SKRIPSI Jurusan Sastra Inggris - Fakultas Sastra UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

MAIN CHARACTERS' PARTICULARIZED CONVERSATIONAL IMPLICATURE IN "THE DUCHESS" MOVIE

Kristiani .

Abstrak


ABSTRACT

 

Kristiani. 2012. Main Characters’ Particularized Conversational Implicature in ‘The Duchess’ Movie. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Dr. Emalia Iragiliati, M.Pd.

 

Keywords: particularized conversational implicature, conversational maxims, politeness strategy, off-record.

 

People sometimes use utterance containing implicit meaning in communication which results in implicature. Politeness principle is important in trying to explain why people are so often indirect in conveying what they mean.

The particularized conversational implicatures were analyzed based on Brown and Levinson off-record politeness strategy in doing Face Threatening Act (FTA), but be indirect and Grice Cooperative Principles in Thomas (1996) and Yule (1998).

It invites conversational implicature by violation of some Gricean Maxims: relevance maxim, quality maxim and quantity maxim. This study focused on finding particularized conversational implicature seen in the two main characters of The Duchess movie.

The research method contained analysis of the findings in which the primary data was taken from the original movie script that consists of utterances from the main characters’ dialogs. The research design of this study is qualitative descriptive. Since both of them do not have good relationship, it is interesting to analyze their way of communicating.

The results show that there are 27 utterances contained particularized conversational implicature. In the introduction there are seven particularized conversational implicatures which violate maxim of quality (28%) that functions as speaker’s avoidance of face damaging interpretation, maxim of quantity (14%) that was used to give the addressee the opportunity to interpret what the speaker meant without being irritated and losing face and maxim of relevance (58%) that functions to avoid the potential threat of ordering the hearer around. In preclimax, violation of relevance maxim (100%) was totally used as speaker’s indirect force to the hearer to agree with speaker’s decision. The shifting function of violation of relevance maxim from introduction to pre-climax was influenced by problems that the speaker faced which then resulted in total violation of relevance maxim. Then, there are ten particularized conversational implicatures in the climax which violate maxim of quantity (30%) to give opportunity to interpret what speaker meant without being irritated and violate maxim of relevance (70%) to overcome the most inconvenient situation. Moreover, in the anticlimax, the researcher found five particularized conversational implicatures which were violating maxim of quantity (20%) that functions as speaker’s indirect request and violating maxim of relevance (80%) to show the speaker’s authority to the hearer. Meanwhile, the researcher only found particularized conversational implicature in the ending of The Duchess movie which violated maxim of quantity (100%). The decrease of conversational implicature connotes that the speaker tried to keep the convenient communication and forget all the problems in the climax and anticlimax. In conclusion, the most violated maxim in particularized conversational implicature is relevance maxim. Thus, by violating relevance maxim, the speaker assume that she/ he will produce more satisfying outcome and less threat to the self or other.

The discussion of particularized conversational implicature and off record politeness strategy becomes a central point in this study. However, other studies are still needed to make a development particularly from Linguistics students in analyzing the phenomenon of conversational implicature. Hopefully, this research becomes a trigger for the student to improve the result and the finding related to particularized conversational implicature in other issues and genre of conversation.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRAK

 

Kristiani. 2012. Main Characters’ Particularized Conversational Implicature in b ‘The Duchess’ Movie. Skripsi, Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, b Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Emalia Iragiliati, M.Pd.

 

Kata Kunci: particularized conversational implicature, conversational maxims, nn strategi kesopanan, off-record.

 

Banyak orang kadang-kadang menggunakan kalimat yang mempunyai makna tersembunyi dalam komunikasi yang disebut implikatur. Prinsip kesopanan sangat penting dalam menjelaskan mengapa banyak orang sering tidak lansung dalam mengungkapkan apa yang mereka maksud. Particularized conversational implicature dianalisis berdasarkan strategi kesopanan off-record oleh Brown & Levinson dalam melakukan Face Threatening Acts (FTA), tetapi secara tidak langsung dan Prinsip Kooperatif Grice oleh Thomas (1996) dan Yule (1998). Di dalamnya terdapat percakapan implikatur yang dilakukan dengan menyangkal Gricean Maxims: relevance maxim, quality maxim dan quantity maxim. Penelitian ini berpusat pada penemuan particularized conversational implicature yang digunakan oleh dua pemeran utama dalam film berjudul The Duchess.

Metode penelitian dilakukan dengan menganalisis penemuan yang data utamanya diambil dari naskah film asli dimana terdapat dialog pemeran utama. Model penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Karena kedua pemeran utama tidak membunyai hubungan yang baik maka cara mereka berkomunikasi menarik untuk dianalisis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 27 percakapan yang menggunakan particularized conversational implicature. Pada bagian permulaan film terdapat 7 particularized conversational implicature yang menyangkal quality maxim (28%) yang berfungsi untuk menghindari interpretasi kehilangan wajah bagi orang yang berbicara, quantity maxim (14%) yang digunakan untuk memberi kesempatan kepada pendengar untuk menginterpretasikan sendiri apa yang dimaksudkan oleh pembicara tanpa merasa tersinggung dan kehilangan wajah dan relevance maxim (58%) yang fungsinya untuk menghindari rasa tidak nyaman bagi pendengar. Pada bagian pre-klimaks, pembicara menyangkal relevance maxim (100%) sepenuhnya sebagai pemaksaan tidak langsung kepada pendengar untuk menyetujui keputusan pembicara. Terdapat pergantian fungsi dari penyangkalan relevance maxim dari permulaan film menuju pre-klimaks yang dipengaruhi oleh masalah yang dihadapi keduanya mulai meningkat.

Kemudian, ada 10 particularized conversational implicature pada bagian klimaks film yang menyangkal quantity maxim (30%) untuk memberi kesempatan kepada pendengar untuk menginterpretasikan sendiri apa maksud dari pembicara tanpa merasa tersinggung dan menyangkal relevance maxim (70%) untuk mengatasi situasi yang paling tidak nyaman diantara kedua pemeran utama. Selanjutnya, pada anti-klimaks, terdapat 5 particularized conversational implicature yang menyangkal quantity maxim (20%) sebagai permintaan pembicara secara tidak langsung dan menyangkal relevance maxim (80%) untuk menunjukkan kekuasaan pembicara kepada pendengar. Sedangkan pada akhir film hanya terdapat 1 penyangkalan quantity maxim (100%). Penurunan percakapan implikatur menunjukkan bahwa pembicara berusaha untuk menjaga komunikasi yang dirasa sudah mulai membaik dan melupakan semua masalah yang terdapat dalam klimaks dan anti-klimaks. Kesimpulannya, maxim yang paling banyak disangkal dalam particularized conversational implicature adalah relevance maxim. Sehingga, dengan menyangkal relevance maxim, pembicara berasumsi bahwa ia akan memberikan kalimat yang memuaskan dan tidak merugikan dirinya sendiri maupun orang lain dalam berkomunikasi.

Pembahasan particularized conversational implicature dan strategi kesopanan off-record menjadi fokus dalam penelitian ini. Bagaimanapun, penelitian lain tetap diperlukan untuk membuat perkembangan khususnya dari pelajar linguistik dalam menganalisis fenomena percakapan implikatur. Semoga penelitian ini menjadi awal bagi pelajar untuk meningkatkan penelitian yang berhubungan dengan particularized conversational implicature di bidang yang lain.