SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2015

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Makna Simbolik Upacara Bubak Kawah di Kota Batu

Intania Rizka Syafitri

Abstrak


ABSTRAK

 

Syafitri, Intania Rizka. 2015. Makna Simbolik Upacara Bubak Kawah di Kota Batu. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sunoto, M.Pd. (II) Dr. Nita Widiati, M.Pd.

 

Kata Kunci: sastra lisan, makna simbolik, upacara Bubak Kawah

 

Subjek penelitian ini adalah upacara Bubak Kawah. Upacara Bubak Kawah merupakan serangkaian upacara pernikahan. Upacara Bubak Kawah dilakukan setelah melakukan prosesi upacara pernikahan serah-serahan, peningsetan, siraman, adol dawet, paes, midodareni, ijab kabul, dan temu manten. Upacara Bubak Kawah merupakan upacara yang dilaksanakan oleh orang tua mempelai perempuan. Upacara Bubak Kawah untuk anak perempuan yang pertama dinamakan bukak ponjen, sedangkan untuk anak perempuan yang terakhir dinamakan tutup ponjen. Upacara Bubak Kawah diikuti oleh kedua mempelai beserta orang tua dan kerabat dekat.

Penelitian ini bermaksud mengungkap makna simbolik pada uba rampe, prosesi upacara Bubak Kawah, dan makna pada tuturan dukun manten upacara Bubak Kawah. Tujuan tersebut ditempuh penelitian kualitatif dengan kegiatan mengobservasi prosesi upacara Bubak Kawah, wawancara mendalam mengenai uba rampe, dan membaca berulang tuturan yang digunakan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa (1) prosesi upacara Bubak Kawah yang meliputi perilaku budaya, pilihan benda simbolik, dan penataan benda dan (2) tuturan dukun manten upacara Bubak Kawah yang meliputi kata simbolik, klausa simbolik, dan tatanan simbolik. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan angket. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data.

Dengan tindakan tersebut, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, makna simbolik pada uba rampe dan prosesi upacara Bubak Kawah. Makna simbolik pada uba rampe upacara Bubak Kawah yaitu (1) untuk mendapat berkah, (2) agar berpikir luas, (3) suci hatinya, (4) untuk membuka rezeki dari seluruh keluarga kedua mempelai, (5) agar cinta mereka menghasilkan buah kasih yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat, (6) agar kedua mempelai hidup menjadi suami istri yang baik dan bermanfaat bagi orang lain, (7) kesederhanaan, dan (8) kesucian.

Makna simbolik pada prosesi upacara Bubak Kawah yaitu (1) segala sesuatunya harus dimulai dengan baik-baik, (2) menyatukan tulang rusuk yang berbeda, (3) harapan agar pernikahannya selalu mendapatkan kebahagiaan dan dihindarkan dari mara bahaya, (4) agar dijauhkan dari mara bahaya dan hal buruk lainnya yang mengganggu pernikahan, (5) rejeki yang diberikan Allah kepada kedua mempelai, (6) keluarga ikut membantu mengambil rezeki yang diberikan Allah, (7) segalanya dibuka dan ditutup dengan hal yang baik, dan (8) sudah siap untuk menjalani kehidupan baru.        

Kedua, mengenai makna pada tuturan dukun manten upacara Bubak Kawah yaitu (1) harus ada syarat-syarat yang dipenuhi, (2) membuka air yang keluar dari rahim, (3) selamatan penutup, (4) meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa, (5) anak yang sudah menemukan jodohnya, (6) penyatuan antara laki-laki dan perempuan, dan (7) harapan untuk meminta keselamatan dan belas kasihan dari Tuhan yang meridhoi, semoga selalu menjadi suami istri yang jauh dari mara bahaya, terhindar dari musibah, selalu diberi rezeki yang barokah, semoga panjang umur serta lancar mencari rezeki untuk kebutuhan hidup, dan kedua mempelai rukun sampai tua nantinya.

Penelitian ini diharapkan diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan, dan data tertulis tentang makna simbolik upacara Bubak Kawah sehingga mampu menumbuhkembangkan rasa cinta bagi remaja di daerahnya terhadap nilai-nilai luhur tradisi daerah sendiri. Penelitian ini juga diharapkan dapat memperkaya khazanah kebudayaan nusantara, sekaligus menunjang perkembangan sastra daerah yang ada di Indonesia. Serta melestarikan budaya dan tradisi adat di Indonesia.