SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penyimpangan Prinsip Kerja Sama dalam Sinetron Pondok Pak Cus Edisi April 2016 di Trans TV

Putri Permata Sari

Abstrak


ABSTRAK

Sari, Putri Permata. 2017. Penyimpangan Prinsip Kerja Sama dalam Sinetron. Situasi KomediPondok Pak Cus Edisi April 2016 di Trans TV.Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Martutik, M.Pd.

Kata Kunci: penyimpangan prinsip kerja sama, maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, maksim cara

Pondok Pak Cus merupakan salah satu sinetron komedi yang ditayangkan di Trans TV pada tahun 2016. Tayangan ini bertemakan kehidupan keluarga yang dikemas menarik dengan percakapan-percakapan humor yang mengundang tawa para penontonnya. Salah satu faktor terbentuknya percakapan humor adalah faktor pragmatik. Faktor pragmatik ini mempunyai beberapa aspek seperti penyimpangan prinsip kerja sama, penyimpangan prinsip kesantunan, dan penyimpangan parameter pragmatik. Penelitian ini memfokuskan pada penyimpangan prinsip kerja sama dalam sitkom Pondok Pak Cus. Prinsip kerja sama iniyang terdiri dari 4 maksim, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penyimpangan prinsip kerja sama yang digunakan dalam percakapan antartokoh pada sinetron situasi komedi Pondok Pak Cus yang menimbulkan humor. Secara khusus terdapat subtujuan yang menyertainya, yaitu mendeskripsikan (1) penyimpangan maksim kuantitas yang menimbulkan humor, (2) penyimpangan maksim kualitas yang menimbulkan humor, (3)penyimpangan maksim relevansi yang menimbulkan humor, dan penyimpangan maksim cara yang menimbulkan humor.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian desktiptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Data penelitian berupa transkrip percakapan antartokoh pada sitkom Pondok Pak Cus yang mengandung humor. Data tersebut edisi April 2016diambil dari sumber data berupa dokumen audio visual Pondok Pak Cus edisi April 2016 yang terdiri dari 21 episode. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data adalah panduan pengumpulan data dan panduan analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik simak bebas libat cakap (SBLC) dan teknik catat. Kegiatan analisis data dimulai dari beberapa tahap, yaitu (1) reduksi data meliputi identifikasi, kodifikasi, dan klasifikasi, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan diskusi dengan teman dan mengecekan ulang dengan ketekunan pengamatan.

Berdasarkan hasil analisis data yang telah melalui proses pengabsahan data, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penyimpangan maksim kuantitas terbagi atas dua bentuk yakni informasi yang diberikan terlalu sedikit atau kurang memadai dan informasi yang diberikan terlalu banyak atau berlebihan. Penyampaian informasi yang terlalu sedikit  bertujuan untuk mengaburkan informasi sedangkan penyampaian informasi yang terlalu banyak atau berlebihan bertujuan untuk memperjelas informasi. Humor yang terkandung pada data penyimpangan maksim kuantitas menerapkan teori humor konfigurasi, teori humor salah paham, dan teori humor berlebihan.

Kedua,penyimpangan maksim kualitas terbagi menjadi dua bentuk yakni informasi yang diberikan tidak sesuai dengan kenyataan atau berbohong dan informasi yang diberikan tidak dapat dibuktikan dengan logis. Penyampaian informasi yang tidak sesuai kenyataan atau berbohong bertujuan untuk menyembunyikan atau menutupi informasi yang sebenarnya agar tujuannya tidak diketahui oleh mitra tutur dan menyelamatkan muka sedangkan penyampaian informasi yang tidak dapat dibuktikan dengan logis bertujuan untuk mengejek atau menghina mitra tutur dan menyampaikan implikatur percakapan. Humor yang terkandung pada data penyimpangan maksim kualitas menerapkan teori humor ketidaksesuaian dan konfigurasi.

Ketiga, penyimpangan maksim relevansi hanya memiliki satu bentuk yaitu informasi yang diberikan tidak relevan dengan situasi pembicaraan. Pernyimpangan maksim relevansi ini bertujuan untuk menimbulkan implikatur percakapan dan untuk bercanda. Humor yang terkandung pada data penyimpangan maksim relevansi menerapkan teori humor konfigurasi, salah paham, ketidaksesuaian, dan berlebihan.

Keempat, penyimpangan maksim cara pada penelitian ini terbagi menjadi empat yakni informasi yang diberikan tidak jelas maknanya atau kabur, informasi yang diberikan taksa atau ambigu, infomrasi yang diberikan berbelit-belit, dan informasi yang diberikan tidak runtut. Penyampaian informasi yang tidak jelas maknanya atau kabur dan penyampaian informasi yang taksa atau ambigu bertujuan untuk untuk mengaburkan informasi. Penyampaian informasi yang berbelit-belit bertujuan menutupi rasa malu dan menyelamatkan muka. Penyampaian informasi yang tidak runtut dilakukan tanpa sengaja dan tidak memiliki tujuan. Humor yang terkandung pada data penyimpangan maksim cara menerapkan teori humor salah paham dan berlebihan.

 

Penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir setiap maksim pada penyimpangan prinsip kerja samadalam sitkom Pondok Pak Cus mengalami perluasan kecuali maksim relevansi. Penyimpangan maksim kuantitas berupa pemberian informasi yang terlalu banyak atau berlebihan merupakan penyimpangan yang paling banyak terjadi pada sitkom Pondok Pak Cus sedangkan yang paling sedikit terjadi adalah penyimpangan maksim cara berupa pemberian informasi yang tidak runtut. Saran penelitian ditujukan untuk tiga pihak sebagai berikut. Pertama, disarankan kepada peneliti bahasa selanjutnya untuk menggunakan sumber data dengan konteks bahasa formal supaya dapat menyimpulkan penyebab munculnya humor secara konkret. Kedua, disarankan kepada penulis skenario sitkom untuk menjadikan penyimpangan maksim kuantitas sebagai faktor utama yang menimbulkan kelucuan dengan mengaitkan dengan teori humor salah paham karena pada sitkom yang diteliti ini paling banyak digunakan. Ketiga, disarankan kepada pengajar pragmatik untuk memerhatikan keterkaitan penyimpangan maksim dengan teori yang mendukung.