SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PROBLEMATIKA AKTIVITAS TUTORIAL PADA PROGRAM BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA) UNIVERSITAS NEGERI MALANG TAHUN 2016

Wildan Taufiqur Rohman

Abstrak


ABSTRAK

 

 

Rohman, Wildan Taufiqur. 2017. Problematika Aktivitas Tutorial pada Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Negeri Malang Tahun 2016. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd

 

Kata Kunci: problematika, aktivitas tutorial, program BIPA

 

Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) merupakan salah satu program Universitas Negeri Malang (UM) untuk kepentingan pembelajaran bagi penutur/pelajar asing. Program ini memiliki salah satu teknik pengajaran, yaitu teknik tutorial. Namun, pada praktiknya, muncul sejumlah problematika pada aktivitas tutorial. Kemungkinan hambatan yang dialami tutor dan pelajar menjadi beragam karena topik dan arah komunikasi lebih luas daripada aktivitas pembelajaran dalam kelas. Di samping itu, tutor juga harus mampu mencapai target aktivitas tutorial meskipun terdapat hambatan dari berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran aktivitas tutorial. Penerapan teknik tutorial sebagai proses pembelajaran dan segala problematika yang muncul merupakan hal yang bisa diamati untuk dapat menetapkan dan menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pelajar BIPA. Oleh sebab itu, problematika aktivitas tutorial menarik untuk diteliti.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan problematika aktivitas tutorial program BIPA. Selanjutnya, penelitian ini difokuskan pada problematika aspek kebahasaan dan nonkebahasaan pada aktivitas tutorial tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan  menggunakan penelitian kualitatif. Data penelitian berupa laporan tutor berupa format tutorial para tutor dan data pendukung berupa transkrip data hasil wawancara tentang aktivitas tutorial program BIPA tahun 2016. Instrumen kunci penelitian ini adalah peneliti sendiri dan dibantu oleh instrumen lainnya, yakni pedoman wawancara, panduan kodifikasi data, panduan analisis data, dan tabel analisis data. Analisis data dimulai dari tahap mengumpukan data, mengidentifikasi data, mengklasifikasikan data, analisis data, dan penyusunan laporan penelitian.

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil penelitian tentang problematika aspek kebahasaan dan nonkebahasaan pada aktivitas tutorial program BIPA tahun 2016. Pertama, poblematika aspek kebahasaan pada aktivitas tutorial meliputi: (a) pada problematika penggunaan aspek leksikal muncul ketidaktepatan penggunaan kata abstrak (bagus, banyak tahun), kata konkret (memanjat, melakukan), dan partikel tidak dalam kalimat imperatif.  Ketidaktepatan itu disebabkan penggunaan strategi komunikasi kompensatoris penerjemahan harfiah yang dilakukan mahasiswa. Pemilihan kata tersebut juga disebabkan B1 mahasiswa (kekhilafan interlingual), (b) pada problematika penggunaan aspek bentukan kata muncul kesalahbentukan (misinformation) pada penggunaan afiks (meN-i) pada menyukai, (di-an) pada ditaburan, (meN-) pada mengingat, dan (per-an) pada pertanyaan. Selain itu juga ditemukan penanggalan (omission) afiks (ber-) pada pikir, (c) pada problematika penggunaan aspek pengalimatan muncul kesalahurutan (misordering) pada kalimat ujaran mahasiswa yang menandakan terjadinya kekhilafan interferensi (interlingual) sehingga menjadi kalimat tidak cermat dan taksa (ambigu). Berdasarkan paparan diatas, problematika komunikasi pada aktivitas tutorial terjadi pada tataran penggunaan aspek leksikal, pembentukan kata, dan pengalimatan.

Kedua, problematika aspek nonkebahasaan pada aktivitas tutorial meliputi: (a) pada aspek psikologis terdapat problematika yang dipengaruhi kondisi fisik, yaitu gegar otak ringan dan kelelahan. Namun, gegar otak ringan yang dialami mahasiswa tidak sampai mengganggu kompetensi berbahasa, melainkan menjadi faktor tingginya frekuensi kelelahan. Kelelahan juga tidak selalu menurunkan kesediaan berkomunikasi/ willingness to communicate (WTC), tetapi kelelahan dapat mempengaruhi performasi berbahasa mahasiswa, yaitu tingginya frekuensi kekhilafan. Selain itu, kondisi psikologis, seperti suasana hati juga dapat mempengaruhi tingkat kesediaan berkomunikasi/ willingness to communicate (WTC) mahasiswa, (b) pada aspek sosiologis terdapat problematika yang dipengaruhi faktor dari luar mahasiswa, yaitu masalah keluarga dan pemahaman budaya B2. Tingkat pemahaman budaya B2 mempengaruhi munculnya kecemasan situasional yang berkenaan dengan peristiwa/ perbuatan tertentu, seperti kenduren dan pembagian Zakat Fitrah, dan (c) pada aspek lingkungan pembelajaran terdapat problematika yang dipengaruhi faktor, urutan pemerolehan (kosakata), Rules of speaking, batasan-batasan peer tutor, cuaca, dan peraturan program BIPA tahun 2016. Urutan pemerolehan yang dimaksud adalah muncul kesalahpahaman terhadap ragam suatu kosakata yang disebabkan kesempatan untuk berbahasa ragam informal jauh lebih luas daripada kesempatan berbahasa formal. Faktor Rules of Speaking, batasan peer tutor, peraturan program BIPA tahun 2016, dan cuaca mengakibatkan tutor: kesulitan menemukan topik pembicaraan yang menarik bagi mahasiswa, kesulitan memahamkan konsep suatu kosakata, kesulitan menjangkau objek tutorial dengan berjalan kaki, kesulitan melakukan interaksi karena situasi objek tutorial, kesulitan memenuhi tugas sebagai tutor ketika cuaca tidak mendukung (hujan).

Berdasarkan temuan penelitian tersebut ditemukan saran. Pertama, diharapkan (1) ketidaktepatan penggunaan kata abstrak perlu diperbaiki dengan cara yang sesuai karakter mahasiswa agar mahasiswa mendapatkan konsep kosakata yang sama-sama dipahami oleh mahasiswa dan tutor, (2) bahwa kesalahan dan kekhilafan yang muncul pada performansi mahasiswa/pembelajar disebabkan oleh bahasa pertama mahasiswa dan sebaiknya mendapat respon posistif dari tutor, sehingga perkembangan belajar mahasiswa semakin cepat, dan (3) pelaporan aktivitas tutorial sebaiknya memang dipatuhi karena berdasarkan laporan aktivitas tutorial dapat diketahui perkembangan bahasa mahasiswa/ pembelajar. Dari data tersebut, guru beserta pihak terkait mengetahui permasalahan dan solusi dari problematika yang muncul. Kedua, bagi calon pengajar BIPA hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi tertulis tentang problematika yang muncul pada aktivitas tutorial Program BIPA 2016, sebagai upaya untuk, menemukan solusi bagi mahasiswa untuk meningkatkan proses belajar bahasa kedua.