SKRIPSI Jurusan Sastra Inggris - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

The Construction of Home in Charlotte Brontë’s Jane Eyre

Huda Fitri Amalia

Abstrak


ABSTRACT

 

Amalia, Huda Fitri. 2013. The Construction of Home in Charlotte Brontë’s Jane Eyre. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Inayatul Fariha, S.S., M.A.

 

Keywords: Home, Space, Place.

 

Many researchers argue that spaces and places are important aspects that construct identity. People make sense of their self by attributing meanings to places; however, the meaning and significance in it are not permanent. They are renegotiated and reconstructed. Home, a place that has been given meaning, is claimed as an expression or symbol of the self as people indicate a sense of their identity through stories about where they are.It is a physical space that is lived and a space that is an expression of social meanings and identities. However, home always has multi-layered meaning to each individual but plays a vital importance to growth. It therefore triggers many researchers to examine the meaning of home and has been a very intriguing topic as it holds different meaning to each discipline of study.

Jane Eyre portrays a significant role of home in constructing an identity, in which self-existence, personal value, and self-worth are regarded. Jane’s condition of being an orphan, penniless, homeless, and woman complicate her construction of home as she has no memory, experience, or attachment to a certain place. Her condition pushes her further to be a victim of marginalization. As an orphan, her need to find and create a comfortable space therefore becomes urgent in order to experience the feeling of being home. Jane lives at five homes and each home gives Jane an opportunity to construct her identity by observing each home and its inhabitants. Therefore, she can make an attachment to each home, both positive and negative. Jane’s concept of ideal home is continually altered in each home and therefore allows her to develop an identity, both personal and social.

In Jane Eyre, home is not merely about physical space and architectural buildings. It is emphasized that space becomes home only when it is inhabited and given meaning and function, where people can establish their own self and ways associating to others. Furthermore, home is also connected to metaphorical investment, reinforcing the idea of home which is not always a fixed space. It is delivered through imagination, creativity, and symbolic meaning as Jane calls Rochester ‘my home’. The book challenges the idea that home is not always a physical space containing certain memories for its inhabitants. Jane Eyre also adds the characteristics of ideal home as a site for new possibility, productivity, and equality. Moreover, the book enforces the idea of ‘home’ as a perennial human need, even for the ‘homeless’.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRAK

 

Amalia, Huda Fitri. 2013. The Construction of Home in Charlotte Brontë’s Jane Eyre. Skripsi, Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sasra, Universitas Negri Malang. Pembimbing: Inayatul Fariha, S.S., M.A.

 

Kata Kunci: Home, Space, Place.

 

Banyak peneliti berpendapat bahwa ruang dan tempat adalah sumber penting dari identitas. Manusia membangun esensi diri dengan cara memberi makna pada tempat, namun makna dan arti bersifat permanen. Makna dan arti selalu dinegoisasikan dan dikonstruksi. Rumah, tempat yang sudah diberi makna, diyakini sebagai simbol dari identitas seseorang karena manusia membentuk identitasnya dari di mana mereka berada.Rumah adalah ruang nyata yang dihidupkan dan menjadi ekspresi dari makna sosial dan identitas. Namun, rumah selalu memiliki arti yang berbeda dan memainkan peran penting untuk tiap individu. Hal tersebut mendorong para peneliti untuk mengevaluasi makna dari rumah karena artinya berbeda pada setiap disiplin ilmu.

Novel Jane Eyre menggambarkan peran penting rumah dalam membentuk identitas termasuk keberadaan, nilai, dan harga diri. Kondisi Jane sebagai yatim piatu, miskin, dan wanita membuat pencarian rumah menjadi rumit karena ia tidak memiliki memori, pengalaman, dan keterkaitan dengan suatu tempat. Kondisi Jane tersebut memaksa Jane menjadi korban marginalisasi sehingga membuat pencarian ruang menjadi sangat penting untuk merasa berada di rumah. Jane tinggal di lima rumah dan setiap rumah memberinya kesempatan untuk membentuk identitas dengan mengobservasi setiap rumah dan penghuninya. Sehingga, Jane dapat membangun keterkaitan pada setiap rumah, baik positif dan negatif. Konsep rumah ideal bagi Jane selalu berubah mengikuti alur novel sehingga mendorong ia untuk mengembangkan identitas baik personal maupun sosial.

Di novel Jane Eyre, rumah tidak selalu berupa ruang fisik dan bangunan arsitektural. Ruang hanya dapat menjadi tempat dan rumah ketika dihuni dan diberi makna serta fungsi, dimana manusia dapat mejadi dirinya dan berhubungan dengan manusia lain. Selain itu, rumah juga dapat digambarkan melalui metafora, tidak hanya ruang tetap. Hal tersebut disampaikan melalui imajinasi, kreativitas, dan arti symbol ketika Jane memanggil Rochester sebagai ‘rumahku’. Novel ini menekankan bahwa rumah tidak hanya berupa ruang fisik yang membawa memori tertentu untuk setiap penghuninya.  Jane Eyre juga menambahkan karakteristik dari rumah ideal sebagai tempat yang membawa kesempatan baru, produktivitas, dan kesetaraan. Selain itu, Jane Eyre juga menekankan bahwa rumah adalah kebutuhan dasar bagi setiap manusia termasuk ‘tunawisma’.