SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

STEREOTIP PEREMPUAN DALAM NOVEL DI BALIK KERLING SAATIRAH KARYA NINIK M.KUNTARTO: KAJIAN DEKONSTRUKSI JACQUES DERRIDA

Adawiyah Robiatul

Abstrak


RINGKASAN

Adawiyah, Robiatul. 2018. Stereotip Perempuan dalam Novel Di Balik Kerling Saatirah Karya Ninik M. Kuntarto: Kajian Dekonstruksi Jacques Derrida. Skripsi, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Muakibatul Hasanah, M. Pd.

Kata Kunci: stereotip, perempuan, kontradiksi, oposisi

Novel merupakan salah satu jenis karya sastra yang berkembang di masyarakat. Setiap pembaca karya sastra mempunyai keleluasan dan kebebasan dalam menerjemahkan dan memahami karya sastra yang dibacanya. Tidak ada satu simpulan dan makna yang absolut dalam menafsirkan suatu karya sastra. Oleh karena itu, melalui dekonstruksi kontradiksi-kontradiksi yang terdapat di dalam suatu teks digunakan sebagai data untuk mengubah makna-makna yang telah melekat dalam teks tersebut.

Penelitian ini bertujuan memetakan stereotip perempuan dalam novel Di Balik Kerling Saatirah karya Ninik M. Kuntarto, memetakan oposisi dalam novel Di Balik Kerling Saatirah karya Ninik M. Kuntarto, dan memaparkan konstruksi dalam Di Balik Kerling Saatirah karya Ninik M. Kuntarto.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan dekonstruksi. Data penelitian ini berupa kata, frasa, dan kalimat yang berbentuk dialog, monolog, dan narasi yang mengindikasikan stereotip, oposisi, dan konstruksi. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Di Balik Kerling Saatirah karya Ninik M. Kuntarto dengan ketebalan 191 halaman yang diterbitkan oleh PT Gramedia Widiasarana Indonesia pada tahun 2017.

Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa dalam novel Di Balik Kerling Saatirah karya Ninik M. Kuntarto ditemukan

(1) stereotip umum dan tak umum perempuan,

(2) oposisi berupa unsur yang diutamakan dan yang dikesampingkan (aporia), dan

(3) konstruksi awal pembangun cerita dan konstruksi baru yang terbentuk berdasarkan data-data aporia yang ditemukan.

Stereotip umum tercermin pada tokoh Saatirah yang dicitrakan sebagai seorang istri yang hanya bisa pasrah menerima perlakuan buruk suaminya, namun ia tetap melayani suaminya, ia juga selalu menutupi aib sang suami di depan orang lain, dan Saatirah selalu berusaha untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Stereotip tak umum tergambar melalui sikap Saatirah yang menjalin hubungan percintaan dengan pria yang lebih muda di belakang Andro jauh sebelum Andro berselingkuh dan menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai dosen, model, dan penulis.

Novel ini secara garis besar mengutamakan tentang kisah perselingkuhan Andro dan sikapnya yang sering kali kasar kepada Saatirah. Namun, melalui pembacaan dekonstruktif di dalam novel ini terdapat pula unsur aporia, berupa paradoks, ironi, dan kontradiksi. Unsur aporia berupa paradoks tergambar melalui perilaku Saatirah yang merasakan kerinduan dan tertarik kepada pria lain, serta bekerja keras untuk membiayai perekonomian keluarganya. Unsur aporia berupa ironi tergambar melalui perasaan cinta Saatirah kepada pria lain yang tidak seharusnya dimiliki perempuan bersuami. Perasaan rindu dan cinta yang dimiliki oleh Saatirah seharusnya dicurahkan untuk suaminya bukan untuk pria lain.

Unsur aporia berupa kontradiksi tergambar melalui perilaku Saatirah dan Andro. Selama sembilan tahun pernikahan, Andro selalu meluapkan kasih sayang berlebih untuk Saatirah bahkan saat berselingkuh dengan Sintia, ia pun meminta izin kepada Saatirah. Berbeda halnya dengan Saatirah yang menjalin hubungan percintaan dengan Tora tanpa sepengetauan Andro. Selain itu, perjuangan Saatirah untuk kembali mendapatkan cinta Andro bahkan hingga melakukan perbuatan musyrik juga bertolak belakang dengan perilakunya yang kembali menjalin hubungan dengan Tora tanpa sepengetahuan Andro.

Konstruksi awal dan baru dalam novel DBKS. Konstruksi awal novel ini berpusat pada perselingkuhan yang dilakukan oleh Andro. Saatirah sebagai seorang istri yang baik hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan Andro dan menyerahkan segalanya kepada kuasa Allah. Konstruksi baru dalam novel ini yaitu semua hal yang terjadi pada Saatirah bukan sepenuhnya kesalahan Andro. Saatirahlah yang pertama kali berkhianat, ia yang terlebih dulu berselingkuh di belakang Andro. Sosoknya yang dicitrakan sebagai perempuan taat agama, namun ternyata ia melakukan perbuatan musyrik dan menghalalkan segala cara demi mendapatkan kembali cinta Andro.

Berdasarkan simpulan hasil penelitian, dikemukakan dua saran sebagai berikut. Pertama, bagi mahasiswa sastra Indonesia dan umum disarankan agar penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan refleksi untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan mengenai kajian dekonstruksi sehingga pembacaan karya sastra tidak terkungkung pada konsep lama. Kedua, bagi peneliti lain disarankan dapat melakukan penelitian dengan lebih sempurna, baik yang berhubungan dengan penelitian ini, maupun yang berhubungan dengan masalah lain dalam penelitian yang berobjek novel Di Balik Kerling Saatirah karya Ninik M. Kuntarto karena terdapat banyak hal yang dapat digali dalam novel ini.