik Perhutani Jawa Tengah serta milik warga, menjadi lahan eksplorasi yang bersifat eksploitatif disamping pemekaran areal wisata yang bersifat ekspansif. Hal ini secara bifurkatif, memberikan efek yang di satu sisi positif bagi kemajuan perekonomian penduduk, namun di sisi lain berakibat negatif pada bidang ekologi, yakni bagi pelestarian lingkungan yang dijadikan areal wisata serta pendukung potensi Wisata Air Panas Gonoharjo.

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini menyangkut (1) bagaimana keadaan ekonomi dan kondisi ekologi Desa Gonoharjo sebelum dibukanya pariwisata, (2) bagaimana keadaan ekonomi dan ekologi Desa Gonoharjo setelah dibukanya pariwisata, (3) bagaimana pola perubahan keadaan ekonomi dan ekologi Desa Gonoharjo sejak tahun 1982 hingga tahun 2011.

Penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif  dengan perspektif fenomenologis. Deskriptif kualitatif perspektif fenomenologis berarti usaha mencatat, melukiskan, menguraikan, dan melaporkan buah pikiran, sikap tindak, dan perilaku manusia serta gejala alam yang menyangkut ekonomi dan ekologi dalam kenyataan. Sumber data yang diperoleh menggunakan observasi lapang dan sumber lisan melalui wawancara mendalam.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan; (1) corak kehidupan ekonomi dan ekologi Desa Gonoharjo sebelum tahun 1982 secara global adalah agraris, yakni perikehidupan yang mendasarkan usaha ekonominya pada pengelolaan lahan, bahwa tanah merupakan faktor produksi utama bagi penduduk Desa Gonoharjo. Secara ekologis, keseimbangan alam lingkungan desa masih terjaga, dengan belum diadakannya ekplorasi dan ekspansi dalam rangka eksploitasi alam untuk usaha pariwisata. Mobilitas juga masih rendah, sehingga konformitas penduduk relatif masih terjaga; (2) corak kehidupan ekonomi dan ekologi Desa Gonoharjo setelah tahun 1982 mengalami perubahan, dari warna agraris menjadi beragam, dengan terbukanya lapangan pekerjaan baru berikut kesempatan usaha baru yang mengiringinya, bahwa tanah yang sebelumnya merupakan faktor produksi utama bagi penduduk Desa Gonoharjo, menjadi bergeser sebagai komoditas, khususnya bagi penduduk yang memiliki lahan di sekitar areal wisata. Sementara efek langsung dari pembukaan areal wisata beserta varian bisnis yang mengiringinya ialah terjadinya ketidakseimbangan ekologis pada lahan di sekitar areal wisata pada khususnya dan keseluruhan Desa Gonoharjo pada umumnya; (3) pembacaan pola perubahan keadaan ekonomi dan ekologi Desa Gonoharjo sejak tahun 1982 hingga tahun 2011 mengambil pola yang jika digambarkan berbentuk spiral, dalam arti bahwa sejarah perubahan keadaan ekonomi dan ekologi Desa Gonoharjo bukanlah sejarah yang berulang, yang terus bergerak dalam lingkaran tiada ujung.

Berdasarkan pembahasan hingga kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini, saran-saran yang dapat disampaikan ialah; (1) manusia membina hubungan dengan lingkungannya secara aktif; dalam arti manusia tidak sekedar mengandalkan hidup mereka pada kemurahan dan keramahan lingkungan, manusia telah berabad-abad lamanya mengembangkan pengelolaan lingkungan dan mengolah sumberdaya secara aktif demi memenuhi  kebutuhan hidupnya sesuai dengan seleranya. Hendaknya usaha aktif ini tetap memerhatikan kondisi lingkungan beserta upaya peremajaannya disamping pelestariannya kembali; (2) berbagai kebijakan yang berkaitan langsung dengan upaya ekplorasi dan ekspansi hutan hendaknya tetap menjaga keseimbangan dari segenap alam yang teratur; (3) bagi peneliti yang hendak melanjutkan membahas permasalahan yang sama, masih sangat banyak aspek yang belum dikaji perihal Pariwisata Air Panas Gonoharjo ini.

Untuk mendapatkan sejarah yang lebih baik mengenai pariwisata ini, peneliti selanjutnya dapat mengakses Museum Arsip, serta tokoh kunci lainnya yang belum dapat penulis gali keterangannya. Sebagai masukan untuk fokus penelitian dari aspek kajian yang lain, peneliti dapat menggali kembali aspek sosial budaya kaitannya dengan pembukaan pariwisata ini, atau sejarah Desa Gonoharjo beserta sejarah pariwisata, baik dari rumpun arkeologi maupun antropologi.