SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Afiks Bahasa Jawa Dialek Malang

Vindy Radifani Amalia

Abstrak


ABSTRAK

Amalia, Vindy Radifani. 2016. Afiks Bahasa Jawa Dialek Malang. Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra Indondesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. pembimbing: (I) Dr. Sunaryo HS., S.H. M.Hum. (II) Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd.

Kata Kunci: afiks, bahasa Jawa, dialek Malang

Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur dengan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia yang mengakibatkan masuknya bahasa yang berbeda-beda pula. Bahasa asli yang digunakan masyarakat kota Malang adalah bahasa Jawa dialek Malang (selanjutnya disebut BJDM). BJDM memiliki kekhasan pada stuktur katanya, sehingga ilmu bahasa yang digunakan adalah morfologi. Sebagai varian bahasa Jawa dialek Jawa Timur, BJDM bersistem aglutinasi, sehingga proses morfologis yang digunakan adalah proses afiksasi. Proses afiksasi adalah pelekatan afiks pada bentuk dasar untuk membentuk kata baru. Afiks atau imbuhan adalah salah satu bentuk morfem terikat yang menjadi komponen utama proses afiksasi, sehingga afiks inilah yang dikaji dalam penelitian ini. Teori afiks yang digunakan adalah afiks menurut Alwi, Muslich, dan Wedhawati. Menurut keduanya, afiks terdiri atas empat jenis, yaitu prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), dan konfiks (gabungan afiks) yang memiliki bentuk dan maknanya masing-masing. Oleh karena hal tersebut, fokus penelitian ini adalah jenis afiks, bentuk afiks, dan makna afiks dalam BJDM.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Data penelitian ini berupa kalimat (data verbal) yang ditranskripsikan ke dalam korpus data. Data verbal tersebut berdasar instrumen informan yang pengumpulan datanya melalui pengamatan dan wawancara. Dalam pengumpulan data di lapangan, peneliti hadir dan berperan sebagai partisipan aktif dalam proses penelitian di lima kecamatan di kota Malang. Lima kecamatan tersebut adalah kecamatan Klojen, kecamatan Kedungkandang, kecamatan Blimbing, kecamatan Lowokwaru, dan kecamatan Sukun. Metode yang digunakan dalam pengambilan data adalah metode cakap yang menggunakan teknik pancing, rekam, dan catat. Sedangkan sumber datanya adalah masyarakat penutur asli BJDM yang sesuai dengan kriteria-kriteria informan menurut Soedjito dan Mahsun. Kegiatan analisis data dimulai setelah data ditranskip. Data yang telah ditranskip kemudian direduksi, disajikan, lalu ditarik kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi data dan diskusi teman sejawat.

Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat tiga jenis afiks dalam BJDM. Tiga jenis afiks tersebut adalah prefiks (awalan), sufiks (akhiran), dan konfiks (gabungan afiks). Berdasarkan tiga jenis afiks tersebut, ditemukan bentuk-bentuk afiksnya. Bentuk prefiks ditemukan empat  bentuk, yaitu {N-}, {me-}, {di-}, dan {ke-}. Bentuk sufiks ditemukan lima bentuk, yaitu {-a}, {-na}, {-en}, {-an}, dan {-e}. Sedangkan bentuk konfiks, ditemukan enam bentuk, yaitu {N-/-i}, {dipeN-/-i}, {peN-/-an}, {ke-/-an}, {-el-/-an}, dan {-el-/-en}. Makna afiks dalam BJDM akan disimpulkan berdasarkan bentuk afiks. (a) Pelekatan prefiks pada bentuk dasar dapat menimbulkan makna sebagai berikut: ‘menjadi yang dinyatakan pada bentuk dasar’; ‘melakukan tindakan yang dinyatakan pada bentuk dasar’; dalam keadaan yang disebut pada kata dasar’; ‘melakukan pekerjaan menggunakan apa yang disebut pada bentuk dasar’; ‘(subjek) dikenai tindakan yang dinyatakan pada bentuk dasar’; ‘sudah di…’; kemungkinan di…’; dan ‘ketidaksengajaan’. (b) Pelekatan sufiks pada bentuk dasar dapat menimbulkan makna sebagai berikut: ‘perintah untuk bertindak atau bersikap sesuai dengan yang disebut pada bentuk dasar sehingga membuat (objek) melakukan tindakan seperti bentuk dasar’; ‘perintah terhadap lawan tutur untuk melakukan sesuatu yang disebut pada bentuk dasar sehingga menyebabkan (…) melakukan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar untuk orang lain’; tempat suatu tindakan yang tersebut pada bentuk dasarnya’; dan  ‘bentuk dasar yang dimiliki oleh …’. Serta (c) pelekatan konfiks pada bentuk dasar dapat menimbulkan makna sebagai berikut: ‘menyebabkan yang tersebut pada bentuk dasar’; ‘(subjek) dijadikan sasaran tindakan yang dinyatakan oleh bentuk dasar’; ‘hal atau proses atau hasil’; ‘peristiwa yang terjadi dengan tidak sengaja’; dan ‘perbuatan atau tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan berulang-ulang’.

Berdasarkan hasil penelitian disampaikan saran-saran sebagai berikut. Pertama, bagi masyarakat Malang yang diharapkan menggunakan dan mengembangkan BJDM, agar BJDM juga dikenal sebagai bahasa Jawa yang khas dan tidak mengalami kepunahan bahasa. Kedua, ditujukan kepada calon peneliti selanjutnya yang diharapkan untuk meneliti lebih lanjut afiks BJDM agar tidak berhenti di sini, terutama mengenai fungsi afiks BJDM. Ditambah pula mengenai proses morfologis dalam BJDM, seperti proses afiksasi, reduplikasi, atau komposisi.