SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

KEMAMPUAN MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK TEKS CERITA WAYANG BERBAHASA JAWA SISWA KELAS X SMKN 2 MALANG

Javian Inggit Restianto

Abstrak


KEMAMPUAN MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK TEKS CERITA WAYANG BERBAHASA JAWA SISWA KELAS X SMKN 2 MALANG

Javian Inggit Restianto[1]

Yuni Pratiwi[2]

Anang Santoso2

Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang 5 Malang 65145

E-mail: javianum@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa dalam memahami unsur intrinsik teks cerita wayang berbahasa Jawa siswa kelas X SMKN 2 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan mendeskripsikan skor siswa yang menjadi sampel penelitian dalam memahami unsur intrinsik teks cerita wayang berbahasa Jawa. Berdasarkan analisis data, diperoleh empat hasil penelitian. Pertama, pemahaman siswa dari segi tokoh cerita wayang berbahasa Jawa untuk indikator menyebutkan nama tokoh, menebak gambar, dan menyebutkan tokoh cerita siswa memperoleh skor yang baik, sedangkan untuk indikator menentukan dan menunjukkan watak tokoh dalam cerita siswa memperoleh skor yang masih kurang. Kedua, pemahaman siswa dari segi latar cerita wayang berbahasa Jawa untuk indikator menyebutkan latar cerita siswa memperoleh nilai yang baik, sedangkan untuk indikator menentukan latar cerita siswa memperoleh skor yang masih kurang. Ketiga, pemahamann siswa dari segi alur cerita wayang berbahasa Jawa untuk indikator menyebutkan alur cerita siswa memperoleh nilai yang baik, sedangkan untuk indikator merangkai alur cerita wayang siswa memperoleh skor yang masih sangat kurang. Keempat, pemahaman siswa dari segi tema cerita wayang berbahasa Jawa dengan membuat tema cerita masih kurang.

Kata Kunci: unsur intrinsik, teks cerita wayang, berbahasa jawa

ABSTRACT

This research aims to describe students competency in Understanding Intrinsic Elements of Javanese wayang story of 10th Graders in SMKN 2 Malang. ground, and warrant without link and patterns of argumentation in the text exposition containing ground quotes without claim. This research use quantitative descriptive approach by describing students score as research sample in understanding intrinsic elements of Javanese wayang story. The result of the research based on data analysis are as follows: First, student understanding of character, character name, picture guess, an mention figure story, the result is good, while indicator of determine an indicating of story character the result is poor. Second, students understanding about background of Javanese language of wayang story for indicator mention of background story, the result is good, while indicator determine background story, the result is still not enough. Third, student understanding plot of Javanese language of wayang story for mention plot story, the result is good, while for indicator to string up story the result is poor. Fourth, student understanding theme of Javanese language of wayang story for make theme of story, the result is still not enough.

Keywords: intrinsic elements, text, Javanese wayang stories

Wayang dalam dunia pendidikan diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi tertentu seperti ISI Solo, ISI Yogyakarta, dan ISI Bali. SMK 9 Surabaya di Jawa Timur adalah sekolah yang mengajarkan wayang pada tingkat SMA/SMK melalui jurusan pedhalangannya. Pembelajaran wayang di tingkat SMA/SMK masuk dalam mata pelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal wajib yang harus dipelajari. Pembelajaran tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 19 Tahun 2014. Tujuan pembelajaran adalah untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan yang meliputi etika, estetika, moral, spiritual dan karakter.

Kompetensi dasar dalam kurikulum muatan lokal bahasa Jawa kelas X SMA/SMK yang terkait dengan kemampuan memahami unsur intrinsik teks cerita wayang berbahasa Jawa adalah kompetensi dasar mengidentifikasi, memahami, dan menganalisis unsur intrinsik maupun ekstrinsik teks sastra klasik dan  modern secara lisan dan tulis. KD tersebut terbagi atas tiga indikator, yaitu 1) menganalisis unsur intrinsik cerita wayang/topѐng hâlâng, 2) menganalisis unsur ekstrinsik cerita wayang/topѐng hâlâng, dan 3) menganalisis relevansi isi cerita wayang/topѐng hâlâng dengan zaman sekarang.

Cerita wayang diajarkan dalam bentuk teks tulis dan teks lisan dengan bahasa lokal dari setiap daerah. Pembelajaran cerita wayang di Jawa Timur, khususnya di Malang menggunakan bahasa Jawa karena sebagian besar masyarakatnya adalah orang Jawa. Cerita wayang yang diajarkan di dunia pendidikan biasanya mengambil tema cerita yang bersifat kepahlawanan dan perjuangan seperti cerita “Laire Gathutkaca”, “Amarta Binangun”, “Petruk dadi Ratu”, dan lain sebagainya. Pemahaman terhadap cerita wayang siswa harus membaca dan menjawab beberapa pertanyaan yang ada.

Membaca adalah sebuah proses yang kompleks dan rumit (Nurhadi, 1987:13). Menurut Tarigan (2008:7) membaca merupakan suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh pesan yang disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Karena membaca dikatakan sebuah proses, maka membaca yang baik tidak hanya menggunakan gerak bibir atau mata, melainkan melibatkan berbagai macam aspek berpikir dan bernalar seperti mengingat, memahami, membedakan, membandingkan, menganalisa, dan mengorganisasi.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti, beberapa siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang berasal dari daerah di luar pulau Jawa dan belum pernah mendapatkan materi pelajaran Bahasa Jawa, tetapi memahami bahasa Jawa dalam tataran ngoko andhap dan ngoko alus. Keadaan siswa yang bersifat heterogen tersebut yang mengharuskan peneliti membuat teks cerita wayang berbahasa Jawa menggunakan Bahasa Jawa yang bisa dipahami oleh siswa. Teks cerita wayang yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk teks tulis yang bersumber dari gagrak Wayang Kulit Purwa Jawatimuran. Teks cerita wayang yang digunakan adalah cerita tentang Laire Gathutkaca.

Wayang dalam bahasa Jawa adalah bayangan (Mulyono, 1975:11) salah satu seni pertunjukan asli Indonesia yang bertahan di wilayah pulau Jawa dan Bali. Ragam cerita wayang yang paling terkenal dan populer di Indonesia adalah Wayang Purwa. Wayang Purwa adalah lambang kehidupan manusia di dunia (Hardjowirogo, 1982:11). Cerita wayang purwa seperti Mahabarata dan Ramayana lebih populer di Indonesia karena mengandung nilai-nilai moral karakter yang baik. Tokoh dan karakter wayang purwa jumlahnya lebih beragam, alur ceritanya dapat mengakomodasi secara aktual berbagai kecenderungan yang berkembang di masyarakat, dan wayang purwa selalu dijadikan pandangan hidup oleh masyarakat  (Murtiyoso dkk, 2004:2). Pengertian wayang itu sendiri berasal dari kata Ma Hyang yang berarti menuju kepada roh spiritual, dewa atau Tuhan Yang Maha Esa (Lisbijanto, 2013:1).

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kemampuan kognitif siswa dalam memahami unsur intrinsik teks cerita wayang berbahasa Jawa. Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Widi Widayat yang berjudul Kemampuan Mengapresiasi Unsur Intrinsik Dongeng pada Siswa Kelas V SDN segugus III Kecamatan Kedungkandang Malang. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengapresiasi tokoh, perwatakan tokoh, latar, alur dan amanat dongeng.

METODE

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Alasan penggunaan pendekatan tersebut karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa dalam memahami unsur intrinsik teks cerita wayang berbahasa Jawa. Data penelitian ini dideskripsikan sesuai dengan kenyataan sebenarnya (apa adanya) berupa deskripsi verba dari skor memahami unsur intrinsik teks cerita wayang berbahasa jawa.

Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMKN 2 Malang. Jumlah total siswa kelas X SMKN 2 Malang adalah 612 siswa yang terbagi atas 17 kelas. Setiap kelas terdapat sekitar 36 siswa. Penelitian ini mengambil sampel 17,65% dari populasi yang berjumlah 612 siswa. Jumlah sampel yang diambil 108 siswa yang terbagi dalam 3 kelas, setiap kelas terdiri atas 36 siswa. Pengambilan sampel penelitian ini adalah sampel acak kelas. Kelas yang diambil adalah kelas X KPR I, X KPR II, dan X KPR III. Pengambilan sampel acak kelas tersebut didasarkan atas kondisi atau karakteristik siswa yang bersifat homogen, yaitu tidak ada kelas yang bersifat unggulan, tidak berdasarkan nilai, dan seluruh siswa mendapat materi pelajaran yang sama dari guru.

Data penelitian ini adalah skor siswa dalam menjawab soal dalam tes memahami unsur intrinsik cerita wayang berbahasa Jawa siswa kelas X SMKN 2 Malang. Data tersebut terbagi atas empat data, yaitu 1) skor kemampuan siswa dalam memahami tokoh cerita wayang berbahasa Jawa, 2) skor kemampuan siswa dalam memahami latar wayang berbahasa Jawa, 3) skor kemampuan siswa dalam memahami alur cerita wayang berbahasa Jawa, dan 4) skor kemampuan siswa dalam memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa.

Prosedur pengumpulan dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis, yaitu (1) teknik pengumpulan data, dan (2) Instrumen penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes soal latihan bahasa objektif dan subjektif. Tes bahasa objektif dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan pada tes semata-mata dinyatakan dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan. Tes bahasa subjektif dilakukan dengan menyebutkan atau menjelaskan berupa uraian hal yang sudah dipelajari. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah rubrik penilaian. Rubrik penilaian ini terdiri atas variabel, sub variabel, indikator, dan skor.Pengelompokan soal dalam penelitian ini didasarkan atas ranah kognitif yang terdiri atas ranah pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.

Analisis data dalam penelitian ini terbagi atas tiga tahap.enskoran instrumen terdiri atas 26 soal tes bahasa. 26 soal tersebut terbagi dalam dua bentuk soal, tes bahasa objektif dan tes bahasa subjektif. Bentuk tes bahasa objektif adalah menjawab pertanyaan benar-salah, dan menjodohkan. Bentuk soal tes bahasa subjektif adalah melengkapi isian, jawaban singkat, dan soal uraian. 12 soal digunakan untuk menilai kemampuan memahami tokoh. 8 soal untuk menilai kemampuan memahami latar. 5 soal untuk menilai kemampuan memahami alur cerita, dan 1 soal untuk menilai kemampuan memahami tema cerita. Data yang masih berupa skor mentah diolah dengan menggunakan penilaian acuan patokan (PAP) skala lima. Skala lima adalah suatu pembagian tingkatan yang terbagi menjadi lima kategori. Masing-masing tingkatan dinyatakan dengan huruf A,B,C,D, dan E.

HASIL

Pada bagian ini dikemukakan hasil penelitian yang terbagi atas emapat data, yaitu 1) kemampuan siswa dalam memahami tokoh cerita wayang berbahasa Jawa, 2) kemampuan siswa dalam memahami latar wayang berbahasa Jawa, 3) kemampuan siswa dalam memahami alur cerita wayang berbahasa Jawa, dan 4) kemampuan siswa dalam memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa.

Pertama, Pada aspek pemahaman tokoh siswa sudah mampu menyebutkan dan menebak gambar tokoh cerita. Hal ini dikarenakan menyebut dan menebak adalah kemampuan pemahaman literal. Siswa hanya dituntut untuk menghafal tokoh yang ada dalam cerita. Sedangkan untuk kemampuan menyebutkan jenis, menentukan watak, dan menunjukkan bukti watak tokoh dalam cerita sebagian besar siswa belum mampu. Hal ini dikarenakan siswa harus membaca cerita wayang berbahasa Jawa dengan lebih intensif lagi. Selain itu, tidak semua siswa mengusai bahasa Jawa dengan baik yang menjadi faktor penentu pemahaman siswa dalam memahami cerita.

Kedua, pada aspek pemahaman latar latar cerita wayang berbahasa jawa Jawa diukur dengan soal sebanyak 8 soal. 3 soal dengan jenis pertanyaan menjodohkan dan 4 soal dengan jenis pertanyaan menentukan latar dalam cerita. Hasil analisis ditemukan bahwa seluruh siswa mampu menjawab dua jenis pertanyaan tersebut. Pada aspek pemahaman latar siswa sudah mampu menentukan latar tempat dalam cerita. Hal ini dikarenakan aspek latar yang dimuncukan dalam cerita adalah aspek tempat. Pemahaman tempat dalam latar cerita merupakan pemahaman yang termudah dibandingkan dengan kedua aspek yang lain, yaitu waktu dan suasana.

Ketiga, kemampuan memahami alur cerita wayang berbahasa Jawa diukur dengan jenis soal menjawab singkat alur cerita dan merangkai alur cerita. Hasil analisis ditemukan ada siswa yang sudah mampu memahami alur dengan baik dan ada yang masih belum. Siswa yang sudah bisa bisa memahami alur mampu menjawab pertanyaan dengan baik yaitu menjawab pertanyaan secara tepat dengan merangkai kalimat bahasa Jawa yang mereka kuasai. Siswa yang masil belum bisa memahami alur cerita dalam menjawab pertanyaan dengan menyalin kalimat yang ada dalam cerita untuk menjawab pertanyaan.

Keempat, Faktor jenis soal, kemampuan memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa diukur dengan membuat tema cerita. Sebagian besar siswa sudah mampu membuat tema cerita. Siswa yang sudah mampu, membuat tema cerita dengan kalimat bahasa Jawa yang mereka kuasai. Siswa yang masih belum mampu, membuat tema dengan mengambil kata-kata yang ada dalam cerita dan mengungkapannya dalam bahasa Indonesia bukan bahasa Jawa.

Pemahaman siswa terhadap teks cerita wayang berbahasa Jawa ditentukan oleh faktor berikut, jenis soal, asal daerah, dan pengetahuan siswa tentang cerita wayang yang diperoleh melalui sekolah dan media masa. Faktor jenis soal, kemampuan memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa diukur dengan membuat tema cerita. Sebagian besar siswa sudah mampu membuat tema cerita. Siswa yang sudah mampu, membuat tema cerita dengan kalimat bahasa Jawa yang mereka kuasai. Siswa yang masih belum mampu, membuat tema dengan mengambil kata-kata yang ada dalam cerita dan mengungkapannya dalam bahasa Indonesia bukan bahasa Jawa. Faktor asal daerah, siswa kelas X KPR 1 berasal tidak semua berasal dari daerah Jawa. Asal daerah dengan budaya dan bahasa yang berbeda turut menentukan siswa dalam memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa. Siswa yang berasal dari lingkungan masyarakat Jawa lebih mampu dalam menentukan tema cerita wayang berbahasa Jawa karena paham dengan bahasa dan istilah dalam cerita. Sedangkan siswa yang berasal dari luar daerah Jawa masih belum mampu. Hal ini dikarenakan siswa tidak memahami bahasa dan istilah dalam cerita wayang berbahasa Jawa tersebut. Faktor siswa pernah mengetahui cerita wayang melalui pendidikan sebelumnya dan melalui media televisi juga ikut menentukan pemahaman terhadap latar cerita wayang berbahasa Jawa. Siswa yang sudah menerima materi tentang cerita wayang di SD dan SMP tersebut lebih baik dalam memahami tokoh cerita, sedangkan siswa yang tidak menerima materi tersebut masih belum mampu memahami tokoh dengan baik. Hal lain yang juga ikut menentukan pemahaman siswa tersebut adalah siswa pernah menyaksikan cerita wayang tentang Mahabarata, Ramayana, dan Sakuntala melalui media televisi.

PEMBAHASAN

Pada bagian ini dikemukakan pembahasan terkait 1) kemampuan siswa dalam memahami tokoh cerita wayang berbahasa Jawa, 2) kemampuan siswa dalam memahami latar wayang berbahasa Jawa, 3) kemampuan siswa dalam memahami alur cerita wayang berbahasa Jawa, dan 4) kemampuan siswa dalam memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa. Keempat butir pembahasan dipaparkan sebagai berikut.

Kemampuan Memahami Tokoh Cerita Wayang Berbahasa Jawa Kemampuan memahami tokoh cerita wayang berbahasa Jawa dibagi menjadi lima indikator, yaitu kemampuan menyebutkan tokoh cerita, menebak gambar tokoh cerita, menyebutkan jenis tokoh cerita, menentukan watak tokoh cerita, dan menunjukkan bukti watak tokoh dalam cerita. Menurut Siswanto (2013:129) Tokoh dalam cerita selalu mempunyai sifat, sikap, tingkah laku atau watak-watak tertentu. Pemberian watak pada tokoh dalam suatu karya oleh sastrawan disebut perwatakan, sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh disebut penokohan.

Kemampuan siswa dalam memahami tokoh yang terdiri atas aspek menyebutkan, menebak gambar, menyebutkan jenis, menentukan perwatakan, dan menunjukkan bukti perwatakan tokoh cerita wayang berbahasa Jawa sebagian besar siswa sudah memahami dan sebagian lagi belum. Pemahaman siswa dalam memahami latar cerita wayang berbahasa Jawa tersebut ditentukan oleh beberapa faktor berikut ini. Faktor jenis soal, asal daerah, dan pengetahuan cerita wayang melalui pendidikan sekolah dan media masa.

Pada indikator menyebutkan tokoh dan menebak gambar tokoh cerita wayang berbahasa Jawa sebagian besar siswa memperoleh hasil yang baik. Hal ini karena menyebutkan dan menebak gambar tokoh merupakan tingkat pemahaman literal. Tingkat pemahaman literal tersebut hanya menuntut siswa untuk mengingat dan menghafal informasi yang ada dalam bacaan terkait tokoh cerita.

Pada indikator menyebutkan jenis tokoh, menentukan watak tokoh, dan menunjukkan bukti watak tokoh dalam cerita wayang berbahasa Jawa sebagian besar siswa belum mampu memperoleh hasil yang baik. Hal ini karena menyebutkan jenis, menentukan watak, dan menunjukkan bukti watak tokoh dalam cerita merupakan tingkat pemahaman inferensial dan kritis. Siswa harus menganalisis dan mengevaluasi cerita untuk dapat membuat jawaban yang tepat terkait jenis, watak, dan bukti perwatakan tokoh dalam cerita. Faktor lain yang menentukan hasil siswa belum maksimal adalah bahasa cerita wayang menggunakan bahasa Jawa ‘dimana’ bahasa tersebut menuntut daya konsentrasi siswa untuk lebih dalam membaca dan memahami cerita.

Siswa yang berasal dari daerah Jawa dengan bahasa dan budaya yang sama lebih baik dalam memahami cerita wayang berbahasa Jawa. Hal ini karena siswa menguasai bahasa yang ada dalam cerita dan dapat berkonsentrasi dalam memahami cerita. Faktor lain yang mendukung siswa juga pernah mengetahui cerita wayang berbahasa Jawa melalui pendidikan sebelumnya yakni jenjang SD dan SMP.  Selain itu, mereka juga mengetahui cerita wayang melalui media elektronik, cerita wayang tentang Mahabarata dan Ramayana yang mereka saksikan melalui televisi.

Siswa yang berasal dari luar daerah Jawa dengan bahasa dan budaya yang berbeda masih belum mampu memahami cerita wayang berbahasa Jawa dengan baik. Hal ini karena latar bahasa dan budaya yang mereka pelajari sebelumnya berbeda. Siswa juga belum pernah mengetahui tentang cerita wayang berbahasa Jawa pada jenjang pendidikan sebelumnya yakni jenjang SD dan SMP. Meskipun siswa sudah pernah mengetahui cerita wayang melalui media televisi yaitu Mahabarata dan Ramayana, tetapi cerita itu tidak menggunakan bahasa Jawa melainkan bahasa Indonesia.

Kemampuan Memahami Latar Cerita Wayang Berbahasa Jawa. Kemampuan memahami latar cerita wayang berbahasa Jawa dibagi menjadi dua indikator, yaitu kemampuan menyebutkan latar dan menentukan latar dalam cerita. Latar adalah gambaran tentang waktu, tempat, dan suasana yang dialami tokoh (Siswanto, 2013:135). Latar secara terperinci adalah penggambaran tentang lokasi geografis, termasuk topografi, pemandangan, sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruangan, waktu berlakunya suatu peristiwa, masa sejarahnya, musim terjadinya, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional para tokoh.

Latar cerita wayang berbahasa Jawa tersebut hanya belum keseluruhan aspek latar atas tempat, waktu, dan suasana. Latar cerita wayang berbahasa Jawa tersebut hanya memunculkan aspek tempat saja. Hal ini karena bahasa dan ungkapan yang digunakan dalam cerita wayang berbahasa Jawa untuk menggambarkan waktu dan suasana kategori bahasa dengan tataran kesulitan yang tinggi. Siswa tidak mampu bila harus menganalisis bahasa dan ungkapan dalam tataran bahasa Jawa yang tinggi tersebut.

Kemampuan siswa dalam memahami latar yang terdiri atas aspek menyebutkan latar cerita dan menentukan latar cerita wayang berbahasa Jawa sebagian besar siswa sudah memahami. Pemahaman siswa dalam memahami latar cerita wayang berbahasa Jawa tersebut ditentukan oleh beberapa faktor berikut ini. Faktor jenis soal, asal daerah, dan pengetahuan cerita wayang melalui pendidikan sekolah dan media masa.

Pada indikator menyebutkan dan menentukan latar cerita wayang berbahasa Jawa dengan bentuk soal menjodohkan dan menganalisi sebagian besar siswa memperoleh hasil yang baik. Hal ini karena menyebutkan latar merupakan tingkat pemahaman literal. Tingkat pemahaman literal tersebut hanya menuntut siswa untuk mengingat dan menghafal informasi yang ada dalam bacaan terkait tokoh cerita. Faktor lain yang mendukung tingkat keberhasilan siswa dalam menyebutkan dan memahami latar cerita wayang tersebut karena hanya aspek tempat yang dimunculkan. Penggambaran tempat merupakan aspek termudah dalam latar cerita.

Siswa yang berasal dari daerah Jawa dengan bahasa dan budaya yang sama lebih baik dalam memahami cerita wayang berbahasa Jawa. Hal ini karena siswa menguasai bahasa yang ada dalam cerita dan dapat berkonsentrasi dalam memahami cerita. Siswa juga pernah mengetahui cerita wayang berbahasa Jawa melalui pendidikan sebelumnya, yaitu jenjang SD dan SMP.  Selain itu mereka juga mengetahui cerita wayang melalui media elektronik, cerita wayang tentang Mahabarata dan Ramayana yang mereka saksikan melalui televisi.

Siswa yang berasal dari luar daerah Jawa dengan bahasa dan budaya yang berbeda masih belum mampu memahami cerita wayang berbahasa Jawa dengan baik. Hal ini karena latar bahasa dan budaya yang dipelajari oleh siswa sebelumnya berbeda. Siswa juga belum pernah mengetahui tentang cerita wayang berbahasa Jawa pada jenjang pendidikan sebelumnya yakni jenjang SD dan SMP. Meskipun siswa sudah pernah mengetahui cerita wayang melalui media televisi yaitu Mahabarata dan ramayana tetapi cerita itu tidak menggunakan bahasa Jawa melainkan bahasa Indonesia.

Kemampuan Memahami Alur Cerita Wayang Berbahasa Jawa. Kemampuan memahami alur cerita wayang berbahasa Jawa dibagi menjadi dua indikator, yaitu kemampuan menyebutkan alur dan merangkai alur cerita. Alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan saksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui rumitan ke arah klimaks dan selesaian (Siswanto, 2013:144). Alur secara terperinci adalah rangkaian dari keseluruhan cerita yang terdiri atas pengenalan, konflik, komplikasi, klimaks, krisis, dan leraian. Alur cerita wayang tersebut sudah memunculkan keseluruhan aspek alur cerita yang terdiri atas pengenalan, konflik, komplikasi, klimaks, krisis, dan leraian.

Kemampuan siswa dalam memahami alur yang terdiri atas aspek menjawab singkat pertanyaan terkait alur cerita dan merangkai alur cerita wayang berbahasa Jawa sebagian besar siswa belum mampu. Pemahaman siswa dalam memahami alur cerita wayang berbahasa Jawa tersebut ditentukan oleh beberapa faktor berikut ini. Faktor jenis soal, faktor asal daerah, dan pengetahuan cerita wayang di sekolah dan media masa.

Pada indikator menyebutkan alur cerita wayang berbahasa Jawa dengan bentuk soal menjawab pertanyaan singkat terkait cerita besar siswa ada yang sudah mampu dan ada yang masih belum mampu. Siswa yang mampu menjawab dengan tepat pertanyaan singkat terkait alur cerita membuat kesimpulan jawaban berdasarkan pemikiran sendiri dan mengungkapkan dengan bahasa Jawa yang dikuasai. Sedangkan siswa yang masih belum mampu, menjawab pertanyaan dengan cara menyalin kalimat yang ada dalam cerita karena siswa tersebut belum mampu membuat kesimpulan jawaban menggunakan bahasa Jawa.

Pada indikator menentukan alur cerita wayang berbahasa Jawa dengan bentuk soal merangkai alu cerita sebagian besar siswa belum mampu. Hal ini karena siswa harus mengevaluasi cerita untuk memilah-milah setiap bagian dalam cerita kemudian merangkainya agar sesuai dengan cerita. Sebagian besar siswa terkecoh saat merangkai alur cerita.

Siswa yang berasal dari daerah Jawa dengan bahasa dan budaya yang sama lebih baik dalam memahami cerita wayang berbahasa Jawa. Karena siswa menguasai bahasa yang ada dalam cerita dan dapat berkonsentrasi dalam memahami cerita. Siswa juga pernah mengetahui cerita wayang berbahasa Jawa melalui pendidikan sebelumnya, yaitu jenjang SD dan SMP.  Selain itu mereka juga mengetahui cerita wayang melalui media elektronik, cerita wayang tentang Mahabarata dan Ramayana yang mereka saksikan melalui televisi.

Siswa yang berasal dari luar daerah Jawa dengan bahasa dan budaya yang berbeda masih belum mampu memahami cerita wayang berbahasa Jawa dengan baik. Karena latar bahasa dan budaya yang mereka pelajari sebelumnya berbeda. Siswa juga belum pernah mengetahui tentang cerita wayang berbahasa Jawa pada jenjang pendidikan sebelumnya yakni jenjang SD dan SMP. Meskipun siswa sudah pernah mengetahui cerita wayang melalui media televisi yaitu Mahabarata dan ramayana tetapi cerita itu tidak menggunakan Bahasa Jawa melainkan Bahasa Indonesia.

Kemampuan Memahami Tema Cerita Wayang Berbahasa Jawa. Kemampuan memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa ditentukan dengan 1 indikator yaitu membuat tema cerita. Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita (Siswanto, 2013:146). Tema secara terperinci adalah gagasan, ide, atau pilihan utama yang menjadi dasar suatu karya sastra. Pembaca baru dapat memahami tema setelah membaca keseluruhan cerita dan menyimpulkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kemampuan siswa dalam memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa, yaitu dengan membuat tema berdasarkan cerita sebagian besar siswa sudah memahami dan sebagian lagi belum. Faktor pemahaman siswa tersebut ditentukan oleh jenis soal, asal daerah, dan pengetahuan cerita wayang di sekolah dan media masa. Faktor-faktor tersebut dijelaskan sebagai berikut.

Pada indikator memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa dengan bentuk soal membuat tema terkait cerita sebagian besar siswa ada yang mampu dan sebagian lagi belum. Hal ini karena siswa harus mengevaluasi, membuat pertimbangan berdasarkan cerita, dan membuat kesimpulan dari seluruh cerita. Siswa yang sudah mampu, membuat tema cerita dengan memasukkan ungkapan atau pitutur orang Jawa yang baik yaitu jadi orang tidak boleh Adigang, Adigung, dan Adiguna. Siswa yang masih belum mampu, membuat tema dengan mengambil kata-kata yang ada dalam cerita dan mengungkapan dalam Bahasa Indonesia bukan bahasa Jawa.

Siswa yang berasal dari daerah Jawa dengan bahasa dan budaya yang sama lebih baik dalam memahami cerita wayang berbahasa Jawa. Hal ini karena siswa menguasai bahasa yang ada dalam cerita dan dapat berkonsentrasi dalam memahami cerita. Siswa juga pernah mengetahui cerita wayang berbahasa Jawa melalui pendidikan sebelumnya, yaitu jenjang SD dan SMP.  Selain itu mereka juga mengetahui cerita wayang melalui media elektronik, cerita wayang tentang Mahabarata dan Ramayana yang mereka saksikan melalui televisi.

Siswa yang berasal dari luar daerah Jawa dengan bahasa dan budaya yang berbeda masih belum mampu memahami cerita wayang berbahasa Jawa dengan baik. Hal ini karena latar bahasa dan budaya yang mereka pelajari sebelumnya berbeda. Siswa juga belum pernah mengetahui tentang cerita wayang berbahasa Jawa pada jenjang pendidikan sebelumnya yakni jenjang SD dan SMP. Meskipun siswa sudah pernah mengetahui cerita wayang melalui media televisi yaitu Mahabarata dan ramayana tetapi cerita itu tidak menggunakan Bahasa Jawa melainkan Bahasa Indonesia.

SIMPULAN DAN SARAN

Pada bagian ini dikemukakan simpulan dan saran berdasarkan penelitian. Kedua butir tersebut dikemukakan sebagai berikut.

Simpulan

Simpulan penelitian ini terdiri atas 4 aspek berdasarkan rumusan masalah, yaitu (1) kemampuan memahami tokoh cerita wayang berbahasa Jawa, (2) kemampuan memahami latar cerita wayang berbahasa Jawa, (3) kemampuan memahami alur cerita wayang berbahasa Jawa, dan (4) kemampuan memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa. Simpulan penelitian ini dipaparkan sebagai berikut.

Pada aspek pemahaman tokoh siswa sudah mampu menyebutkan dan menebak gambar tokoh cerita. Hal ini karena menyebut dan menebak adalah kemampuan pemahaman literal. Siswa hanya dituntut untuk menghafal tokoh yang ada dalam cerita. Sedangkan untuk kemampuan menyebutkan jenis, menentukan watak, dan menunjukkan bukti watak tokoh dalam cerita sebagian besar siswa belum mampu. Hal ini karena siswa harus membaca cerita wayang berbahasa Jawa dengan lebih intensif lagi. Selain itu, tidak semua siswa mengusai bahasa Jawa dengan baik yang menjadi faktor penentu pemahaman siswa dalam memahami cerita.

Pada aspek pemahaman latar siswa sudah mampu menentukan latar tempat dalam cerita. Hal ini karena aspek latar yang dimuncukan dalam cerita adalah aspek tempat. Pemahaman tempat dalam latar cerita merupakan pemahaman yang termudah dibandingkan dengan kedua aspek yang lain, yaitu waktu dan suasana. Waktu dan suasana tidak dimunculkan karena penggambaran waktu dan suasana dalam cerita wayang berada dalam tataran bahasa Jawa yang tinggi dan siswa belum mampu untuk memahami bahasa Jawa tersebut.

 

Pada aspek pemahaman alur sebagian besar siswa masih belum mampu. Hal ini karena siswa harus membaca secara intensif cerita wayang berbahasa Jawa ‘dimana’ penguasaan bahasa Jawa setiap siswa berbeda-beda. Siswa yang mampu menjawab pertanyaan berdasarkan hasil simpulan pemikiran mereka sendiri dan disampaikan dengan menggunakan bahasa Jawa yang mereka kuasai. Siswa yang masih belum mampu menjawab pertanyaan dengan cara menyalin kalimat yang berada dalam cerita wayang berbahasa Jawa, sebagian kalimat yang disalin siswa tersebut sudah ada yang sesuai dengan cerita dan sebagian lagi tidak sesuai dengan cerita.