SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kesalahan Afiksasi Bahasa Jawa dengan Huruf Latin dalam Cerkak Karya Siswa Kelas XII SMKN 3 Malang

Wahyu Yunitasari

Abstrak


ABSTRAK

 

Yunitasari, Wahyu Ika. 2016. Kesalahan Afiksasi Bahasa Jawa dengan Huruf Latin dalam Cerkak Karya Siswa Kelas XII SMKN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd, (II) Dr. Sunaryo H.S., S.H, M.Hum.

 

Kata Kunci : kesalahan afiksasi, afiksasi bahasa Jawadengan huruf latin

 

Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang masih digunakan sebagai alat komunikasi lisan maupun tulisan dan merupakan bahasa pertama atau bahasa ibu yang digunakan oleh sebagian masyarakat Jawa. Ada empat macam afiks dalam bahasa Jawa, yaitu: (1) prefiks atau ater-ater, (2) sufiks atau panambang, (3) infiks atau seselan, dan (4) konfiks. Selain itu, pada bentuk konfiks tertentu ada yang dikatakan sebagai afiks gabung (imbuhan sesarengan). Dikatakan sebagai afiks gabung karena jika salah satu morfem dihilangkan kata tersebut tetap bermakna. Afiksasidalam bahasa Jawa memiliki keanekaragaman dan lebih rumit. Jika penulisannya salah, maka akan menimbulkan perbedaan persepsi makna. Oleh sebab itu, untuk meminimalkan kesalahan tersebut perlu diadakan penelitian kesalahan afiksasi bahasa Jawa melaluitulisan siswa berupa cerkak (cerita cekak) agar tidak terjadi kesalahan yang berkelanjutan.

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kesalahan afiksasi bahasa Jawa dengan huruf latin melalui: (1) prefiks N-; ka-; dan ke-, (2) sufiks -an dan–i, serta (3) konfiks ka-an; ke-en; pa-an; N-ake; N-i;dan di-i pada cerkak karya siswa kelas XII SMKN 3 Malang.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan data yang diperoleh dari lokasi penelitian. Sumber penelitian ini yaitu cerkak hasil karya siswa kelas XII SMKN 3 Malang dan pengambilan datanya dilakukan pada 2 November-10 Desember 2015. Instrumen untuk pengambilan data yaitu berupa soal perintah untuk memproduksi cerkak, dan tabel analisis yang digunakan untuk mempermudah pengumpulan; pengklasifikasian; dan penganalisisan data. Melalui instrumen tersebut diperoleh data penelitian kesalahan afiksasi bahasa Jawa dengan huruf latin melalui prefiks N-; ka-; dan ke-, sufiks -an dan-i, konfiks ka-an; ke-en;pa-an;N-ake; N-i;dan di-i pada cerkak karya siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ditemukan 10 data kesalahan afiksasi bahasa Jawa dengan huruf latin melalui prefiks N-; ka-; dan ke-dengan bentuk dasar{rasa}, {amba}, {renggut}, {rangkul}, {trima}, {obong}, {endheg}, dan {liwat}, (2) ditemukan 23 data kesalahan afiksasi bahasa Jawa dengan huruf latin melalui sufiks -an dan-i dengan bentuk dasar {lagu}, {guyu}, {turu}, {kali}, {pangku}, {ronce}, {minggu}, {wedi}, {blanja}, {lucu}, {semaya}, {sinau}, {impi}, {ombe}, {saji}, {tresna}, {iri}, {dadi}, {janji}, {klambi}, {ngerti}, {temu}, dan {melu}, (3) ditemukan 42 data kesalahan afiksasi  bahasa Jawa dengan huruf latin melalui konfiks {ka-/-an}, {ke-/-en}, {pa-/-an}, {N-/-ake}, {N-/-i}, dan {di-/-i} dengan tiga puluh sembilan bentuk dasar {dadi}, {eling}, {temu}, {apus}, {isin}, {rungu}, {angel}, {ilang}, {teka}, {begja}, {awan}, {omah}, {adus}, {rasa}, {raya}, {langkah}, {lali}, {iber}, {eling}, {crita}, {slamet}, {tari}, {ambu}, {lirik}, {iri}, {sapu}, {tuku}, {rewang}, {liwat}, {laku}, {buru}, {tunggu}, {temu}, {lebu}, {lapis}, {racun}, {melu}, {rungu}, dan {isi}. Kesalahan tersebut terjadi karena: (1) kecenderungan siswa menambahkan vokal /e/ antara imbuhan dan bentuk dasar pada awalan N-, (2) kesalahan penggunaan afiks, (3) siswa belum bisa membedakan penggunaan prefiks ka- dan ke-, (4) pada proses pengimbuhan yang dilakukan tidak memperhatikan bentuk dasar, (5) penggunaan bentuk dasar yang mengarah pada kata bahasa Indonesia, (6) proses afiksasi yang kurang tepat, serta (7) pemilihan dan penggunaan bentuk dasar yang salah.

Saran bagipenyusunsilabusdanbahan ajar Bahasa Jawa, sebaiknya lebih perhatian dalam menentukan distribusi materi yang seharusnya diajarkan agar susunan materi sesuai dengan tingkatannya. Misalnya pada materi memproduksi cerkak,  seharusnya sebelum memasuki materi itu diberikan sedikit materi tentang bentukan kata. Hal itu dapat digunakan siswa sebagai bekal dalam mengolah kata ketika memproduksi cerkak. Bagi guru Bahasa Jawa sebaiknya lebih menekankan penggunaan bahasa Jawa dalam pembelajaran dengan menggunakan bahasa yang lebih variatif untuk memancing dan menambah perbendaharaan kata bahasa Jawa yang dimiliki siswa. Selain itu juga lebih sering melakukan latihan atau pemberian tugas kepada siswa mengenai kata-kata dalam bahasa Jawa. Bagi peneliti selanjutnya apabila ingin mengadakan penelitian sejenis, sebaiknya penelitian lanjutan dilakukan dengan subjek penelitian siswa kelas X maupun XI, objek penelitian teks-teks lainnya selain cerkak, ataupun juga memperluas fokus penelitian yaitu reduplikasi dan komposisi yang nantinya bermanfaat untuk pengayaan referensi pengajaran Bahasa Jawa di SMKN 3 Malang.