SKRIPSI Jurusan Sastra Inggris - Fakultas Sastra UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

A COMPARISON BETWEEN MALE AND FEMALE YOUTUBERS IN USING ASSERTIVE SPEECH ACTS ON THEIR DAILY VLOGS

VINDYA CASTI PRABOWO

Abstrak


SUMMARY

Prabowo, Vindya. 2019. A Comparison between Male and Female YouTubers in Using Assertive Speech Acts on Their Daily Vlogs. Thesis. English Department, Faculty of Letters, Universitas Negeri Malang. Advisors: (1) Maria Hidayati, S.S., M.Pd. (2) Prof. Dr. Yazid Basthomi, M.A.

Keywords: assertive speech acts, gender, YouTubers, vlogs

Everyone carries different information with a different style of speaking every day. Searle (1969) stated that daily information are commonly uttered with four types of assertive speech acts: informing, swearing, predicting, and reminding. Furthermore, it is undeniable that the information must be spoken differently by men and women. Lakoff (1973) claimed that women tend to say something with more specific words such as in naming color, get used to using hedges to make a statement less firm, oftentimes use tag questions; super polite forms; and empty adjectives. This research is conducted in order to find out whether or not Lakoff’s theory is still relevant to the factual condition in this era.

This study used descriptive qualitative design. 3 males and 3 females YouTubers with specific qualification were chosen as the research subjects. Their particular vlogs were analyzed by using InqScribe for the purpose of getting the full transcription of their utterances. Moreover, the utterances with assertive speech acts were categorized based on the features of women’s language proposed by Lakoff (1973).

The findings show the most frequently used assertive speech acts are in the form of informing and the least frequent use is swearing. There is no significant difference in terms of number among swearing, reminding, and predicting; however, a glaring dissimilarity comes from the frequency of informing between male and female YouTubers. The frequency of male YouTubers in delivering information is almost twice higher than the number of female YouTubers in giving information. In addition, the result of this study is not quite relevant to Lakoff’s theory which ubiquitously firm believe gender is the one and only logical way to differentiate women and men from their social space. In fact, there is no significant difference between male and female’s way of speaking on a daily basis. Similarities are more discovered than differences between them. Both male and female use specific vocabulary, tag question, hedge, empty adjectives, super polite forms, intensifiers, and unfinished statements.

For this reason, the readers are expected to not being judgmental of the way girls and boys should talk because of time changes, so do people communication. Furthermore, the researcher hopes that this research can be used as a reference for those are struggling and working on the area of speech acts or gender and language.

RINGKASAN

Prabowo, Vindya. 2019. Perbedaan Penggunaan Tindak Tutur Asertif oleh YouTuber Pria dan Wanita dalam Video Blogging. Skripsi. Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Maria Hidayati, S.S., M.Pd. (2) Prof. Dr. Yazid Basthomi, M.A.

Kata kunci: tindak tutur asertif, gender, YouTuber, vlog

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menyampaikan berbagai macam informasi. Searle (1969) menjelaskan bahwa informasi-informasi tersebut umumnya disampaikan dalam 4 tipe tindak tutuk asertif yang meliputi: menjelaskan situasi yang sedang terjadi, mengumpat, memprediksi, dan mengingatkan. Tidak hanya disampaikan dalam tipe-tipe yang berbeda, namun sebuah informasi juga disampaikan dengan cara yang berbeda oleh pria dan wanita. Lakoff (1973) berpendapat bahwa dalam menyampaikan informasi, wanita menggunakan pilihan kata yang lebih spesifik, khususnya ketika mendeskripsikan detail warna suatu benda. Selain itu, wanita seringkali tidak yakin dengan pernyataan yang dia ungkapkan sehingga tidak jarang mereka menggunakan pertanyaan tag dalam obrolan sehari-hari. Wanita juga dinilai lebih sopan dalam bertutur kata dibandingkan dengan pria. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah teori yang dikemukakan oleh Lakoff masih relevan dengan fakta yang ada di masyarakat saat ini.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 3 YouTuber pria dan 3 YouTuber wanita dengan kualifikasi yang sudah ditentukan. Vlog mereka akan melalui proses transkripsi menggunakan InqScribe. Selanjutnya, hasil transkripsi yang termasuk dalam tindak tutur asertif akan dianalisa dengan cara dikategorikan dalam karakteristik Women’s Language yang telah diusulkan oleh Lakoff (1973).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tipe tindak tutur asertif yang paling sering digunakan dalam menyampaikan informasi adalah tipe yang menjelaskan situasi yang sedang terjadi, sedangkan tipe tindak tutur asertif yang paling jarang digunakan adalah tipe mengumpat. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara penggunaan keempat tipe tindak tutur asertif tersebut. Tetapi, perbedaan yang mencolok antara YouTuber wanita dan pria terlihat pada frekuensi penggunaan salah satu tipe tindak tutur kata asertif. Data menunjukkan bahwa YouTuber pria lebih banyak memberikan informasi dibandingkan Youtuber wanita. Dalam hal penyampaian informasi, persamaan antara Youtuber pria dan wanita juga terlihat lebih banyak daripada perbedaannya. Mereka sama-sama menggunakan kata-kata yang spesifik dalam mendeskripsikan suatu benda, pertanyaan tag, kalimat-kalimat yang sopan, intensifiers, dan kerap kali tidak menyelesaikan kalimat yang sedang diucapkan.

Oleh karena itu, para pembaca diharapkan untuk tidak menjadi pribadi yang mudah menghakimi orang lain karena cara orang berkomunikasi bisa berubah seiring berjalannya waktu. Peneliti juga berharap agar penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk para peneliti lain yang juga sedang melakukan penelitian dalam bidang tindak tutur bahasa dan gender.