SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2015

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

KEMAMPUAN MENULIS POSTER

Perpustakaan UM

Abstrak


KEMAMPUAN MENULIS POSTER

Rate Saitian1

Widodo2

Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang nomor 5 Malang 65145

E-mail rate.saitian@yahoo.com

 

Abstrak: Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menulis poster dilihat dari tiga aspek, yakni (1) aspek bahasa (2) aspek tampilan, dan (3) aspek isi. Aspek bahasa meliputi kalimat persuasif, singkat/padat, dan variasi. Aspek tampilan meliputi bentuk poster dan komposisi poster. Aspek isi meliputi kesesuaian, makna, dan pesan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini berupa skor yang diperoleh dari kemampuan siswa dalam menulis poster siswa kelas VIII-E SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang.

 

Kata Kunci: kemampuan menulis, poster

Abstract: The purpose of the present research is to know students' writing poster ability in term of the language, presentation, and the content. The language aspect includes persuasive sentences, terse sentences, and variation. The presentation aspect includes the form and the composition of the poster. The aspect of content includes the unity, sense, and message. The data in the present study are in the form of scores taken from students' writing report ability in class VIII-E of SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. The instruments of the study are written test and writing scoring rubric.

Key Words: writing ability, poster

Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa, selain keterampilan menyimak, berbicara, dan membaca. Menurut Tarigan (1993:3―4) keterampilan menulis merupakan keterampilan yang produktif dan efektif, artinya siswa diharapkan mempunyai suatu ketrampilan dan kemampuan mengungkapkan gagasan dengan menggunakan bahasa lisan dan tulisan. Melalui kegiatan menulis siswa mampu menuangkan semua gagasan dan pemikiran ke dalam suatu tulisan yang nantinya dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Pada dasarnya menulis merupakan salah satu cara berkomunikasi baik antar individu maupun kelompok. Komunikasi yang terjadi menggunakan bahasa tulis sebagai alat medianya Slamet (2007:96). Hal ini juga sejalan dengan pendapat Tarigan (1994:24) yang menyatakan bahwa dalam kegiatan menulis, seseorang (siswa) haruslah mampu mengekspresikan diri, memberi informasi, mempersuasi pembaca lewat karya tulis yang dihasilkan.

1.Saitian, Rate adalah mahasiswa Sastra Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang 2014

2. Widodo adalah dosen Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.

Keterampilan berkomunikasi lewat bahasa tulis yang baik, dibutuhkan sebuah proses berpikir yang teratur sehingga apa yang ditulis dapat dipahami pembaca. Sujanto (1988:60) bahkan mengemukakan bahwa menulis merupakan suatu proses pertumbuhan melalui banyak latihan. Proses atau latihan diperlukan karena sebuah tulisan yang baik haruslah bermakna, jelas, bulat dan utuh, memenuhi kaidah gramatikal, serta memiliki gaya bahasa yang tepat, dengan demikian, tujuan berkomunikasi dapat tersampaikan.

Sehubungan dengan kompleksnya kegiatan yang diperlukan untuk kegiatan menulis, maka menulis harus dipelajari atau diperoleh melalui proses belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Sejalan dengan pendapat di atas,  Hernacki (2006:179) menjelaskan bahwa menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika). Dalam hal ini yang merupakan bagian logika adalah perencanaan, outline, tata bahasa, penyuntingan, penulisan kembali, penelitian, dan tanda baca. Sementara itu yang termasuk sebelas bagian emosional ialah semangat, spontanitas, emosi, warna, imajinasi, gairah, ada unsur baru, dan kegembiraan. Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat didefinisikan menulis adalah serangkaian proses kegiatan yang kompleks yang memerlukan tahapan-tahapan, dan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan sehingga pembaca dapat memahami isi dari gagasan yang disampaikan. Dengan kata lain bahwa menulis merupakan serangkaian kegiatan yang akan melahirkan pikiran dan perasaan melalui tulisan untuk disampaikan kepada pembaca.

Keterampilan menulis juga mendapat bagian dalam  Kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs kelas VIII/2. Berdasarkan  Standar Kompetensi (SK)/Kompetensi Dasar (KD) 1.2/1.2.3, salah satu  keterampilan menulis yang harus dipelajari dan dikembangkan oleh siswa kelas VIII di semester 2 yakni menulis poster. Melalui SK/KD tersebut, siswa diharapkan mampu menulis poster untuk berbagai  keperluan dengan pilihan kata dan kalimat yang bervariasi, serta persuasif.

Penelitian yang berkaitan dengan kemampuan siswa menulis poster pernah dilakukan oleh Yuniarti (2008) penelitiannya berjudul Penggunaan Media Grafis dan Media Lingkungan dalam Pembelajaran Kemampuan Menulis Poster  siswa kelas VIII  SMP  Laboratorium Tahun ajaran 2008/2009. Pada siklus awal penelitian dilaporkan bahwa keterampilan siswa dalam  menulis  poster  belum  memenuhi  indikator  tercapainya  pembelajaran. Siswa hanya membuat poster di buku  catatan dengan menggunakan pensil dalam ukuran yang sangat kecil, yaitu  hanya dua sampai enam baris buku catatan. Gambar yang dibuat tidak diberi warna dan pilihan kata/kalimatnya pun masih banyak yang belum tepat. (sementara itu pada siklus ke satu.

Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Sholikha (2010) penelitiannya berjudul Pemberian Tugas Menulis Poster Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dalam Pembelajaran Kooperatif Untuk  Meningkatkan Motivasi, Aktivitas dan Hasil Belajar siswa kelas VII SMP Negeri 8 Malang Tahun ajaran 2010/2011. Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa penerapan pemberian tugas menulis poster dalam pembelajaran kooperatif secara bertahap dapat meningkatkan aktivitas, motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 8 Malang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa guru  harusnya memberikan tugas poster secara tertulis dengan menunjukan kriteria poster yang baik agar siswa dapat mengerjakan poster dengan baik pula. Penelitian ini berbeda dengan kedua penelitian sebelumnya. Judul penelitian ini yakni “ Kemampuan Menulis Poster Siswa Kelas VIII-E SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang". Artinya, bentuk penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif, yang berbeda dengan  kedua penelitian sebelumnya yang berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Sehubungan dengan hal-hal yang telah dijelaskan tersebut, peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian tentang "Kemampuan Menulis Poster Siswa Kelas VIII-E SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang". Peneliti tertarik  melihat kemampuan siswa menulis poster dilihat dari tiga aspek yakni aspek isi, bahasa, dan tampilan.

 

METODE

 

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuatitatif. Oleh karena itu, penelitian ini mendeskripsikan tentang kemampuan menulis poster. (Arikunto, 2006:12). Dalam penelitian ini, penulis mengolah skor nilai (a) kemampuan siswa dalam menulis poster dilihat dari aspek isi, (b) kemampuan siswa dalam menulis poster dilihat dari aspek bahasa, dan (c) kemampuan siswa menulis poster dilihat dari aspek tampilan.

umber data peneliti ini berupa gambar poster yang ditulis oleh siswa kelas VIII-E SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Populasi pada penelitian ini seluruh siswa kelas VIII SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang yang berjumlah 246 siswa. Sampel peneliti ini. yaitu siswa kelas VIII-E  SMP  Laboratorium Universitas Negeri Malang yaitu yang berjumlah 33 siswa. Instrumen pertama yang digunakan oleh peneliti yakni tes tulis. Instrumen kedua yang digunakan oleh peneliti yakni panduan penilaian. Panduan penilaian digunakan peneliti untuk mempermudah peneliti dalam melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa.

Instrumen penelitian digunakan untuk mempermudah pengumpulan data dan hasilnya lebih baik. Dalam arti pengumpulan data lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Pada penelitian ini ada dua instrumen yang digunakan oleh peneliti yakni tes tulis yang berupa perintah dan petunjuk menulis poster beserta panduan penilaian.

Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan lembar kerja menulis kepada siswa kelas VIII-E SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2013/2014. Siswa kemudian diminta mengerjakan tes tulis sesuai dengan perintah yang ada di dalam lembar kerja siswa. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan model. Tahap pertama dalam menganalisis data yakni persiapan. Kegiatan yang dilakuan pada tahap persiapan adalah mengecek nama dan kelengkapan identitas penelitian serta mengecek kelengkapan data. Pengecekan data dimaksudkan disini, yaitu memeriksa instrumen data dan kelengkapan lembar instrumen.

Wujud data berupa skor yang menggambarkan kemampuan siswa menulis poster. Tahap yang dilakukan peneliti dalam menganalisis data yakni (1) persiapan, (2) pengodean, dan (3) penilaian. Tahap pertama dalam menganalisis data yakni persiapan. Kegiatan yang dilakuan pada tahap persiapan adalah mengecek nama dan kelengkapan identitas penelitian serta mengecek kelengkapan data. Pengecekan data dimaksudkan disini, yaitu memeriksa instrumen data dan kelengkapan lembar instrument.

Tahap kedua yang dilakukan peneliti dalam menganalisis data yakni pengodean. Pengodean dilakukan untuk mempermudah penelitian dalam pemberian skor, menganalisis dan memberikan penelitian. Pemberian kode didasarkan atas setiap huruf pertama pada nama siswa dan nomor presensi siswa tersebut.

Setelah tahap persiapan dan pengodean, peneliti melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa. Penilaian terbagi menjadi dua tahap yakni penyekoran subaspek dan penyekoran aspek secara keseluruhan. Teknik penyekoran yang dilakukan adalah penyekoran analitik, yaitu pemberian skor yang didasarkan pada setiap subaspek pada aspek-aspek yang diteliti. Peneliti melakukan penilaian terhadap ketiga aspek yakni aspek bahasa, tampilan, dan isi secara terpisah.

 

HASIL

 

Hasil analisis yang dipaparkan, yaitu tentang kemampuan menulis poster siswa kelas VIII-E SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang Tahun ajaran 2013/2014. Hasil siswa tersebut dianalis berdasarkan aspek rumusan masalah yang dibahas pada penelitian ini. Aspek yang dinilai dan dibahas rumusan penelitian ini, yaitu (a) aspek bahasa, (b) aspek tampilan, dan (c) aspek isi. Hasil kerja siswa dalam kemampuan menulis poster dianalis dan diberi nilai berdasarkan pedoman penilaian sebagai patokan pencapaian hasil penelitian.

Hasil kemampuan menulis poster siswa kelas VIII-E SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2013/2014. Hasil analisis terhadap kemampuan menulis poster dipaparkan pada aspek berikut. Kemampuan menulis poster dilihat dari aspek bahasa yang mengacuh pada tiga subaspek yaitu persuasif, singkat/padat dan variasi. Pertama kemampuan menulis poster pada aspek persuasif, sebanyak 15 siswa (45,5%) berhasil mendapat skor 4 atau tergolong kualifikasi sangat mampu, 15 siswa (45,5%) mendapat skor 3 atau berada pada kualifikasi mampu, dan 3 siswa (9%) lainnya mendapat skor 2 atau berada pada kualifikasi kurang mampu. Pada subaspek singkat/padat, ditemukan 17 siswa (52%) berada pada kualifikasi sangat mampu, 10 siswa (30%) berada pada kualifikasi mampu, 3 siswa (9%) berada pada kualifikasi kurang mampu, dan 3 siswa (9%) berada pada kualifiksi belum mampu. Pada subaspek variasi 12 atau 36% siswa berada pada kualifikasi sangat mampu, 21 atau 64% siswa berada pada kualifikasi kurang mampu.

Secara keseluruhan, klasifikasi kemampuan siswa kelas VIII-E SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2013/2014 menulis poster dilihat dari aspek bahasa dapat disimpulkan bahwa jumlah siswa yang berhasil melewati SKM lebih banyak dari pada siswa yang berada di bawah SKM. Sebanyak 21 siswa (64%) berhasil melewati SKM dengan rincian 12 siswa (36%) mencapai kualifikasi sangat mampu dan 9 siswa (27,5%) mencapai kualifikasi mampu. Sementara itu, 12 siswa lainnya (36%) masih berada di bawah SKM yakni 9 siswa (27,5%) berada pada kategori kurang mampu dan 3 siswa (9%) berada pada kualifikasi belum mampu. Kemapuan menulis poster dilihat dari aspek tampilan  yang mengacu pada dua subaspek yaitu bentuk dan komposisi. Adapun hasil penilaian pada aspek tampilan , tidak seorang siswa pun berhasil mencapai kualifikasi sangat mampu. Selain itu, sebagian besar siswa masih berada di bawah SKM, baik pada subaspek bentuk, maupun komposisi. Secara rinci, pada subaspek bentuk ditemukan sebanyak 12 siswa (36%) mencapai kualifikasi mampu dan 21 siswa (64%) masih berada pada kualifikasi belum mampu. Pada subaspek komposisi, sebanyak 12 siswa (36%) mencapai kualifikasi kurang mampu dan 21 (64%) siswa lainnya berada pada kualifikasi belum mampu.

Secara keseluruhan, kualifikasi kemampuan siswa kelas VIII-E SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2013/2014 menulis poster dilihat dari aspek tampilan dapat disimpulkan bahwa jumlah siswa yang berada di bawah SKM jauh lebih banyak daripada yang berhasil melewati SKM. Tercatat sebanyak 12 siswa atau 36% berhasil melewati SKM tetapi hanya berhasil mencapai kualifikasi mampu. Sementara itu, 21 siswa atau 64% berada di bawah SKM dengan kualifikasi belum mampu. Kemapuan menulis poster pada aspek isi yang mengacu pada tiga subaspek yaitu kesesuain, makna dan pesan. Pada subaspek kesesuaian, tidak seorang siswa pun yang berhasil melewati SKM. Sebanyak 13 siswa (39%) yang memperoleh skor 2 atau berada pada kualifikasi kurang mampu dan 20 siswa (61%) yang mendapat mendapat skor 1 atau berada pada kualifikasi belum mampu. Kedua, pada subaspek makna, ditemukan sebanyak 8 siswa (24%) yang mendapat skor 4 atau kualifikasi sangat mampu, 17 siswa (52%) yang mendapat skor 3 atau kualifikasi mampu, 5 siswa (15%) yang mendapat skor 2 atau kualifikasi kurang mampu, dan 3 siswa (9%) yang mendapatkan skor 1 atau kualifikasi belum mampu. Pada subaspek pesan, jumlah siswa terbanyak berada pada kualifikasi sangat mampu yakni sebanyak 13 siswa (40%). Selanjutnya, 12 siswa (36%) berada pada kualifikasi mampu, 5 siswa (15%) berada pada kualifikasi kurang mampu, dan 3 siswa (9%) berada pada kualifikasi belum mampu.

Secara keseluruhan, kualifikasi kemampuan siswa menulis poster dilihat dari aspek isi dapat disimpulkan terlihat bahwa kemampuan siswa kelas VIII-E SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2013/2014 pada aspek isi secara keseluruhan sangat bervariasi. Sebanyak 4 siswa atau 12% dalam menulis poster dilihat dari aspek isi mencapai kualifikasi sangat mampu, 20 siswa atau 61% mencapai kualifikasi mampu, 6 siswa atau 18% mencapai kualifikasi kurang mampu, dan 3 siswa atau 9% mencapai kualifikasi belum mampu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa yang melewati SKM lebih banyak dari pada siswa yang berada di bawah SKM yakni 24 siswa (73%) berhasil melewati SKM dan 9 siswa (27%) berada di bawah SKM.

 

PEMBAHASAN

 

Kemampuan Menulis Poster dilihat dari Aspek Bahasa

Berdasarkan hasil analisis menulis poster dilihat dari aspek bahasa sebanyak enam belas siswa (48%) berhasil melewati SKM. Pada subaspek persuasif, sebanyak dua puluh siswa (61%) berhasil mendapat skor 4 atau tergolong kualifikasi sangat mampu, 10 siswa (30%) mendapat skor 3 atau berada pada kualifikasi mampu, dan 3 siswa (9%) lainnya mendapat skor 2 atau berada pada kualifikasi kurang mampu. Pada subaspek singkat/padat, ditemukan 21 siswa (64%) berada pada kualifikasi sangat mampu, 6 siswa (18%) berada pada kualifikasi mampu, 3 siswa (9%) berada pada kualifikasi kurang mampu, dan 3 siswa (9%) berada pada kualifiksi belum mampu. Pada subaspek variasi 8 atau 24% siswa berada pada kualifikasi sangat mampu, 4 atau 12% siswa berada pada kualifikasi mampu, 20 atau 60% siswa berada pada kualifikasi kurang mampu, dan 1 atau 3% siswa berada pada kualifikasi belum mampu.

Aspek bahasa yang dinilai oleh peneliti yakni bahasa persuasif. Sebanyak berhasil mendapat skor 4 atau tergolong kualifikasi sangat mampu, 10 siswa (30%) mendapat skor 3 atau berada pada kualifikasi mampu, dan 3 siswa (9%) lainnya mendapat skor 2 atau berada pada kualifikasi kurang mampu. Menurut Chaer (2003: 272) wacana persuasif bersifat mengajak, menganjurkan, atau melarang. Pendapat yang lain tentang bahasa persuasif juga dikemukakan oleh Marwoto dkk. (1985:176) yakni wacana yang berisi paparan berdaya-bujuk, berdaya-ajak, ataupun berdaya himbau baik secara implisit maupun eksplisit sehingga membuat pembaca meyakini dan menuruti himbauan tersebut. Dengan kata lain, bahasa yang persuasif merupakan bahasa yang mengajak dan mampu mempengaruhi orang yang membaca atau mendengarnya. Pada subaspek persuasif ini, beberapa siswa berhasil membuat poster dengan menggunakan pernyataan yang persuasif. Salah satu contoh pernyataan tersebut dapat dilihat pada poster kutipan 1 dengan kode HSWP16 berikut. Jagalah kebersihan karena kebersihan adalah sebagian dari iman. Pernyataan kutipan 1, berdasarkan indikator penilaian, tergolong pada kualifikasi sangat mampu dalam menggunakan bahasa yang persuasif. Pernyataan poster tersebut ingin mengajak setiap orang yang membacanya agar selalu menjaga kebersihan. Untuk lebih meyakinkan dan menarik perhatian pembaca tentang kebersihan, HSWP16 menjelaskan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman.

Subaspek kedua yang dinilai oleh peneliti yakni penggunaan bahasa yang singkat/padat. Sebanyak 21 siswa (64%) berada pada kualifikasi sangat mampu,6 siswa (18%) berada pada kualifikasi mampu, 3 siswa (9%) berada pada kualifikasi kurang mampu, dan 3 siswa (9%) berada pada kualifiksi belum mampu. Menurut Mulyono (1980:56), salah satu ciri poster yang baik yakni bahasa yang digunakan singkat/padat. Kata-kata yang singkat dan padat dimaksudkan untuk memudahkan pembaca untuk mengingat dan memahami. Wojowasito (2000) mengemukakan bahwa bahasa yang singkat/padat yakni bahasa yang menghindari kalimat yang panjang dan bertele-tele namun informasi yang disampaikan lengkap. Dengan kata lain, meskipun hanya terdiri atas beberapa kata, pembaca tetap dapat menangkap informasi yang ingin disampaikan oleh penulis atau yang menyampaikan informasi.

Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti menemukan beberapa siswa sudah berhasil menggunakan bahasa singkat/padat pada poster yang ditulis. Berikut ini disajikan salah satu contoh kutipan poster siswa MHDA28 bahasa yang singkat/padat. Kutipan 2: Bersih Itu Sehat, berdasarkan panduan penilaian, pernyataan kutipan 2 tersebut merupakan pernyataan yang tergolong dalam kualifikasi sangat mampu. Sebagaimana terlihat pada kutipan 2, MHDAS28 menggunakan bahasa yang sangat singkat, tetapi tetap padat maknanya. Dengan kata lain, meskipun bahasa yang digunakan singkat yakni hanya terdiri atas tiga kata, tidak mengurangi makna yang ingin disampaikannya kepada pembaca yakni kebersihan merupakan hal yang penting bagi kesehatan. Subaspek ketiga yang dinilai oleh peneliti yakni penggunaan pernyataan yang variasi dalam poster. Sebanyak 8 atau 24% siswa berada pada kualifikasi sangat mampu, 4 atau 12% siswa berada pada kualifikasi mampu, 20 atau 60% siswa berada pada kualifikasi kurang mampu, dan 1 atau 3% siswa berada pada kualifikasi belum mampu. Sehubungan dengan poster yang variasi, Wojowasito (2000) mengusulkan untuk menggunakan kata yang masih hidup, tumbuh, dan berkembang, serta menghindari kata-kata yang sudah mati. Artinya, dalam menulis poster, sebaiknya tidak menggunakan pernyataan yang sudah lama atau lazim karena akan mengurangi daya tarik poster tersebut. Pada subaspek variasi ini, peneliti menemukan bahwa sebagian besar siswa masih menggunakan pernyataan yang lama dalam poster yang ditulis. Beberapa siswa menggunakan pernyataan buanglah sampah pada tempatnya dan kebersihan sebagian dari pada iman. Meskipun demikian, ada siswa yang sudah berusaha menggunakan pernyataan yang berbeda, berdasarkan indikator penilaian, tergolong pada kualifikasi sangat mampu dalam menggunakan bahasa yang persuasif. Pernyataan poster tersebut ingin mengajak setiap orang yang membacanya agar selalu menjaga kebersihan. Untuk lebih meyakinkan dan menarik perhatian pembaca tentang kebersihan.

Kemampuan Menulis Poster dilihat dari Aspek Tampilan

Kemampuan siswa kelas VIII-E SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2013/2014 menulis poster dilihat dari aspek tampilan, sebanyak 12 siswa atau 36% berhasil melewati SKM, baik pada subaspek bentuk maupun komposisi. Secara rinci, pada subaspek bentuk ditemukan sebanyak 12 siswa (6%) mencapai kualifikasi mampu dan 21 siswa (64%) masih berada pada kualifikasi belum mampu. Pada subaspek komposisi, sebanyak 12 siswa (36%) mencapai kualifikasi kurang mampu dan 21 (64%) siswa lainnya berada pada kualifikasi belum mampu. Subaspek pertama aspek tampilan yang dinilai dalam penelitian ini yakni bentuk poster. Sebanyak 12 siswa (6%) mencapai kualifikasi mampu dan 21 siswa (64%) masih berada pada kualifikasi belum mampu. Sudirman dalam Djuanda (2006:104) mengemukakan salah satu ciri poster yang baik yakni bentuk gambar bagus, jelas dan menarik. Sebuah poster yang berisi bentuk-bentuk yang semrawut akan lebih sulit dicerna (Carra Media, 2012). Artinya, jika sebuah poster memiliki bentuk yang menyatu akan lebih cepat dicerna oleh pembaca.

Berdasarkan panduan penilaian pada subaspek bentuk, AK06 tergolong pada kualifikasi sangat mampu. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, ada objek yang bentuknya kurang jelas, tepatnya objek yang berada di belakang gambar manusia. Objek yang kurang jelas tersebut diintepretasi oleh peneliti sebagai gambar gunung dan awan. Walaupun demikian, beberapa objek pada poster tersebut sudah sangat jelas seperti manusia dan tempat sampah. Berdasarkan gambar tersebut, pembaca dapat mencerna bahwa objek manusia yang ada sedang membuang sampah di tempat sampah. Hanya saja, karena ada gambar yang kurang jelas, peneliti yang dalam hal ini berperan sebagai salah satu pembaca tidak dapat menentukan lokasi atau konteks yang tepat dari poster tersebut itu apakah bertempat di dalam atau luar ruangan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun poster dalam tampilan, selanjutnya adalah alur baca (movement). Alur baca yang diataur secara sistematis oleh desainer dapat mengarahkan ‘mata pembaca’ dalam menelususri informasi satu bagian atau ke bagian yang lain dalam poster, jangan lupakan pula kesan dalam tampilan (specific appeal) pada poster. Kesan disesuaikan dengan tema yang di angkat dalam perancangan menulis poster, terlebih di pertimbangkan pada target audiencenya. Setelah tercapai semuanya, yang perlu dipertimbangkan adalah kesatuan karya (unity). Kesatuan atau unity merupakan salah satu prinsip yang menekankan pada keselarasan dari unsure-unsur yang disusun, baik dalam wujud maupun kaitanya dengan ide yang melandasinya. Kesatuan diperlukan dalam satu karya grafis yang mungkin terdiri dari beberapa elemen di dalamnya. Dengan adanya kesatuan itulah, elemen-elemen yang saling mendukung sehingga diperoleh focus yang dituju.

Subapsek berikut yang dinilai oleh peneliti yakni komposisi. Sebanyak 12 siswa (36%) mencapai kualifikasi kurang mampu dan 21 (64%) siswa lainnya berada pada kualifikasi belum mampu. Menurut Carra Media (2012), komposisi merupakan pengaturan elemen-elemen poster seperti tata letak obyek, warna, tekstur dan lain-lain sehingga mencapai keharmonisan tertentu baik antar bagian, maupun dengan keseluruhan desain. Carra Media (2012) juga mengusulkan beberapa hal yang dapat dilakukan oleh penulis, dalam hal ini siswa, untuk menghasilkan poster dengan komposisi yang baik. Pertama, menentukan dominasi pada ukuran. Dominasi ukuran mempengaruhi keseimbangan desain poster yang dibuat. Perbandingan ukuran setiap objek harus sesuai dengan porsi agar diperoleh pengaruh yang tepat. Kedua, menentukan dominasi warna. Penentuan dominasi warna dimaksudkan agar warna yang digunakan tidak saling membunuh. Sebaiknya, sebuah poster hanya menggunakan dua warna saja yang dominan, sebab warna mempunyai efek yang begitu kuat karena langsung terpadu dengan mata. Oleh karena itu pilihan skema warna merupakan hal yang sangat penting dalam desain poster. Hal terakhir yang dapat dilakukan yakni menentukan dominan letak/penempatan. Posisi objek dalam poster sangat berpengaruh. Beberapa hal ditemukan oleh peneliti terkait dengan subaspek komposisi. Pertama, pada perbandingan ukuran, ada beberapa ketidakseimbangan. Jika objek yang kurang jelas pada poster AK06 dianggap sebagai awan gunung, maka ukuran objek awan terlihat tidak seimbang dibanding dengan ukuran objek manusia. Kedua, pada komposisi warna, poster yang ditulis oleh AK06 tergolong berwarna, dimana warna yang digunakan lebih dari dua warna dominan.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa, kemampuan menulis poster siswa kelas VIII-E SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2013/2014 pada aspek tampilan secara klasikal tergolong kualifikasi mampu dengan skor 79,5. Hal ini dikarenakan masih adanya kelemahan dalam menghasilkan bentuk objek yang jelas dan menarik, dan menentukan komposisi baik ukuran maupun warna secara tepat.

 

Kemampuan Menulis Poster dilihat dari Aspek Isi

 

Subaspek pertama yang dinilai pada aspek isi yakni kesesuaian. Sebanyak 13 siswa (39%) yang memperoleh skor 2 atau berada pada kualifikasi kurang mampu dan 20 siswa (61%) yang mendapat mendapat skor 1 atau berada pada kualifikasi belum mampu. Kesesuaian mengacu pada adanya kesatuan yang harmonis antara unsur-unsur penyusunan poster seperti unsur teks verbal headline, bodycopy, captiaon (keterangan gambar), unsur rupa/visualnya (ilustrasi/elemen desain) (Rama, 2008). Artinya, antara lukisan, gambar, dan tulisan merupakan satu kesatuan pesan yakni sejalan dengan ide/tujuan pokok. Sehubungan dengan penjelasan tersebut, pada subaspek kesesuaian tergolong pada kualifikasi mampu, ditemukan beberapa hal yang diketahui oleh peneliti. Pertama, pada poster yang ditulis, FA14 menggunakan pernyataan/teks