SKRIPSI Jurusan Sastra Inggris - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

A Comparative Study of Responses to Negative Questions in English and Indonesian

Amalia Dewi Masyitah

Abstrak


ABSTRACT

 

Masyitah,  Amalia  Dewi.  2012.  A  Comparative  Study  of  Responses  to  Negative

Questions  in English and  Indonesian. Thesis. English Department, Faculty of

Letters, State University of Malang. Advisor: Nurenzia Yannuar, S.S., M.A.

 

Keywords: Comparative Study, Responses, Negative Questions

 

Functioning  as  a  medium  of  communication,  language  is  inseparable  from

culture.  Considering  that  languages  are  reflective  of  the  speech  communities

employing  them,  it  is  safe  to  assume  that  each  group  produces  different  styles  in

terms  of  language  features. One  of  the  features  in  language  that might  be  different

one another is responses of how people retort a negative question. This study mainly

discusses how  responses  to negative questions  are given  in English  and  Indonesian

and the difference lies within.

This study employs a descriptive qualitative design. The data are  in  the  forms

of spoken discourses from conversations in two talk shows, Just Alvin and The Oprah

Winfrey  Show.  The  data  collected  underwent  three  phases,  namely  identification,

tabulation, and description.

The findings show that responses to negative questions split into positive and

negative responses. In English, the pattern of responding to negative questions is

polarity-based which requires the speaker to pick only the positive idea within a

question to determine whether it should be answered affirmatively or negatively.

Thus a positive answer to negative question in English should contain a positive

answer particle and a negative answer to negative question should contain a negative

answer particle. The findings also show that English speakers are close-observant to

this pattern. In this study there are nine data of positive responses to negative

questions and 36 data of negative responses to negative questions in English, all of

which exhibit 100% conformity with English polarity-based pattern. On the other

hand, in Indonesian the pattern is truth-based, which requires the speaker to pick the

whole negative idea within a question to determine whether it should be answered

positively and negatively. Therefore, a positive answer to negative question should

contain a negative answer particle as a negation to the negative idea and a negative

answer to negative question should contain a positive answer particle as an

affirmation to the negative idea. However, there are variations detected. Indonesian

speakers sometimes shift from truth-based pattern to polarity-based pattern. In fact, it

is only the three (60%) out of five positive responses to negative questions which

conform the original pattern. The rest two (40%) contravene it. It is only the 23 (64%)

out of 36 negative responses to negative questions sticking to the truth-based pattern.

The remaining 13 (36%) of them are not in a conformation with the truth-based

pattern Indonesian possesses, suggesting high flexibility in Indonesian syntax.

This study of responses  to negative questions  in English and Indonesian might

become  a  reference  to  enrich  the  body  of  linguistics.  However,  it  is  strongly

recommended  that  further  studies  be  conducted  on  daily  discourses  and  from  the

point of view of other field for the sake of its betterment.  iii

 

ABSTRAK

Masyitah, Amalia Dewi. 2012. A Comparative Study of Responses to Negative

Questions in English and Indonesian. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra  Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Nurenzia  Yannuar, S.S., M.A.  

Keywords: Studi Komparatif, Respon, Pertanyaan Negatif

 

Dalam fungsinya sebagai alat komunikasi, bahasa tidak terpisahkan dari budaya. Mengingat bahwa bahasa adalah cerminan komunitas penutur penggunanya, dapat diasumsikan bahwa tiap komunitas menghasilkan fitur-fitur bahasa yang berbeda. Salah satu fitur yang dapat berbeda satu sama lain adalah cara penutur menjawab pertanyaan negatif. Penelitian ini berfokus pada cara penutur menjawab pertanyaan negatif dalam bahasa Inggris dan Indonesia serta perbedaan yang terdapat di dalam keduanya.  Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data berupa wacana lisan dalam bentuk percakapan dari dua pertunjukan, yaitu Just Alvin dan The Oprah Winfrey Show.  Data yang terkumpul melewati tiga tahapan, yaitu identifikasi, tabulasi, dan deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon pertanyaan negatif terbagi atas respon positif dan negatif. Dalam bahasa Inggris, pola penjawaban pertanyaan negatif berbasis-polaritas di mana penuturnya hanya perlu mengambil ide positif dalam pertanyaan untuk menentukan apakah mereka harus menjawab secara positif atau negatif. Maka, respon positif untuk pertanyaan negatif dalam bahasa Inggris harus mengandung partikel respon positif, dan respon negatif harus mengandung partikel respon negatif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penutur bahasa Inggris sangat mematuhi pola tersebut. Terdapat sembilan data respon positif dan 36 respon negatif yang kesemuanya menunjukkan 100% kesesuaian dengan pola berbasis-polaritas. Sebaliknya, pola dalam Bahasa Indonesia berbasis-fakta di mana  penuturnya harus menimbang seluruh ide negatif dalam suatu pertanyaan untuk menentukan apakah mereka harus menjawab secara positif atau negatif. Maka, respon positif atas pertanyaan negatif dalam bahasa Indonesia harus mengandung partikel respon negatif dan respon negatif harus mengandung partikel respon positif. Namun, terdapat beberapa ketidaksesuaian yang terdeteksi.  Penutur bahasa Indonesia kadang beralih dari pola berbasis-fakta ke berbasis-polaritas. Hanya tiga (60%) dari lima respon positif yang sesuai dengan pola. Sisanya, sebanyak dua (40%) data menggunakan pola berbasis-polaritas. Juga, hanya 23 (64%) dari 36 respon negatif yang sesuai. Sisanya, 13 (36%) data tidak sesuai dengan pola dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut menunjukkan tingginya fleksibilitas dalam sintaks bahasa Indonesia. Studi  mengenai  respon  atas  pertanyaan  negatif  dalam  bahasa  Inggris  dan Indonesia  ini  dapat menjadi  sebuah  referensi  yang memperkaya  bidang  lingusitik. Sangat direkomendasikan bahwa studi  lebih  jauh dilakukan pada percakapan sehari-hari dan dari sudut pandang bidang lain untuk menyempurnakan penelitian ini.