SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERJUANGAN PEREMPUAN DALAM CERITA KENTRUNG KREASI: KAJIAN PERSPEKTIF FEMINISME

NUR RAHMAWATI DWI OKTORA

Abstrak


ABSTRAK

 

Oktora, Nur Rahmawati Dwi. 2014. Perjuangan Perempuan dalam Cerita Kentrung Kreasi: Kajian Perspektif Feminisme. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd, (II) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd.

 

Kata Kunci: perjuangan perempuan, kesetaraan dan keadilan gender, cerita kentrung kreasi

 

Feminisme merupakan gerakan perempuan untuk memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender. Ide-ide feminisme tersebut terdapat dalam folklor berupa cerita kentrung yang menunjukkan bahwa perjuangan perempuan menjadi hal yang perlu diperhatikan sejak zaman dahulu. Kentrung kreasi merupakan hasil pengembangan dari kentrung tradisi yang dikemas lebih menarik dengan aktor dan musik pengiring. Penggabungan antara feminisme dengan cerita kentrung kreasi menjadi menarik karena feminisme lebih sering digunakan untuk membedah karya sastra populer. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan berbagai isu-isu feminisme yang bahkan telah muncul pada folklor berupa cerita kentrung kreasi.Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk perjuangan perempuan, tujuan perjuangan perempuan, dan nilai-nilai perjuangan perempuan dalam cerita kentrung kreasi.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif, dengan orientasi teoretis feminisme sebagai ancangan penelitian. Data berupa paparan verba yang mengandung bentuk, tujuan, dan nilai perjuangan perempuan dalam video pertunjukan kentrung kreasi yang telah ditranskrip, sehingga penelitian ini termasuk penelitian teks. Kriteria pemilihan cerita dilakukan berdasarkan muatan feminisme, yaitu cerita dengan tokoh utama perempuan yang melakukan perjuangan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender dengan dihadapkan berbagai masalah kehidupan yang berbeda-beda. Analisis data dilakukan dengan penginterpretasian data, pemaknaan data yang dikaitkan dengan sosio-kultural Jawa, serta penyimpulan data.

Berdasarkan analisis data, diperoleh tiga hasil penelitian sebagai berikut.Pertama, perempuan melakukan perjuangan dalam bentuk mengemukakan pendapat atau protes, menyamar, menelik, merampok dan menyandera. Dalam cerita kentrung kreasi, perempuan mengemukakan pendapat atau protes untuk menolak pelecehan dan perilaku yang menyudutkan peran perempuan di bidang publik. Menyamar dilakukan perempuan untuk mengelabui orang lain, baik menyamar sebagai laki-laki maupun sebagai perempuan lain untuk mencapai tujuan tertentu. Menelik merupakan strategi menaklukkan lawan dengan cara menyelidiki kelemahan, perempuan berperan sebagai telik sandi atau utusan kerajaan melaksanakan strategi pemerintah. Merampok menjadi pilihan perempuan untuk menunjukkan kesan berani dan mampu bersaing dengan laki-laki. Menyandera merupakan wujud penguasaan perempuan terhadap sandera untuk mendapatkan keuntungan.

Kedua, bentuk perjuangan tersebut digunakan untuk mencapai tujuan, yaitu membangun kerajaan, merebut kekuasaan, menolak perang, dan menolak menjadi selir. Membangun kerajaan menunjukkan kuasa perempuan sebagai raja yang dicapai melalui penyamaran dan strategi pembangunan berupa merampok dan menyandera. Merebut kekuasaan menunjukkan kontribusi perempuan sebagai utusan kerajaan yang bertugas menjadi telik sandi untuk menaklukkan kerajaan lain. Menolak perang menunjukkan kontribusi perempuan dalam pengambilan keputusan dengan merumuskan strategi pemerintah yang lebih efektif untuk mengatisipasi kekalahan dalam berperang. Menolak menjadi selir menunjukkan tanggung jawab perempuan terhadap diri sendiri untuk memperjuangkan kebebasan dan menolak pelecehan.

Ketiga, melalui perjuangan perempuan tersebut secara sadar maupun tidak sadar perempuan telah menanamkan nilai-nilai persamaan, yaitu persamaan derajat, persamaan peran dan tanggung jawab, persamaan kecerdasan intelektual, dan persamaan keberanian. Perempuan menunjukkan persamaan derajat dengan laki-laki melalui peran sebagai raja atau utusan kerajaan sebagai wujud memanfaatkan kebebasan untuk memenuhi tujuan hidup sebagai manusia. Perempuan menunjukkan persamaan peran dan tanggung jawab dengan mewujudkan keseimbangan antara perencanaan dan implementasi strategi untuk mencapai tujuan tertentu dengan mengandalkan kemampuan perempuan sendiri. Perempuan menunjukkan persamaan kecerdasan intelektual melalui kecermatan dalam memahami permasalahan dengan merumuskan strategi lain yang lebih efektif dan menghasilkan kemenangan. Perempuan menunjukkan persamaan keberanian melalui totalitas dalam menjalankan peran, yaitu mengorbankan seluruh jiwa dan raga untuk menunjukkan kontribusi perempuan di bidang publik.

 

Mengemukakan pendapat atau protes menjadi awal perjuangan perempuan sebagai gebrakan untuk mendapatkan kebebasan. Dalam perjuangan, perempuan mampu menunjukkan maskulinitas dalam diri untuk mencapai tujuan publik maupun tujuan pribadi dengan mengandalkan penyamaran, karena penyamaran dapat memberi kekuatan kepada perempuan untuk dapat melakukan berbagai tindakan di luar kebiasaan sebagai perempuan. Sifat maskulin tersebut juga berdampak pada keberanian perempuan untuk melakukan kriminalitas. Melalui perjuangan, perempuan menunjukkan kemandirian dan mewujudkan kerja sama dengan laki-laki di bidang publik. Perjuangan tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan atas dasar kemanusiaan, baik bagi orang lain maupun bagi perempuan itu sendiri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada aktivis maupun perempuan karir dan penggiat seni pertunjukan untuk menjadikan kesenian sebagai media menyalurkan aspirasi perjuangan perempuan, serta dapat menjadi inspirasi bagi penelitian selanjutnya yang serupa.