SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2015

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kesiapan Pelaksanaan Kurikulum 2013 Ditinjau dari Pemahaman Guru, Komitmen Guru, dan Dukungan Sumber Belajar Pada Program Keahlian Teknik Komputer dan Informatika di SMK Se-Malang Raya

Rahmania Sri Untari

Abstrak


ABSTRAK

 

Untari, Rahmania Sri. 2015. Kesiapan Pelaksanaan Kurikulum 2013 Ditinjau dari Pemahaman Guru, Komitmen Guru, dan Dukungan Sumber Belajar Pada Program Keahlian Teknik Komputer dan Informatika di SMK Se-Malang Raya. Tesis, Program Studi Keahlian Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Amat Mukhadis, M.Pd, (II) Dr. Waras, M.Pd.

 

Kata kunci: kurikulum 2013, pemahaman guru, komitmen guru, dan dukungan sumber belajar

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk mempersiapkan siswa dalam memasuki dunia kerja. Program Keahlian Teknik Komputer dan Informatika (TKI) merupakan salah satu program keahlian yang dikembangkan di sekolah menengah kejuruan di Indonesia. Program keahlian ini bertujuan mempersiapkan siswa dalam memasuki dunia kerja. Efektivitas dan efisien pencapaian tujuan program keahlian ini tergantung pada upaya mengikuti dinamisme perkembangan beberapa faktor. Salah satunya adalah pengembangan kurikulum dari KTSP ke Kurikulum 2013. Untuk itu, kesiapan pelaksanaan Kurikulum 2013 yang ditinjau dari pemahaman guru, komitmen guru, dan dukungan sumber belajar menjadi strategis.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesiapan pelaksanaan Kurikulum 2013 ditinjau dari pemahaman guru, komitmen guru, dan dukungan sumber belajar pada Program Keahlian Teknik Komputer dan Informatika (TKI) di SMK se-Malang Raya. Populasi penelitian meliputi guru di SMK se-Malang Raya, dan sampel adalah 175 guru yang diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data digunakan dengan teknik tes dan non tes. Data dianalisis dengan teknik statistik deskriptif dengan rumus persentase.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemahaman guru rendah dengan persentase pencapaian sebesar 54.83% (level C), (2) komitmen guru cukup dengan persentase pencapaian sebesar 80.29% (level B), (3) dukungan sumber belajar cukup dengan persentase pencapaian sebesar 82.35% (level B), (4) dimensi landasan Kurikulum 2013 di SMKN 4 Malang dengan persentase pencapaian sebesar 46.21% (rendah), (5) dimensi isi Kurikulum 2013 di SMK Nasional dengan persentase pencapaian sebesar 40.47% (rendah), (6) dimensi prinsip pengembangan Kurikulum 2013 di SMK Nasional dengan persentase pencapaian sebesar 33.33% (rendah), (7) dimensi level pengembangan Kurikulum 2013 di SMKN 9 Malang dengan persentase pencapaian sebesar 44.44% (rendah), (8) dimensi pelaksanaan Kurikulum 2013 di SMKN 3 Malang dengan persentase pencapaian sebesar 50.00% (rendah), (9) komitmen guru menunjukkan bahwa ada 4 SMK yang berkategori rendah (level C), 7 SMK yang berkategori cukup (level B), dan 4 SMK yang berkategori tinggi (level A), (10) dimensi komitmen guru terhadap layanan karakteristik siswa di SMK Islam Batu dengan persentase pencapaian sebesar 69.44% (rendah), (11) dimensi komitmen guru terhadap layanan pembelajaran di SMKN 1 Malang dengan persentase pencapaian sebesar 72.02% (rendah), (12) dimensi komitmen guru terhadap bimbingan di SMK Nasional dengan persentase pencapaian sebesar 68.45% (rendah), (13) dukungan sumber belajar menunjukkan bahwa ada 1 SMK yang berkategori rendah (level C), 8 SMK yang berkategori cukup (level B), dan 6 SMK yang berkategori tinggi (level A), dan (14) dimensi dukungan sumber belajar menunjukkan bahwa dimensi dukungan sumber belajar yang dirancang dan dukungan sumber belajar yang dimanfaatkan di SMKN 9 malang dengan persentase pencapaian sebesar 75.00% dan 73.80% (rendah).

Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1) bagi kepala sekolah, perlu mengoptimalkan potensi yang tersedia terutama guru yang sudah mendapatkan pelatihan secara khusus dari pemerintah dan perlu meningkatkan potensi dalam pengembangan Kurikulum 2013 serta monitoring berkala, (2) bagi waka kurikulum, perlu mengadakan pelatihan berupa penataran di sekolah khususnya tentang Kurikulum 2013 agar guru benar-benar memahami Kurikulum 2013 dengan baik dan perlu mempersiapkan serta mengevalusi pembelajaran yang mengintegrasikan Kurikulum 2013 dan mengembangkan kemampuan melalui pelatihan berupa penataran, (3) bagi guru, perlu mengikuti pelatihan rutin berupa penataran, seminar, atau lokakarya tentang Kurikulum 2013 dan perlu menambah banyak wawasan serta membaca referensi terkait dengan Kurikulum 2013 sehingga guru SMK se-Malang Raya dapat memiliki pemahaman yang baik dan guru benar-benar memahami tentang sosok Kurikulum 2013 beserta perubahannya, memiliki komitmen yang tinggi serta memiliki dukungan sumber belajar yang memadai, dan (4) bagi peneliti berikutnya, perlu adanya pengkajian dan pengembangan yang lebih dalam lagi tentang Kurikulum 2013 khususnya yang berbasis pada kesiapan pelaksanaan Kurikulum 2013 dengan latar atau konteks yang berbeda sehingga peneliti berikutnya dapat menghasilkan teori baru atau hasil baru yang lebih bermanfaat bagi guru SMK se-Malang Raya.