SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kemampuan Membaca Kritis Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Gurah Kediri

Doni Choiril Mahfud

Abstrak


ABSTRAK

Mahfud, D. C. 2014. Kemampuan Membaca Kritis Siswa Kelas XI SMAN 1 Gurah Kediri. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd, (II) Dra. Hj. Ida Lestari, M.Si.

Kata Kunci: membaca, membaca kritis

Membaca kritis adalah kegiatan membaca yang melibatkan proses analisis dan evaluasi secara teliti, mengamati dengan cermat dan saksama setiap ide, informasi, pernyataan atau argumen yang dikemukakan dalam teks, dan tidak serta merta menerima apa yang dikemukakan oleh penulis. Pada tingkatan ini, pembaca tidak hanya  sekadar tahu dan paham saja yang dikemukakan penulis. Pembaca sadar bahwa bahan bacaan tidak hanya berisi informasi yang tersurat yang perlu diingat saja, namun perlu dipahami, diolah, dan disikapi. Sebelum dipahami secara menyeluruh maknanya, bahan bacaan harus diolah secara kritis melalui proses berpikir tingkat tinggi.

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan membaca kritis siswa kelas XI SMA Negeri 1 Gurah, Kediri. Tujuan khusus dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan kemampuan memfokuskan, mengumpulkan informasi, mengingat, mengorganisasi, menganalisis, menggeneralisasi, mengintegrasi, dan mengevaluasi.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Data penelitian ini berupa skor kemampuan membaca kritis siswa. Skor kemampuan membaca kritis siswa diperoleh dari hasil tes tulis yang dilakukan pada siswa kelas XI SMAN 1 Gurah, Kediri.

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMAN 1 Gurah, Kediri, sedangkan sampel yang digunakan 30% dari jumlah keseluruhan siswa kelas XI, yaitu 196 siswa, dan kelas yang digunakan sebagai sampel yaitu kelas XI-MIA1 dan XI-MIA2.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca kritis siswa SMA Negeri 1 Gurah yang paling besar termasuk dalam kategori cukup mampu sebesar 46,5%, kategori kedua adalah mampu, dengan persentase 32,5%, kategori ketiga kurang mampu, dengan persentase 16,2%, kategori keempat mampu sekali, dengan persentase 4,6%. Tidak ada siswa yang masuk dalam kategori tidak mampu. Berdasarkan perolehan skor tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca kritis siswa pada umumnya termasuk dalam kategori cukup, yaitu perolehan skor siswa antara 56%--65%. Ketidakmampuan siswa dalam menjawab terdapat pada semua soal mulai kemampuan berpikir rendah, memfokuskan sampai dengan kemampuan berpikir yang tinggi, mengevaluasi.

Berdasarkan pembahasan, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi hasil jawaban siswa. Faktor-faktor tersebut adalah ketidakmampuan siswa dalam mengaitkan pokok permasalahan dari seluruh paragraf. Ketidakmampuan siswa dalam mengaitkan hubungan antar paragraf menjadi penyebab siswa kesulitan dalam menjawab soal memfokuskan, mengumpulkan informasi, dan mengingat. Selain itu, ketidakmampuan siswa dalam menyusun urutan dan menentukan klasifikasi menjadi kendala siswa dalam menjawab soal tahap mengorganisasi. Ketidakmampuan siswa dalam menentukan dan memilih kalimat yang efektif menjadi penyebab siswa kesulitan dalam menjawab soal-soal menganalisis. Ketidakmampuan siswa dalam mengaitkan data-data menjadi suatu kesimpulan utuh menjadi faktor penyebab kesalahan siswa dalam menjawab soal menggeneralisasi.

Selanjutnya, faktor yang memengaruhi kesalahan siswa dalam mengintegrasi adalah siswa tidak mampu mengombinasikan informasi baru dan informasi yang dimiliki siswa menjadi suatu konstruksi yang baik. Terakhir untuk tahap mengevaluasi, siswa masih lemah dalam memberikan argumen yang disertai data-data pendukung, sehingga penilaian siswa terhadap bacaan menjadi kurang berkualitas.    

Membaca kritis merupakan salah satu kegiatan membaca yang harus ditingkatkan di sekolah, karena siswa yang memiliki kemampuan membaca baik akan mudah mengikuti pelajaran yang lain. Bagi guru Bahasa Indonesia, disarankan tidak hanya menyajikan soal sampai tataran literal saja melainkan terdapat kegiatan menganalisis dan mengevaluasi.