SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

KETERKAITAN POLA KONTUR HEART RATE VARIABILITY (HRV) DENGAN INTONASI PENUTUR BAHASA JAWA DIALEK TENGGER (BJDT)

Pungky Hertanto

Abstrak


dth: 0px; "> Hakikat bahasa pada umumnya adalah sebuah sistem lambang bunyi,
bersifat arbitrer, produktif, dinamis beragam dan manusiawi. Bahasa Jawa (BJ)
merupakan salah satu bahasa daerah terbesar di Indonesia yang digunakan oleh
sebagian besar masyarakat Jawa yang tinggal di Jawa Timur, DIY, dan Jawa
Tengah. Sebagai bahasa yang kaya akan morfologi, BJ Kuna memiliki cukup
banyak proses fonologis. Salah satu suku yang masih menggunakan Bahasa Jawa
Kuna adalah suku Tengger. Masyarakat suku Tengger mendiami wilayah di kaki
Gunung Bromo, tepatnya di Masyarakat Tengger yang dikenal dengan nama
“suku Tengger” bermukim di sekitar Pegunungan Tengger, di empat daerah
Kabupaten yang berbeda dengan Gunung Bromo sebagai titik pusat, mereka itu
berdiam di (1) sebelah tenggara, yaitu di Kabupaten Lumajang, (2) sebelah barat
daya, yaitu di Kabupaten Malang, (3) sebelah barat laut, yaitu di Kabupaten
Pasuruan, dan (4) sebelah timur laut, yaitu di Kabupaten Probolinggo.
Kondisi alpha merepresentasikan sebuah hasil terjemahan sebuah syaraf
dalam menerima kode sinyal pendengaran. Sebuah suara yang ditransmisikan
melalui bahasa memberikan respons syaraf terhadap otak pada waktu tertentu.
Kondisi ini dapat dikarakterisasi melalui parameter Heart Rate Variability=HRV.
Oleh karena itu untuk mengetahui kharakteristik verbal dan transmisi irama
berpikir BJDT di masyarakat suku Tengger, penelitian ini dirancang dengan judul
“Keterkaitan Pola Kontur Heart Rate Variability (HRV) dengan Intonasi Penutur
Bahasa Jawa Dialek Tengger” penelitian ini akan membahas proses fonologis
BJDT pada masyarakat suku tengger, baik yang terjadi karena pengaruh bunyi
yang berdekatan, yaitu pada level kata, maupun karena pengaruh sintaksis. tujuan
penelitian ini adalah mendeskripsikan konstruksi fonetik dan unsur-unsurnya serta
model deterministik kondisi alpha terhadap intonasi masyarakat penutur BJDT
Gunung Bromo, Propinsi Jawa Timur.
Penelitian yang berjudul “Keterkaitan Emosi HRV dengan Pola Intonasi
Akustik pada Penutur Bahasa Jawa Dialek Tengger (BJDT)” menggunakan
pendekatan kualitatif. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan
menggunakan metode deskripif. Adapun metode dan teknik yang digunakan
dalam penelitian ini adalah (1) metode dan teknik penyediaan data, digunakan
metode cakap dan metode simak serta teknik dasar dan teknik lanjutan; (2)
metode dan teknik analisis data, digunakan metode deskriptif dan teknik analisis;
(3) metode dan teknik penyajian hasil analisis data, digunakan metode formal dan
informal serta teknik yang digunakan adalah teknik deduktif dan induktif. Data
dan sumber data penelitian ini mencakup data rekam tuturan dan catatan lapangan,
data Heart Rate Variability alpha suku Tengger serta catatan dokumenter video.
vii
Data tuturan diperoleh dari hasil pengamatan dengan merekam percakapan suku
Tengger dalam kehidupan sehari-hari.
Data catatan lapangan diperoleh melalui catatan deskriptif dan reflektif.
Data HRV alpha didapatkan dengan karakterisasi secara langsung pada
masyarakat suku Tengger dengan perangkat ECG. Peneliti sebagai instrumen
didasari pertimbangan, yaitu lebih responsif, bersifat adaptif, dan lebih dapat
memahami konteks secara keseluruhan. Software yang digunakan dalam
penelitian antara lain: (1) ECG Coherence Training Software version 2.2.6.5250;
(2) Speech Analyzer 3.1; (3) Sony Sound Forge Pro versi 10.0; dan (4) Adobe
Audition CS 6.
Hasil penelitian ini yaitu: (1) Pola intonasi masyarakat penutur BJDT
memiliki bentuk yang bervariasi yang terdiri dalam bentuk pola statik dan
dinamik sesuai karakter penuturnya dikarenakan faktor pekerjaan, usia, dan jenis
kelamin juga berpengaruh di dalam pola tuturan BJDT terdapat dua pola intonasi
yang dituturkan oleh masyarakat suku Tengger yaitu pola prestise atas dan pola
prestise bawah; (2) Kondisi Heart Rate Variability pada salah satu penutur BJDT
cenderung seimbang diketahui subjek penutur tersebut berprofesi sebagai
pengepul pupuk, berjenis kelamin laki-laki serta berusia 43 tahun, bedasarkan data
tersebut diketahui bahwa penutur tersebut tergolong kedalam penutur yang
memiliki kondisi HRV yang seimbang sedangkan pada semua informan, dengan
profesi yang berbeda meliputi profesi petani, tokoh adat, pejabat pemerintahan
juga memiliki pola HRV yang serupa namun terdapat beberapa pola intonasi yang
berbeda pada beberapa topik; (3) Hubungan emosi terhadap pola intonasi penutur
BJDT memiliki pola yang tidak sepenuhnya mengalami keterkaitan dan tidak
saling terkait pada aspek tuturan informan namun secara minoritas informan
memiliki keterkaitan konsisten pada topik sistem distribusi pupuk yang
dituturkan oleh Edi hal tersebut dikarenakan pola intonasi penutur saat
berkomunikasi cenderung dipengaruhi oleh kondisi HRV emosi penutur itu
sendiri; (4) Faktor yang paling berpengaruh atau bisa disebut dominan dalam
menggali unsur intonasi dan emosi pada tuturan BJDT yaitu faktor jenis kelamin,
pekerjaan dan usia, dikarenakan faktor pekerjaan informan menentukan gaya tutur
informan sedangkan faktor usia yang dimiliki informan memiliki efek yang
saling terkait dengan kewibawan berkomunikasi serta perbendaharaan kata yang
dimiliki oleh informan. Namun beberapa topik tersebut mampu mempengaruhi
kondisi intonasi dan HRV informan.