SKRIPSI Jurusan Sastra Inggris - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Rhetorical Moves and Metadiscourse Markers in Research Article (RA) Abstracts: A Comparative Study

Anggia Mirzadevi

Abstrak


Mirzadevi, A. 2016. Rhetorical Moves and Metadiscourse Markers in Research

Article (RA) Abstracts: A Comparative Study. Thesis. Department of English, Faculty of Letters, Universitas Negeri Malang. Advisor 1: Prof. Dr. Yazid Basthomi, M.A., Advisor 2: Prof. A Effendi Kadarisman, M.A., Ph.D.

Keywords: abstract, rhetorical moves, metadiscourse markers, comparative study

A pioneering study done by Dronberger and Kowitz (1975) shows that the readibility of abstract is higher than its full document. In the era of global world, in which information, including research paper is abundant, people write article  not only for  national recognition but also international  recognition. Hence, abstract as the representation of the whole text, is essential for attracting readers and  help them decide what  is worth reading.

By using Swales and Feak’s framework (2004) for abstract rhetorical  move analysis and metadiscourse model by Hyland (2005) this study aims to disclose the rhetorical move and  metadiscourse marker used by Indonesian EFL writers and Native English Writers (NEW). The data were in the form of corpus taken from Corpus of State University of Malang Learners’ English  (C-SMILE) for Indonesian EFL abstracts and SAGE Journals for NEW abstracts.For analysing metadiscourse markers found in the abstracts, I employ Antconc 3.4.4.0.

The study reveals some tendencies those are (1) Indonesian EFL writers employed background move the least (26.67%), in contrast, NEW writers employ background move more dominantly (70% ) , (2) Indonesian EFL writers tend to use aim as the first move in abstract, while NEW favor background (3) In announcing a certain move, Indonesian EFL writers tend to use some keywords as the signal meanwile NEW prefer narrating it, (4) Both Indonesian EFL writers and NEW favor interactive metadiscourse marker in their abstract (5) consistent with the prior studies, Indonesian EFL writers prefer using  ‘the researcher’  as the self mention and avoid  the first pronoun like ‘I’, on the other hand, NEW tend to use ‘I ‘ to refer to themselves.

The variations found within those two group of abstract might be due to; different writers’ competence, different  prospective readers, different discourse community, and cultural trait Moreover, this comparative study is expected to contribute to the abstract rhetorical move and metadiscourse study with two different linguistic and cultural background of writers which has been lack of exploration in Indonesia and become the implicit guidance for novice writes who want to write abstracts for international publishing.

 

ABSTRAK

 

Mirzadevi, A. 2016. Pergerakan Retorik dan Penanda Metawacana dalam Abstrak

Artikel Ilmiah:Sebuah  Studi Perbandingan. Skripsi. Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing  1: Prof. Dr. Yazid Basthomi, M.A, Pembimbing 2: Prof. A. Effendi Kadarisman, M.A., Ph.D.

Kata kunci: abstrak, pergerakan retorik, penanda metawacana, studi perbandingan

Sebuah studi yang dipelopori oleh Dronberger dan Kowitz (1975) menunjukkan bahwa tingkat baca abstrak lebih tinggi dibanding tingkat baca teks utuhnya. Dalam era global dimana informasi termasuk artikel penelitian yang melimpah ruah, orang menulis artikel tak hanya untuk mendapatkan pengakuan nasional namun juga internasional. Oleh karenanya, abstrak sebagai representasi dari teks utuhnya, sangatlah penting untuk menarik pembaca dan membantu mereka memutus artikel mana yang layak baca.

Melalui  teori Swales dan Feak (2004) untuk analisis pergerakan retorik dari abstrak dan model metawacana yang digagas oleh Hyland (2005), studi ini bertujuan untuk memaparkan pergerakan retorik dan penanda metawacana yang digunakan oleh pelajar bahasa Inggris asli Indonesia dan penulis asli berbahasa Inggris . Data studi ini dalam bentuk korpus yang diambil dari Korpus Pelajar Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang (C-SMILE) sebagai representasi dari  abstrak yang ditulis oleh pelajar bahasa Inggris asli Indonesia dan SAGE Journal untuk  abstrak yang ditulis oleh penulis berbahasa Inggris. Selain itu, peneliti juga menggunakan aplikasi Antconc 3.4.4.0 sebagai intstrument yang membantu dalam proses analisis metawacana dalam abstrak.

Studi ini mengungkap beberapa kecenderungan yaitu (1) pelajar bahasa Inggris asli Indonesia menggunakan sedikit sekali background (latar belakang) (26,67%), sebaliknya penulis asli berbahasa Inggris menggunakan background  lebih dominan (70%), (2) pelajar bahasa Inggris asli Indonesia cenderung menggunakan aim (tujuan) sebagai pergerakan retorik pertama, sedangkan penulis asli berbahasa Inggris lebih menyukai mengawali abstrak dengan background, (3) dalam menandai suatu pergerakan retoris, pelajar bahasa Inggris asli Indonesia cenderung menggunakan beberapa kata kunci sebagai penanda, sedangkan penulis asli berbahasa Inggris cenderung menarasikannya, (4) baik pelajar bahasa Inggris asal Indonesia dan penulis asli berbahasa Inggris lebih menyukai metawacana interaktif dalam abstrak mereka, (5) konsisten dengan penelitian sebelumnya, pelajar bahasa Inggris asli Indonesian lebih memilih the researcher (peneliti) sebagai kata rujuk diri dan menghindar kata rujuk pertama I (saya), di sisi lain penulis asli berbahasa Inggris cenderung menggunakan I untuk merujuk pada diri mereka.

Variasi yang ditemukan dalam dua grup abstrak ini mengindikasikan bahwa; perbedaan kemampuan penulis, perbedaan  pembaca sasaran, perbedaan komunitas wacana dan budaya bisa jadi menjadi alasannya. Selanjutnya, studi perbandingan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam ranah pergerakan retorik dan metawacana dalam abstrak dengan dua penulis yang secara linguistik dan budaya berbeda yang kurang mendapat perhatian di Indonesia, dan  menjadi petunjuk implisit bagi penulis pemula yang ingin menulis abstrak untuk kepentingan internasional.