SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Tindak Tutur Konstatif dalam Tayangan Mario Teguh the Golden Ways di MetroTv

Dwi Sulistiyowati

Abstrak


ABSTRAK

 

Sulistiyowati, Dwi. 2014. Tindak Tutur Konstatif dalam Tayangan Mario Teguh the Golden Ways di MetroTv. Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Abdul Syukur Ibrahim, (II) Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd.

 

Kata Kunci: tuturan konstatif, bentuk konstatif, fungsi konstatif, dan strategi penyampaian.

 

Tuturan konstatif merupakan tuturan yang memiliki daya untuk menarik kepercayaan mitra tutur dan disampaikan oleh penutur yang kompeten dan situasi serta kondisi tertentu. Tuturan konstatif yang terdapat pada tayangan motivasi Mario Teguh menjadi menarik sebab melihat pada ratting acara tersebut yang semakin meningkat dan menunjukkan adanya pola pikir masyarakat yang berubah setelah melihat tayangan motivasi tersebut. Selain itu, Mario Teguh yang pernah meraih penghargaan dari MURI sebagai delapan tokoh yang membuat perubahan pada tahun 2009 menjadi salah satu faktor untuk meneliti tuturan yang digunakan oleh Mario Teguh. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi tuturan konstatif, serta mendeskripsikan strategi penyampaian yang digunakan oleh Mario Teguh.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik fungsional. Sumber data yang digunakan yaitu rekaman tayangan, interaksi antara penutur dan mitra tutur, dan konteks tayangan. Data berupa tuturan konstatif Mario Teguh yang diperoleh dari tayangan motivasi yang dibatasi oleh tema yang saling berkaitan. Penelitian ini termasuk penelitian teks sebab peneliti tidak terlibat langsung dalam lapangan dan peneliti hanya mengubah data lisan menjadi data tertulis. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, identifikasi, klasifikasi, pengkodean, penafsiran, dan verifikasi.

Berdasarkan analisis data diperoleh hasil penelitian bahwa ketiga bentuk tuturan konstatif, yaitu asertif, deskriptif, dan askriptif digunakan oleh Mario Teguh, tetapi tidak pada semua fungsi tampak pada tuturan Mario Teguh. Pada bentuk asertif tuturan yang digunakan oleh Mario Teguh merupakan kalimat deklaratif dan ada pengulangan kata untuk menegaskan inti dari tuturan tersebut. Pada bentuk deskriptif tuturan yang digunakan oleh Mario Teguh adalah tuturan yang mengindikasikan gejala kejiwaan dan adanya perbandingan dalam tuturan tersebut. Kemudian pada bentuk askriptif tuturan yang digunakan oleh Mario Teguh terdapat penyangkalan dan penguatan untuk meyakinkan mitratutur. Kemudian strategi penyampaian yang digunakan Mario Teguh lebih banyak strategi langsung daripada tidak langsung. Hal ini menunjukkan dalam acara motivasi tersebut tuturan yang digunakan Mario Teguh langsung pada intinya sehingga mitra tutur atau penonton tidak merasa bosan. Meskipun ada beberapa tuturan Mario Teguh mengungkapkannya secara tidak langsung.

 

Dari analisis data tersebut menunjukkan bentuk tuturan Mario Teguh menggunakan kalimat deklaratif, banyak menggunakan kata sifat dalam setiap tuturan motivasinya, serta pengulangan kata sebagai penegasan. Bentuk-bentuk tersebut banyak ditemui dalam tuturan Mario Teguh karena tindak tutur konstatif mempunyai tujuan agar mitratutur memahami yang dimaksud oleh penutur. Selain itu penutur juga bertujuan agar tuturan motivasi yang disampaikan memberikan efek pada mitratutur sehingga mengubah pola pikir mitratutur ke arah lebih baik. Fungsi yang banyak digunakan adalah fungsi menyatakan karena Mario Teguh menggunakan fakta-fakta sebagai cara untuk memotivasi penonton. Kemudian strategi yang digunakan adalah strategi langsung, hal ini disebabkan agar penonton tidak memiliki persepsi lain tentang tuturan Mario Teguh. Kemudian tayangan Mario Teguh the Golden Ways merupakan acara komunikasi publik sehingga kemungkinan adanya makna ganda dipersempit. Jika dihubungkan maka antara bentuk dan fungsi masih saling berkaitan. Apabila tuturan tersebut merupakan bentuk asertif maka fungsi yang terdapat didalamnya merupakan fungsi asertif. Tetapi strategi penyampaian tidak berkaitan dengan bentuk dan fungsi. Misalnya saja tuturan tersebut berbentuk asertif dengan fungsi asertif juga maka strategi yang digunakan bisa langsung atau tidak langsung. Hal ini dikarenakan dalam strategi penyampaian perlu mengkaitkan antara peristiwa tutur yang sedang terjadi untuk mengetahui makna dan tujuan penutur. Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada pihak-pihak yang berkepentingan antara lain bagi peneliti selanjutnya dapat menjadi bahan acuan awal untuk penelitian selanjutnya, bagi motivator penelitian ini dapat menjadi tambahan wawasan tentang menjadi motivator yang lebih baik dan handal, dan bagi guru Bahasa Indonesia, penelitian ini dapat menjadi terapan dalam cara mengajar agar bahan ajar yang disampaikan mudah dipahami oleh siswa.