SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Ragam Bentuk Kata dalam Kalimat Bahasa Indonesia Siswa Sekolah Arunsat Vitaya, Pattani, Thailand Selatan

Mahmud Mushoffa

Abstrak


Salah satu cara untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menguasai bahasa adalah dengan melihat seberapa banyak variasi kosakata yang digunakan dalam berbahasa, baik itu bahasa lisan maupun bahasa tulis. Bahasa tulis merupakan salah satu media yang bagus untuk mengetahui hal itu karena dalam bahasa tulis seseorang akan bisa berbahasa secara terkendali dan terstruktur dengan lebih baik daripada bahasa lisan. Berkaitan dengan itu, peneliti menetapkan bahasa tulis berupa kalimat untuk mengetahui keragaman kosakata yang digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia siswa Sekolah Arunsat Vitaya, Pattani, Thailand Selatan.

Dalam penelitian ini, terdapat dua fokus penelitian yaitu (1) bentuk dasar dan (2) bentuk turunan yang digunakan dalam kalimat siswa Sekolah Arunsat Vitaya. Pada setiap fokus, bentuk kata diteliti dari segi kata isi dan kata fungsi. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam mengetahui ragam kata yang digunakan.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Hal ini didasarkan pada proses pengolahan data yang bersifat deskripsi dari peneliti sesuai dengan fokus penelitian. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu studi dokumentasi. Data penelitian berupa data verba dan sumber data dari kalimat dalam hasil evaluasi ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Data penelitian dianalisis dengan tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan ragam bentuk dasar dan turunan yang ditinjau dari segi isi dan fungsinya. Ragam bentuk dasar yang digunakan siswa Sekolah Arunsat Vitaya ditinjau dari segi isinya mencakup bentuk dasar verba, nomina, adjektiva, dan adverbia. Bentuk dasar verba adalah yang paling banyak di antara empat bentuk itu. Bentuk dasar nomina yaitu ada sembilan, mencakup nomina dasar yang memiliki komponen makna orang, nama institusi, buah-buahan, peralatan, makanan dan minuman, nama geografi, bacaan, waktu, dan letak. Adjektiva dasar meliputi adjektiva yang berkaitan dengan waktu, ketahanan, jumlah, bentuk fisik, dan kesungguhan. Adverbia dasar yaitu ada tiga, di antaranya adalah adverbia pendamping verba, nomina, dan adjektiva. Sementara itu, dilihat dari segi fungsinya ada konjungsi dan preposisi.

Ragam bentuk turunan yang ditinjau dari segi isi ada empat yaitu katergori verba, nomina, adverbia, dan reduplikasi.   Bentuk verba turunan ada yang berasal dari gabungan verba + afiks, nomina + afiks, dan adjektiva + afiks. Bentuk nomina turunan ada yang berasal dari nomina + afiks dan verba + afiks. Bentuk adverbia turunan hanya ada satu yaitu berupa kata ulang. Bentuk reduplikasi ada yang berasal dari reduplikasi berimbuhan yang didalamnya ada reduplikasi berimbuhan dari bentuk dasar verba dan nomina dan reduplikasi utuh yang di dalamnya ada reduplikasi utuh dari bentuk dasar verba dan nomina.

Berdasarkan hasil temuan-temuan yang diperoleh maka disarankan kepada guru untuk memberikan variasi bentuk selain bentuk verba karena hasil penelitian menunjukkan penggunaan verba lebih bervariasi daripada bentuk nomina, adjektiva, maupun adverbia. Selain itu, dibutuhkan bahan ajar khusus untuk pelajar Thailand Selatan yang berbahasa ibu bahasa Melayu dialek Thailand Selatan. Sehingga dari hasil penelitian ini, pengembang bahan ajar dapat memberikan materi lebih pada ragam variasi kosakata berdasarkan kelas kata yang beragam mengingat minimnya kosakata yang dikuasai. Untuk peneliti lanjutan bisa meneliti tentan ragam kesilapan dalam pemerolehan bahasa kedua di Sekolah Arunsat Vitaya.

orang lain. Nilai budaya dalam mantra bercocok tanam padi tersebut berfungsi melandasi, memandu, mengarahkan, menjaga, serta memberi petunjuk kepada manusia dalam berucap, bertindak, dan berperilaku.

 

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikemukakan saran kepada beberapa pihak yang dipandang relevan. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian dengan fokus yang lebih mendalam, yakni pada aspek implementasi mantra dengan mengkaji mantra dari konteks yang lebih praktis.  Kepada lembaga penelitian disarankan untuk mendokumentasikan mantra dengan merekam kemudian mentranskripsi mantra supaya sastra lisan di Indonesia tidak punah. Kepada masyarakat Indonesia disarankan untuk tetap menjaga dan melestarikan sastra lisan, khususnya mantra, dengan terus menggunakan mantra pada kegiatan tertentu dan mewariskan mantra kepada generasi selanjutnya sehingga mantra tersebut akan tetap hidup dan berkembang.