SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Bentukan Infleksi dan Derivasi dalam Bahasa Indonesia: kajian Morfosintaksis

Jokowali Givari

Abstrak


ABSTRAK

Jokowali, Givari. 2019. Bentukan Infleksi dan Derivasi dalam Bahasa Indonesia: Kajian Morfosintaksis. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Sumadi, M.Pd.

Kata Kunci : infleksi, derivasi, morfosintaksis, bahasa Indonesia

Bentukan infleksi dan bentukan derivasi merupakan kontruksi morfologi yang lahir dalam golongan bahasa fleksi. Bahasa Indonesia yang sebagai objek dalam penelitian ini merupakan bahasa yang tergolong bahasa aglutinasi. Bahasa fleksi merupakan bahasa yang hubungan gramatikalnya tidak dinyatakan dengan urutan kata, tetapi dinyatakan dengan infleksi. Akan tetapi, bahasa aglutinasi adalah tipe bahasa yang gramatikalnya saling menempel-nempelkan dari morfem yang satu dengan morfem yang lain. Bentukan infleksi dan derivasi akan diterapkan dalam bahasa Indonesia yang tergolong bahasa aglutinasi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentukan infleksi dan bentukan derivasi dalam proses pembentukan kata bahasa Indonesia. Penelitian tersebut ditinjau dari kajian morfosintaksis yang mengkaji dari dua sistem bahasa, yaitu morfologi bahasa dan sintaksis bahasa. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan kajian morfosintaksis, bukan hanya mempertimbangkan proses pembentukan kata saja, melainkan juga mengkaji kata tersebut dalam sebuah kalimat.

Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelititan ini adalah analisis teks. Data pada penelitian ini berupa pembentukankata yang menghasilkan bentukan infleksi dan derivasi dalam bahasa Indonesia. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks yang berupa berita dalam Koran Jawa Postertanggal 1 Maret- 5 Maret 2019.

Hasil penelitian ini menunjukan, yaitu pertama bentukan infleksi pada proses pembentukan kata ada dalam bahasa Indonesia. Bentukan infleksi tersebut ditemukan pada kata yang mengalami proses afiksasi. Dalam proses afiksasi yang menghasilkan bentukan infleksi, ditemukan penggunaan meN-, ber-, ke-, ter-, se-, -an, -kan, meN-kan, meN-i, per-an, peN-an, dan ke-an. Dari penggunaan afiks tersebut  ada yang mengahsilakan bentukan berdistribusi sama dengan bentuk dasarnya. Distribusi kata yang sama dengan bentuk dasar tersebut menandakan bahwa bentukan infleksi ada dalam bahasa Indonesia.

Kedua, bentukan derivasi pada proses pembentukan kata ada dalam bahasa Indonesia. Bentukan derivasi tersebut ditemukan pada kata yang mengalami proses afiksasi. Dalam proses afiksasi yang menghasilkan bentukan derivasi, ditemukan penggunaan afiksmeN-, ber-, peN-, ter-, per-, se-, di-, diper-, memper-, –an, -i,–kan, peN-an, per-an, meN-i, meN-kan, di-i, di-kan, ber-kan, ber-an, ke-an, ter-i, ter-kan, memper-i, memper-kan, dan diper-kan. Dari penggunaan afiks tersebut tersebut ada yang menghasilkan bentukanberdistribusi berbeda dengan bentuk dasarnya. Distribusi kata yang berbeda dengan bentuk dasar tersebut menandakan bahwa bentukan derivasi ada dalam bahasa Indonesia.Berdasarkan data temuan, bentukan derivasi ditemukan lebih banyak dari pada bentukan infleksi.

SUMMARY

Jokowali, Givari. 2019. Infection and Derivation in Indonesian: Morphosyntax Study. Essay. Indonesian Literature Department, Faculty of Literature, Malang State University. Advisors: Prof. Dr. Sumadi, M.Pd.

keyword : Infection, Derivation, Morphosyntax, Indonesian

Inflection formation and derivation formation are morphological constructs born in flexion language groups. Indonesian as the object in this study is a language that is classified as an agglutination language. Flexional language is a language in which grammatical relationships are not expressed in word order, but are expressed by inflection. However, the language of agglutination is a type of language that grammatically sticks together from one morpheme to another. inflection and derivation will be applied in Indonesian which belongs to the language of agglutination

This study aims to determine the inflection and derivations in the process of Indonesian word formation. The study was reviewed from morphosyntax studies that examined two language systems, namely language morphology and language syntax. Therefore, this study uses morphosyntaxis studies, not only considering the word formation process, but also studying the word in a sentence.

This study uses a qualitative approach and this type of research is text analysis. The data in this study in the form of word formation is produced from an affixation process that results in the inflections and derivations in Indonesian. The data sources in this study are newspapers, articles, and other research reports.

The results of this study indicate, namely the first inflection formation in the word formation process is in Indonesian. The inflection formation is found in words that undergo an affixation process. In the affixation process that produces inflection formation, it is found that the use of affixes meN-, ber-, ke-, ter-, se-, -an, -kan, meN-kan, meN-i, per-an, peN-an, and ke-an. From the use of affixes there is a form that distributes the same distribution with the basic form. The distribution of the same word with the basic form indicates that the formation of inflection is in Indonesian.

Second, derivation formation in the word formation process is in Indonesian. The formation of derivation is found in words that undergo an affixation process. In the affixation process that results in the formation of derivations, the use of affixes is found meN-, ber-, peN-, ter-, per-, se-, di-, diper-, memper-, –an, -i,–kan, peN-an, per-an, meN-i, meN-kan, di-i, di-kan, ber-kan, ber-an, ke-an, ter-i, ter-kan, memper-i, memper-kan, and diper-kan. From the use of these affixes there is a formation that is distributed differently from the basic form. The distribution of different words with the basic form indicates that the formation of derivation is in Indonesian. Based on the data of the findings, the derivation formation was found to be more than the inflection formation.