SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Bentuk Deiksis dalam Pidato Aburizal Bakrie

Wenny Dytha Sarwono

Abstrak


ABSTRAK

 

Sarwono, Wenny Dytha. 2014. Bentuk Deiksis dalam Pidato Aburizal Bakrie. Skripsi. Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Abdul Syukur Ibrahim. Pembimbing: (II) Dr. Martutik, M.Pd.

 

Kata kunci: deiksis persona, deiksis ruang, deiksis waktu, teks pidato Aburizal Bakrie.

 

Berpidato merupakan bentuk wicara individual yang tidak melibatkan bentuk tutur percakapan atau pembicaraan antara dua pihak yang berkepentingan. Peran penutur dan petutur memiliki bagian penting dalam sebuah pidato dengan harapan hal yang disampaikan tepat sasaran. Berdasarkan pengertian tersebut yang diteliti dalam penelitian ini adalah perujukan atau kata ganti persona, ruang, atau waktu yang dikenal dengan istilah deiksis. Penelitian ini meneliti bentuk deiksis dalam teks pidato Aburizal Bakrie.

Fokus dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk deiksis dalam teks pidato Aburizal Bakrie. Secara khusus, terdapat tiga subfokus yang dijelaskan, yaitu mendeskripsikan (1) deiksis persona, (2) deiksis ruang, dan (3) deiksis waktu.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang dipadukan dengan teori pragmatik. Instrumen pada penelitian ini berupa panduan pengumpul data yang berisi indikator deiksis dalam tiap rumusan masalah. Indikator dibuat berdasarkan kajian teoritis. Data penelitian berwujud kutipan kalimat yang bersifat deiktis yang memiliki klasifikasi deiksis persona, deiksis ruang, dan deiksis waktu. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Kegiatan analisis data dilakukan sejak pengumpulan data, kemudian tahap kodifikasi data, tahap reduksi data, dan tahap penyajian hasil analisis.

Hasil penelitian ini adalah bentuk deiksis dalam teks pidato Aburizal Bakrie yang didiskripsikan dalam tiga bentuk klasifikasi, yaitu deiksis persona, deiksis ruang, dan deiksis waktu. Pertama, deiksis persona. Berdasarkan data yang telah diperoleh, subklasifikasi bentuk deiksis persona pertama tunggal ditemukan bentuk pronomina saya,  aku, ku-, dan -ku. Pada bentuk deiksis persona pertama jamak ditemukan penggunaan pronomina kita dan kami. Bentuk deiksis persona kedua tunggal yaitu berupa leksem kekerabatan dan leksem jabatan. Pada bentuk jamak ditemukan bentuk kalian semua dan saudara. Bentuk deiksis persona ketiga tunggal yaitu bentuk ia, beliau, dan –nya, sedangkan untuk bentuk jamak ditemukan bentuk mereka. Pada deiksis terdapat istilah ketidaksesuaian perujukan yang dikenal sebagai pembalikan deiksis. Berdasarkan data yang ditemukan, fenomena pembalikan deiksis dapat teridentifikasi karena merupakan hal yang wajar terjadi disetiap tindak komunikasi. Pembalikan tersebut diantaranya adalah pertama, pembalikan bentuk persona ketiga untuk menunjuk persona pertama, pronomina ia (persona ketiga tunggal) digunakan untuk merujuk Aburizal Bakrie (persona pertama). Kedua, pembalikan bentuk deiksis persona kedua untuk menunjuk persona ketiga, bentuk leksem kekerabatan saudara-saudara (persona kedua jamak) digunnakan untuk merujuk persona ketiga jamak dan pembalikan bentuk deiksis persona ketiga untuk menunjuk persona kedua, bentuk pronomina beliau digunakan untuk merujuk Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang berperan sebagai persona kedua tunggal.

Kedua, deiksis ruang. Deiksis ruang terdiri dari dua subklasifikasi, yaitu (a) deiksis ruang berupa leksem demonstrativa dan deiksis ruang berupa leksem verba. Deiksis ruang berupa leksem demonstrativa (kata penunjuk) memiliki bentuk ini, itu, di sini, di situlah, tersebut, dan begitu. Pada subklasifikasi deiksis ruang berupa leksem verba memiliki bentuk datang, kembali, masuk, sampai, keluar, dan meninggalkan.

Ketiga, deiksis waktu. Deiksis waktu terdiri dari tiga subklasifikasi, yaitu (a) deiksis waktu kemarin, (b) deiksis waktu sekarang, dan (c) deiksis waktu besok. Kata sekarang bertitik labuh pada saat si pembicara mengucapkan kata itu (dalam kalimat), atau yang disebut saat tuturan, kata kemarin bertitik labuh pada satu hari sebelum saat tuturan, dan kata besok bertitik labuh pada satu hari sesudah tuturan. Deiksis waktu kemarin (belakangan ini dan masa lalu), deiksis waktu sekarang (sekarang), dan deiksis waktu besok (kelak dan nanti).

Saran penelitian,peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian tentang deiksis dengan mengembangkan metode penlitian yang berbeda dengan sumber data yang lebih bervariasi, serta instrumen yang lebih rinci. Misalnya saja keterkaitan bentuk deiksis dengan wacana politik.