SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Makna Simbolis Unsur Verbal Wayang Topeng Malang pada Pergelaran Lakon “Jenggolo Mbangun Candi” di Sanggar Asmoro Bangun

Robby Nugroho

Abstrak


Sanggar Asmoro Bangun merupakan perkumpulan seniman Wayang Topeng Malang yang masih bertahan hingga dewasa ini. Pergelarannya memiliki ekspresi seni yang khas pada struktur penyajiannya. Di samping itu, kesenian tradisional seperti inimasih memegang teguh pakem dan ungkapan-ungkapan sebagai medium untuk menyampaikan makna tersembunyi kepada penonton. Makna tersebut terdapat pada bahasa verbal dalang dan sinden yang dapat dikaji menggunakan teori semiotika. Teori semiotika yang digunakan dalam hal ini adalah teori semiotika Charles Sanders Peirce.

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan makna simbolis. Pertama, makna simbolis teks pertunjukan pada lakon JenggoloMbangunCandi. Kedua, makna simbolis tembang-tembang pada lakon JenggoloMbangunCandi. Lakon ini digelar di Sanggar Asmoro Bangun, Kedungmonggo, Karangpandan, Pakisaji, Malang.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya adalah semiotika. Data penelitian ini berupa data verbal yang diperoleh dari pergelaran lakon Jenggolo Mbangun Candi, yaitu teks pertunjukan dan tembang-tembang. Data tersebut didapatkan dari observasi pergelaran berupa video. Video diambil ketika pergelaran berlangsung dengan menggunakan handphone merek LG G3 Stylus. Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara kepada Bapak Tri Handoyo (ketua sanggar), Bapak Kamdani (dalang), dan Ibu Saini (sinden) serta studi dokumentasi pada buku kumpulan gending milik Sanggar Asmoro Bangun. Selanjutnya, data itu akan direduksi, disajikan, dan disimpulkan. Pengecekan keabsahan data yang dilakukan peneliti ada tiga cara, yaitu (1) triangulasi, (2) membercheck, dan (3) perpanjangan penelitian.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna simbolis, yaitu tanda berupa unsur verbal merupakan simbol yang selalu memiliki dua tataran tanda. Dua tataran tanda yang dimaksud adalah (1) tataran kebahasaan (denotatif) dan (2) tataran mitis (konotatif). Makna simbolis yang ditemukan pada teks pertunjukan dan tembang-tembang memuat berbagai hal berupa nasehat tentang (1) ketuhanan, (2) kemasyarakatan, (3) kekeluargaan, (4) pendidikan, (5) kepemimpinan, dan (6) kepribadian.Dan temuan lain adalah adanya penanda adegan yang ditandai dengan (1) tarian, (2) janturan, dan (3) sendhon penutup.

Pertama, makna simbolis unsur verbal teks pertunjukan dapat ditemukan pada (1) janturan (narasi), (2) sendhon (suluk/tanda), (3) bala ucana/bagi-binagi (dialog), dan (4) salam penutup. Keempat verbal tersebut tersaji dalam delapan adegan, yaitu (1) Jejer Kapisan: Kerajaan Rancang Kencana, (2) Jejer Kapindho:Alun-Alun Negara Jenggolo Manik, (3) Perang Gagal, (4) Jejer Katelu: Adeg Kaputren Jenggolo Manik, (5) Sigeg/Bapang, (6) Jejer Kapat: Alun-Alun Negara Jenggolo Manik, (7) Perang Besar, dan (8) Penutup.

Kedua, makna simbolis unsur verbal tembang-tembang dapat ditemukan pada syair tembang. Namun, tidak semua syair tembang memiliki makna simbolis. Syair yang memiliki makna simbolis dapat ditemukan pada enam tembang, yaitu (1) tembang Ayak Jugag, (2) tembang Gagak Setro, (3) tembang Kembang Kacang, (4) tembang Lambang Malang, (5) tembang Pekalongan Jawa, dan (6) tembang Bubaran.

Peneliti mempunyai saran berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. Saran tersebut ditujukan kepada tiga subjek, yaitu (1) peneliti lain, (2) pemerhati seni/seniman, dan (3) masyarakat pemilik serta bukan pemilik.