SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kerusuhan Mei 1998 (Studi Deskriminasi Etnis Cina Di Jakarta Timur)

Beta Annisa

Abstrak


ABSTRAK

 

Annisa, Beta. 2010. Kerusuhan Mei 1998 (Studi Deskriminasi Etnis Cina Di Jakarta Timur) . Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Dewa Agung Gede Agung, M.Hum.

 

Kata Kunci: Kerusuhan, Deskriminasi, Etnis, Cina.

 

Etnis Cina merupakan salah satu etnis yang terdapat di Indonesia. Leluhur orang Cina berimigrasi di Indonesia secara bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu melalui kegiatan perniagaan. Peran mereka beberapa kali muncul dalam sejarah Indonesia, bahkan sebelum Republik Indonesia dideklarasikan dan terbentuk. Namun keberadaan etnis Cina di Indonesia tidak sepenuhnya diterima oleh masyarakat Indonesia. Berbagai tindak deskriminasi kerap kali terjadi pada masyarakat etnis Cina. Salah satunya pada peristiwa Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta Timur.

Berangkat dari permasalahan tersebut penulis mengkaji deskriminasi etnis Cina pada saat terjadi peristiwa kerusuhanMei 1998 di Jakarta Timur. Penulis membagi permasalahan menjadi tiga yaitu, kehidupan etnis Cina di Jakarta Timur  menjelang Kerusuhan Mei 1998, kronologi Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta Timur serta dampak Kerusuhan Mei 1998 terhadap kehidupan etnis Cina di Jakarta Timur.

Penelitian ini memiliki tiga tujuan, diantaranya: menjelaskan kehidupan etnis Cina di Jakarta Timur menjelang Kerusuhan Mei 1998, memaparkan kronologi Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta Timur, dan menjelaskan dampak Kerusuhan Mei 1998 terhadap kehidupan etnis Cina di Jakarta Timur. Metode yang digunakan untuk melakukan penelitian ini yaitu metode snowball sampling yang digabungkan dengan tehnik purpossive sampling.

Pada masa Orde Lama, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang melarang etnis Cina untuk mengekspresikan budayanya. Selain itu pemerintah juga membatasi lingkup pekerjaan etnis Cina pada bidang bisnis. Bahkan dalam pendidikan, etnis Cina mendapatkan quota tertentu untuk dapat masuk ke dalam perguruan tinggi. Sehingga kehidupan etnis Cina di Jakarta Timur terbatas pada kalangannya saja. Perbedaan-perbedaan ini menimbulkan konflik rasial. Salah satunya terjadi ketika Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 terjadi.

Kerusuhan Mei 1998 merupakan puncak dari krisis multidimensi di Indonesia pada akhir masa pemerintahan Presiden Soeharto. Krisis ini bermula dari krisis moneter yang melanda negara-negara di Asia Tengara termasuk Indonesia. Krisis moneter di Indonesia dimulai dengan menurunnya nilai tukar rupiah. Kondisi kehidupan masyarakat yang sangat sulit ditambah dengan angka pengangguran yang tinggi menyebabkan berbagai benturan sosial. Kegagalan pemerintah Orde Lama dalam mengangani krisis ekonomi ini kemudian mengakibatkan munculnya krisis kepercayaan masyarakat. Sehingga akhirnya masyarakat menuntut adanya Reformasi Pemerintahan yang terbebas dari unsur Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Penurunan tingkat daya beli, munculnya krisis sosial, politik dan krisis legitimasi atas pemerintahan Orde Baru kemudian muncul sebagai reaksi utama. Berbagai aksi demonstrasi mahasiswa mewarnai berbagai peristiwa. Penembakan mahasiswa Trisakti yang diduga dilakukan oleh pihak militer menyulut amarah masyarakat. Masyarakat yang sudah labil dan mudah terprovokasi turun ke jalan untuk menjarah dan merusak pertokoan. Di Jakarta Timur penjarahan terjadi kantor bank dan ATM BCA Rawamangun dan Arion Plaza. Sementara itu pertokoan Jogja di Klender, Arion di Pemuda, Terminal Plaza dan Artomoro Rawamangun habis dijarah dan dirusak massa. Massa di Jatinegara juga memaksa membuka toko-toko disekitarnya dan menjarah habis isinya hingga ludes. Gedung BCA, Auto 2000 di Jalan Pemuda dirusak massa.

Kehidupan masyarakat etnis Cina di Jakarta Timur pasca Kerusuhan Mei 1998 dapat dikatakan membaik secara keseluruhan. Meskipun terdapat korban jiwa serta kerugian akibat pengrusakan serta pengjarahan yang dilakukan massa, kehidupan etnis Cina lebih bebas dibandingkan pada masa pemerintahan Orde Baru. Pemerintah Habibie mengeluarkan kebijakan yang menghapus istilah pri dan non pribumi. Abdurrahman Wahid mengeluarkan kebijakan yang mencabut larangan etnis Cina untuk mengekspresikan budayanya dan menjadikan hari Raya Imlek sebagai Libur Nasional.

Penelitian mengenai Kerusuhan Mei 1998 perlu dikembangkan guna mendapatkan bukti-bukti baru mengenai kronologi peristiwa tersebut. Selama ini pemerintah kurang transparan dalam memberikan data-data fakta mengenai pelaku pemerkosaan, penjarahan dan siapa dalang di balik peristiwa tersebut. Hal ini terbukti dengan minimnya koran-koran edisi bulan Mei 1998 di Perpustakaan Nasional. Selain itu Arsip Nasional juga tidak memiliki salinan kebijakan-kebijakan yang melanggar hak etnis Cina, seperti contoh Instruksi Instruksi Presidium Kabinet Nomor 49/U/8/1967 tentang Pendayagunaan Mass Media Berbahasa Cina. Peneliti mengharapkan pemerintah dapat lebih transparan dalam mengeluarkan data sehingga kelak penelitian berikutnya dapat dilakukan lebih baik. Peneliti melihat banyak aspek dari Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 yang memungkinkan untuk dikaji atau diteliti lebih lanjut. Salah satu contoh yaitu mengenai Peran Pemerintah Indonesia terhadap Integrasi Etnis Cina Pasca Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta.