SKRIPSI Jurusan Sastra Jerman - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Padanan Pronomen Es Pada Hasil Terjemahan Dongeng "Schneewitchen" Oleh Mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang

Auzi'ni An Asykur

Abstrak


ABSTRAK

 

Asykur, Auzi’ni An. 2017. Padanan Pronomen Es Pada Hasil Terjemahan Dongeng “Schneewitchen” oleh Mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang. Skripsi. Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Rosyidah, M.Pd.

 

Kata Kunci: Pronomen es, dongeng “Schneewitchen” terjemahan mahasiswa

Di dalam bidang penerjemahan, keberterimaan menjadi suatu hal yang sangat penting. Istilah keberterimaan merujuk pada kesesuaian terjemahan pada kaidah-kaidah, norma, dan budaya yang berlaku pada bahasa sasaran. Keberterimaan dapat dilihat dari segi pemilihan kata yang sesuai pada kalimat. Oleh karena itu, penerjemah harus memikirkan cara untuk mendapat keberterimaan tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil terjemahan Pronomen es dalam dongeng “Schneewitchen” oleh mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2013. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sumber data berupa hasil terjemahan dongeng “Schneewitchen” oleh mahasiswa Offering B, sedangkan data penelitian ini berupa kalimat-kalimat bahasa sumber dan kalimat terjemahannya dalam bahasa sasaran yang mengandung Pronomen es.

 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, sebagian besar hasil analisis yang diperoleh sudah berterima karena makna yang disampaikan sepadan dan mudah dipahami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjemahan berdasarkan makna menjadi metode terjemahan yang dominan digunakan mahasiswa. Metode padanan tersebut menjadikan terjemahan Pronomen es menjadi lebih alamiah dibandingkan menggunakan terjemahan berdasarkan harfiah. Pronomen es diterjemahkan menjadi beberapa terjemahan dalam bahasa Indonesia, yaitu        (1) Personal Pronomina: “nya”, “dia”, “ia”, (2) Persona: “Putri Salju”,                (3) Nomina: “wajahnya”, “kecantikannya”, (4) Adverbia: “saat itu”, “suatu hari”, “hal itu”, (5) Partikel: “...lah” (6) Nol/tidak diterjemahkan, dan (7) Kata “yang”. Hasil terjemahan-terjemahan tersebut menjadi berterima karena penggunaan bahasa sudah benar secara pragmatis. Namun terdapat beberapa hasil terjemahan yang tidak berterima karena pemilihan kata yang tidak akrab bagi pembaca bahasa sasaran. Oleh karena itu, mahasiswa disarankan untuk memperbanyak latihan agar terjemahannya semakin baik. Terdapat banyak buku dan artikel yang dapat menjadi sumber belajar mahasiswa, khususnya tentang Pronomen es.