SKRIPSI Jurusan Sastra Inggris - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Proses Berpikir Siswa Dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau Dari Level Kecerdasan Emosional

Eka Kurniawan

Abstrak


Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  proses berpikir siswa SMP dalam memecahkan masalah berdasarkan level kecerdasan emosional. Materi Pokok yang yang dipilih dalam penelitian ini adalah Persamaan Linier Satu Variabel (PLSV) dikelas VII semester genap. Penelitian ini menerapkan langkah-langkah pemecahan masalah Polya yang memepermudah pendeskripsian proses berpikir siswa. Berikut langkah-langkah pemecahan masalah Polya (1) memahami masalah, (2) menyusun rencana, (3) melaksanakan rencana, dan (4) melihat kembali.

Penelitian diawali dengan pemberian tes kecerdasan emosional kepada 38 siswa kelas VII A SMPN 2 Mataram yang bertujuan untuk menggolongkan tinggkat kecerdasan emosionalnya. Dari hasil tes ini, didaptkan 5 siswa dengan kecerdasan emosional tinggi, 27 siswa dengan kecerdasan emosional sedang, 6 siswa dengan kecerdasan emosional rendah. Kemudian dipilih satu orang dari masing-masing tingkat kecerdasan emosional berdasarkan rekomendasi dari guru yang terkait. Selanjutnya peneliti memberikan tes pemecahan masalah berupa soal cerita pada materi Persamaan Linier Satu Variabel (PLSV). Langkah terakhir , siswa yang diberikan tes pemecahan masalah adalah melakukan wawancara dengan tujuan mengetahui proses berpikir siswa tersebut.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa dalam memecahkan masalah matematika PLSV Siswa dengan tingkat kecerdasan emosional tinggi mampu memahami masalah, membuat rencana pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah, dan memeriksa kembali jawaban dengan menggunakan proses berpikir asimilasi.

Siswa dengan tingkat kecerdasan emosional sedang: mampu memahami masalah, membuat rencana pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan menggunakan proses berpikir asimilasi. Sedangkan dalam memeriksa kembali jawaban dengan menggunakan proses berpikir akomodasi atau asimilasiSiswa dengan tingkat kecerdasan emosional rendah mampu memahami masalah, dan membuat rencana pemecahan masalah dengan menggunakan proses berpikir asimilasi, mampu melaksanakan rencana pemecahan masalah yang telah direncanakan dengan menggunakan proses berpikir akomodasi atau asimilasi, mengalami ketidaksempurnaan dalam memeriksa kembali jawaban karena ketidaksempurnan dalam proses berpikir akomodasi