SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

GEGURITAN KARYA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 6 MALANG TINJAUAN STILISTIKA SASTRA

Setyaningrum Ika Ayu Nur

Abstrak


RINGKASAN

Setyaningrum, Ika Ayu Nur. 2018. Geguritan Karya Siswa Kelas VII SMP Negeri 6 Malang Tinjauan Stilistika Sastra. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Sunoto, M.Pd.

Kata Kunci: geguritan, diksi, stilistika sastra

Penelitian ini bertujuan menganalisis diksi, persajakan, dan makna geguritan karya siswa kelas VII SMP Negeri 6 Malang dengan pendekatan stilistika sastra. Geguritan merupakan salah satu materi dalam matapelajaran bahasa Jawa sebagai muatan lokal yang mengajarkan tentang sastra dan bahasa. Dalam pembelajaran bahasa terdapat empat keterampilan, antara lain membaca, menyimak, menulis, dan berbicara. Penelitian ini berfokus pada geguritan hasil karya siswa karena untuk mengetahui diksi lugas dan simbolik, pola persajakan (purwakanthi), dan makna dalam geguritan siswa.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi dokumen. Sumber data penelitian berupa geguritan karya siswa kelas VII SMP Negeri 6 Malang. Populasi sumber data berjumlah 62 karya siswa, yang menjadi sampel berjumlah 30 data. Sumber data yang telah valid memiliki tiga persyaratan, sebagai berikut. Pertama, tidak mengambil karya orang lain/plagiat. Peneliti memastikan bahwa geguritan karya siswa tidak ada unsur plagiat dengan cara mencocokan dengan karya orang lain yang terdapat pada website yang mengambil di internet. Jika geguritan memiliki kesamaan satu bait bahkan lebih maka karya tersebut terdapat unsur plagiat. Kedua, terdapat identitas penulis. Ketiga, tulisan dapat terbaca dengan jelas.

Berdasarkan hasil analisis data ditemukan diksi yang menggunakan diksi lugas dan diksi simbolik. Selain diksi, ditemukan penggunaan pola persajakan/purwakanthi, siswa menulis geguritan dominan menggunakan purwakanthi guru swara hanya satu siswa yang menggunakan purwakanthi guru sastra. Selanjutnya pada temuan makna karya siswa lebih banyak membicarakan akna lugas, makna kias ditulis beberapa siswa saja, sedangkan makna simbolik banyak membahas keunikan wisata dan kekaguman pada sosok yang dianggap berjasa.

Penelitian ini menghasilkan tiga simpulan sebagai berikut. Pertama, pengungkapan geguritan siswa yang menggunakan diksi bermakna denotatif tercampur dengan kosakata bahasa Indonesia. Populasi dari 30 siswa secara keseluruhan terdapat 25 siswa yang menggunakan diksi yang bermakna denotatif. Geguritan karya siswa belum menggunakan diksi simbolik yang di dalamnya terdapat sengkalan, sandi, dan sasmitan namun cenderung menggunakan ragam bahasa yang dominan, yaitu ragam basa pambandhing dan pasulayan.

Kedua, penggunaan persajakan dalam geguritan ada dua yang digunakan, yaitu purwakanthi guru sastra dan purwakanthi guru swara. Dari populasi yang berjumlah 30 siswa ada 19 siswa yang menggunakan purwakanthi guru swara dan hanya 1 orang yang menggunakan purwakanthi guru sastra. Perulangan bunyi dalam geguritan siswa hanya merujuk pada satu persajakan, yaitu purwakanthi guru swara. Hal tersebut dirasa mudah dalam penerapannya karena mengacu pada akhiran bunyi vokal. Pengaruhnya adalah stigma bahwa pola persajakan yang puitis harus menggunakan akhiran yang sama.

Ketiga, makna karya siswa lebih banyak menekankan pada makna lugas. Makna kias haya digunakan ketika siswa menemukan imajinasi yang sesuai dengan geguritan karya mereka, jika tidak makna kias bisa tidak ditemukan sama sekali, sedangkan makna simbolik banyak ditemukan pada geguritan siswa yang merasa kagum atau unik pada suatu hal.