SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI BAHASA JAWA MENGGUNAKAN MEDIA MIND MAPPING PADA SISWA KELAS V SDN KARANGBESUKI 1 MALANG

Alfi Salamah .

Abstrak


PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI BAHASA JAWA MENGGUNAKAN MEDIA MIND MAPPING PADA SISWA SEKOLAH DASAR

Alfi Salamah

Anang Santoso

Dwi Sulistyorini2a

e-mail: alfisalamah1710@gmail.com

Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Jurusan Sastra Indonesia

Jalan Semarang No.5 Malang

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah  meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil siswa kelas V SDN Karangbesuki 1 Malang dalam menulis karangan narasi bahasa Jawa dengan menggunakan media mind mapping, menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan penelitian tindakan kelas. Setelah diterapkannya media mind mapping dalam pembelajaran menulis karangan narasi bahasa Jawa selama dua kali siklus, hasilnya meningkat dari segi kualitas proses dan kualitas hasil.

 

Abstract

The purpose of this research is to improve the quality of the process and the quality of the students class V SDN Karangbesuki 1 Malang in writing a narrative essay Java language using Mind Mapping media, using a qualitative approach to classroom action research approach. After the implementation of the learning media mind mapping in the Java language to write a narrative essay for two cycles, the result is increased in terms of the quality of the process and quality of results.

 

Kata Kunci: mind mapping, narasi, bahasa Jawa

Peneliti mencoba melakukan observasi di kelas V SDN Karangbesuki 1 Malang. Hasil observasi awal yang dilakukan mendapatkan hasil diantaranya, (1) hanya sebagian kecil siswa yang aktif dalam pembelajaran, (2) guru mata pelajaran bahasa Jawa mengajarkan dengan model konvensional, dan (3) siswa kurang bersemangat dalam belajar bahasa Jawa. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti berencana menggunakan media mind mapping untuk menumbuhkan semangat belajar siswa yang selama ini di bawah Standar Ketuntasan Minimal (SKM). Penggunaan media tersebut berdasarkan hasil penelitian terdahulu, jika penggunaan mind mapping dirasa tepat, karena cara kerja mind mapping melibatkan dua wilayah otak, yakni kanan dan kiri, sehingga menciptakan cara belajar yang seimbang.

Menurut Suparno dan Yunus (2011:3) menulis adalah kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Keterampilan menulis sangat penting dikuasai oleh siswa karena melalui menulis siswa dapat menyampaikan ide, gagasan, pesan, saran, selain itu dengan menulis siswa dapat mengembangkan kosa kata yang dimiliki guna memperluas wawasan. Menulis narasi bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan, membutuhkan latihan secara bertahap serta wawasan yang luas untuk menghasilkan sebuah tulisan yang runtut sesuai dengan waktu, tempat, dan peristiwa. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pengajaran yang efektif, sehingga siswa semangat dalam menulis narasi. Menurut Suparno dan Yunus (2011:11-13) narasi merupakan ragam wacana yang menceritakan proses kejadian suatu peristiwa. Sasarannya adalah memberikan gambaran yang sejelas-jelasnya kepada pembaca mengenai fase, langkah, urutan, atau rangkaian terjadinya sesuatu hal. Bentuk karangan narasi dapat ditemukan misalnya pada karya prosa atau drama, biografi atau autobiografi, laporan peristiwa, serta resep atau cara membuat dan melakukan sesuatu.

Media pembelajaran adalah alat atau bahan yang digunakan oleh guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan tujuan membantu pemahaman siswa dalam memahami pelajaran. Hal ini serupa dengan pemahaman Sanjaya (2012:204) media pembelajaran bukan hanya berupa alat atau bahan saja, akan tetapi hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan. Mind mapping adalah salah satu media yang dapat digunakan dan dirasa efektif untuk mengatasi permasalahan yang dialami siswa, karena menurut DePorter dan Mike (2002:153) peta pikiran adalah teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membuat kesan.

Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Sari (2013) dengan hasil penelitian, dengan penggunaan media mind mapping siswa bersemangat untuk mengarang dan hasil karangan pun meningkat setelah diterapkannya media tersebut. Selain itu, penelitian serupa pernah dilakukan juga oleh Primala (2012) dengan hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa dengan menggunakan media mind mapping,  kemampuan menulis siswa dari aspek diksi, keruntutan isi cerita menunjukkan hasil yang baik, sedangkan dari segi kreatifitas isi, ejaan, dan tanda baca memperoleh hasil yang cukup baik.

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil menulis karangan narasi bahasa Jawa. Pada kualitas proses, meliputi kesungguhan, kerjasama, dan keaktifan siswa. Pada kualitas hasil, meliputi menentukan ide, membuat kerangka karangan, mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan yang utuh, dan membuat karangan sesuai dengan tata cara penulisan dan bahasa Jawa yang tepat.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari siklus-siklus yang saling berhubungan satu sama lain. Pada setiap siklus ada beberapa tahapan atau langkah yang harus dilakukan, yakni (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sebelum melakukan penelitian, peneliti telah terlebih dahulu melakukan observasi awal untuk menyusun rencana pembelajaran atau untuk memasuki tahap perencanaan.

Dalam penelitian ini, peneliti adalah pelaksana pembelajaran, yakni bertindak sebagai guru model sehingga diharuskan kehadirannya. Kehadiran peneliti di lapangan penelitian diketahui oleh kepala sekolah dan guru yang bersangkutan. Peneliti mengajar siswa dengan materi yang disesuaikan dengan sistem pengajaran di sekolah, sedangkan dalam proses penyusunan RPP dan materi, peneliti menyusunnya dengan bimbingan guru matapelajaran bahasa Jawa kelas V SDN Karangbesuki 1 Malang.

Penelitian ini rencananya akan dilakukan di SDN Karangbesuki 1 Malang yang terletak di Jalan Raya Candi III. No 1 di kelas V pada semester genap tahun ajaran 2013-2014. Penelitian dilakukan selama satu bulan dari Maret hingga April 2014 dan dilaksanakan dalam dua siklus. Sasaran penelitiannya adalah siswa di kelas tersebut sebanyak 36 siswa. Terdapat 16 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Kemampuan akademiknya cukup baik. Karakternya harus selalu didorong untuk aktif dan bersemangat saat pembelajaran di kelas berlangsung.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, yakni (1) soal tes, (2) pedoman wawancara, (3) lembar observsi, dan (4) angket.

Pertama, soal tes berupa karangan narasi bahasa Jawa digunakan untuk mengukur kesungguhan siswa mengerjakan tugas, kerjasama siswa di dalam kelas, keaktifan siswa di dalam kelas, menentukan ide, membuat kerangka karangan berupa mind mapping, mengembangkan kerangka menjadi karangan utuh, dan membuat karangan sesuai tata cara penulisan dan bahasa Jawa yang tepat.

Kedua, pedoman wawancara dengan guru dan siswa sebelum dan setelah tindakan digunakan untuk mengetahui kesungguhan siswa, kerjasama, dan keaktifan siswa di dalam kelas. Ketiga, lembar observasi guru dan siswa selama proses pembelajaran di kelas, untuk mengukur kesungguhan siswa dalam mengerjakan tugas, kerjasama siswa, dan keaktifan siswa selama proses pembelajaran.

Keempat, angket diberikan pada siswa untuk mengetahui respon yang dihasilkan setelah penerapan media mind mapping.

 Teknik pengumpulan dilakukan dengan beberapa cara, yakni (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) angket.

 Pertama, observasi dilakukan oleh peneliti dengan tujuan mengumpulkan data awal sebelum dilaksanakan penelitian dan observasi mengacu pada pengamatan pada objek penelitian. Kedua, wawancara dilakukan terhadap siswa dan guru pelajaran bahasa Jawa sebagai observasi awal untuk mengumpulkan data tentang siswa, kondisi kelas, dan untuk mengetahui kelemahan atau kekurangan proses pembelajaran yang dilakukan selama ini. Ketiga, angket merupakan alat pengumpul data yang berisi sejumlah pertanyaan tertulis dan jawaban tertulis pula oleh siswa. Angket diberikan setelah semua tindakan pembelajaran selesai dilaksanakan untuk mengetahui respon siswa tentang metode mind mapping.

Wujud data dari penelitian ini berupa (1) hasil kerangka karangan dalam bentuk mind mapping dan karangan narasi siswa secara utuh yang merupakan pengembangan media mind mapping, (2) hasil wawancara siswa dan guru berupa untuk menilai kemampuan proses siswa meliputi kesungguhan, kerjasama, dan keaktifan siswa, (3)  hasil observasi siswa dan guru berupa catatan lapangan untuk menilai proses pembelajaran di dalam kelas dan merekap seluruh kegiatan siswa, dan (4) angket untuk mengetahui respon siswa setelah penerapan media mind mapping.

Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan selama dan setelah pengumpulan data. Data penelitian yang terkumpul dianalisis melalui dua tahap analisis data, yaitu paparan data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.   

Pertama, paparan data yang berguna untuk melihat gambaran keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. Paparan data dilakukan dengan cara memaparkan secara narasi informasi-informasi yang telah diperoleh dari aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran pada masing-masing siklus, sehingga mudah dilakukan penarikan kesimpulan. Data yang dipaparkan dapat pula berupa (1) perbedaan antara rancangan dangan pelaksanaan tindakan, (2) perlunya ada tindakan II, (3) persepsi peneliti, teman sejawat, dan guru dalam pengamatan dan perencanaan lapangan terhadap tindakan yang telah dilakukan, dan (4) hambatan-hambatan yang dihadapi pada saat penerapan metode mind mapping pada pembelajaran menulis narasi. Data yang telah dipaparkan selanjutnya ditafsirkan dan dievaluasi. Setelah ditafsirkan dan dievaluasi peneliti menyimpulkan data.

Kedua, penarikan kesimpulan atau verifikasi adalah memberikan kesimpulan terhadap hasil penafsiran dan evaluasi. Kegiatan ini mencakup makna data serta memberi penjelasan. Verifikasi tersebut merupakan validitas dari data yang dikumpulkan, yaitu menguji kebenaran, kekokohan, dan kecocokan makna-makna yang muncul dari data. Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai pengambilan intisari dari sajian data yang telah ada dan terorganisir selama berlangsungnya penelitian. Peneliti mulai mengambil kesimpulan sejak observasi dilakukan, seiring bertambahnya data yang diperoleh selama penelitian berlangsung maka kesimpulan yang ditarik semakin jelas dan tegas.

 

HASIL

Hasil pada penelitian ini mencakup dua hal, yakni kualitas proses menulis karangan narasi bahasa Jawa dan kualitas hasil menulis karangan narasi bahasa Jawa. Dari segi kualitas proses, penelitian ini berhasil meningkatkan dari aspek (1) kesungguhan siswa dalam mengerjakan tugas, (2) kerjasama dalam menciptakan lingkungan yang nyaman untuk belajar, dan (3) keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Dari segi kualitas hasil, penelitian ini juga meningkatkan kemampuan siswa dari aspek (1) menentukan ide, (2) membuat kerangka karangan melalui mind mapping, (3) mengembangkan kerangka menjadi karangan yang utuh, dan (4) membuat karangan sesuai tata cara penulisan yang benar dan bahasa Jawa yang tepat.

Hasil observasi awal serta pengamatan yang dilakukan oleh peneliti ditemukan beberapa masalah, antara lain (1) guru menjelaskan materi serta memberikan contoh membuat karangan terlalu lama pada siswa, (2) hanya beberapa siswa yang antusias mendengarkan penjelasan guru, (3) guru memberikan tugas pada siswa secara berkelompok pada kompetensi dasar menulis karangan, sehingga dari masing-masing kelompok hanya beberapa anggota yang mengerjakan, sedangkan yang lain bermain dan ramai dengan sendirinya, dan (4) penilaian sulit dilakukan karena banyak kelompok yang tidak kompak.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran bahasa Jawa menjelaskan, faktor penghambat yang dialami siswa, yaitu minat yang kurang pada siswa untuk mempelajari bahasa Jawa, sehingga siswa kurang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Dalam hal ini guru berperan aktif dalam memberikan solusi agar permasalahan ini tidak berlarut-larut. Guru memanfaatkan media pembelajaran di dalam kelas, agar tercipta suasana kondusif agar siswa semangat dalam belajar. Media tersebut adalah berupa kertas kosong yang nantinya akan dijadikan media dalam membuat mind mapping.

Hasil pengamatan yang dilakukan peneliti pada prasiklus menunjukkan bahwa 28 siswa yang belum tuntas membuat karangan narasi bahasa Jawa. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain (1) guru memberikan tugas secara berkelompok sehingga peneliti kesulitan dalam memberikan nilai secara individu, (2) siswa kurang tertarik dengan pelajaran membuat karangan, dan (3) siswa kesulitan membuat ide dan merangkainya menjadi cerita yang runtut.

Pada siklus pertama untuk pertemuan pertama, Peneliti serta beberapa observer mengamati secara langsung aktivitas siswa dalam mengerjakan mind mapping. Dalam hal ini ditemukan beberapa siswa masih kesulitan dalam menuangkan idenya pada kertas, dan beberapa siswa pula nampak antusias karena seperti pelajaran menggambar. Pada pertemuan ke dua, peneliti dan observer mengamati serta mengontrol pekerjaan siswa. Tidak jarang siswa yang merasa kesulitan memanggil peneliti untuk meminta penjelasan. Siswa nampak lebih mudah membuat mind mapping, tetapi sedikit kesulitan untuk membuat karangan dari media mind mapping. Hasil pengamatan nampak beberapa siswa kesulitan menuangkan ide sehingga peneliti membantunya untuk menemukan ide. Setelah kegiatan pembelajaran berakhir, peneliti melakukan refleksi dengan siswa dengan menanyakan kesulitan dalam menulis karangan narasi. Namun hal ini dilakukan belum maksimal, karena jam pelajaran telah berakhir. Kegiatan pembelajaran melebihi jam yang telah ditentukan dikarenakan siswa lama dalam membuat karangan, siswa terlalu menikmati membuat kerangka karangan dalam bentuk mind mapping sehingga waktunya sedikit dalam mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan utuh. Hasil refleksi tersebut menjadi pertimbangan peneliti untuk melakukan perencanaan siklus kedua. Peneliti membuat proses pembelajaran akan dapat dinikmati semenarik mungkin oleh siswa, yakni dengan memberikan motivasi dan contoh mind mapping yang lebih menarik bagi siswa.

Pada siklus kedua siswa berhasil membuat mind mapping lebih baik dari siklus pertama, siswa sudah mulai terbiasa dengan pelajaran menulis karangan narasi. Observer menemukan data bahwa keseluruhan proses belajar di siklus kedua telah lebih sempurna daripada siklus pertama. Hasil pengamatan observer terhadap siswa saat proses belajar mendapatkan data bahwa apersepsi dan motivasi yang dilakukan peneliti membuat siswa menjadi aktif di kelas. Hasil refleksi menunjukkan bahwa seluruh kekurangan utama yang terjadi pada siklus pertama telah teratasi dengan baik.

Hasil observasi penilaian proses terhadap aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran pada siklus I menunjukan bahwa aktivitas siswa belum berlangsung dengan baik, karena skor yang diperoleh siswa berkisar antara 7-8, sedangkan skor maksimal yang harus dicapai adalah 12. Hasil observasi terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran menulis narasi pada siklus I adalah 58,5 %. Pada siklus II aktivitas siswa sudah berlangsung dengan baik, hal ini ditunjukkan dengan tercapainya 70,1 % pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan 11,6 % dari siklus I ke siklus II.

Hasil observasi penilaian hasil, perolehan tes dalam siklus I kurang baik. Tindakan belum dikatakan berhasil karena SKM yang tuntas 30,5 %, dan terdapat dua puluh lima yang belum memenuhi SKM individu sebesar 70. Pada siklus II, perolehan tes sangat baik. Tindakan dikatakan berhasil karena SKM yang tuntas 72,2 %, dan terdapat sepuluh  siswa yang belum memenuhi SKM individu sebesar 70. Hal ini meningkat 41,7 % dari sebelumnya pada siklus I mencapai 30,5 % kini pada siklus II mencapai 72,2 %.

 

PEMBAHASAN

Pada penelitian ini, peneliti berhasil meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil menulis karangan narasi bahasa Jawa pada siswa kelas V SDN Karangbesuki 1 Malang.

Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran Menulis Karangan Narasi Menggunakan Media Mind  Mapping

Pada kualitas proses menulis karangan narasi bahasa Jawa menggunakan media mind mapping, penelitian ini berhasil meningkatkan dari aspek (1) kesungguhan siswa dalam mengerjakan tugas, (2) kerjasama dalam menciptakan lingkungan yang nyaman untuk belajar, dan (3) keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Ketiga aspek ini penting, karena faktor yang mempengaruhi cara belajar siswa di dalam kelas, jika siswa menikmati dalam pembelajaran di dalam kelas, maka dari kualitas hasil akan berdampak secara tidak langsung.

Pada penilaian proses pembelajaran menulis karangan narasi bahasa Jawa pada siklus I terdapat dua siswa yang menunjukkan sikap kesungguhan yang sangat baik, terdapat dua puluh siswa yang mendapatkan nilai baik, terdapat sembilan siswa yang menunjukkan sikap cukup baik, dan empat siswa mendapat nilai kurang baik dikarenakan tidak mengikuti proses pembelajaran dari awal, karena tidak masuk sekolah. Pada siklus II terdapat enam siswa yang mendapatkan nilai sangat baik, terdapat sembilan belas siswa yang mendapatkan nilai baik, dan sembilan siswa yang mendapatkan nilai cukup baik. Sikap kesungguhan mengerjakan tugas dengan kategori sangat baik ditunjukkan dengan keseriusan dan perhatian. Sikap kesungguhan mengerjakan tugas dengan kategori kurang baik ditunjukkan dengan sikap acuh, lebih suka mengobrol, dan bermain dari pada mengerjakan tugas yang telah diberikan, meskipun pada akhirnya tetap mengerjakan tugas, namun disisa waktu terakhir sebelum dikumpulkan dan dengan hasil yang kurang bagus.

Kesungguhan siswa dalam proses pembelajaran mempengaruhi hasil belajar siswa dalam membuat karangan narasi yang baik. Sikap sungguh-sungguh dapat ditunjukkan dengan sikap menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik, sedangkan anak yang kurang bersungguh-sungguh kurang memberikan perhatian khusus pada tugas yang telah diberikan dan cenderung mengerjakan tugas dengan tidak bersemangat. Hal ini sependapat dengan Anitah, dkk (2009:7) faktor dalam diri siswa berpengaruh pada hasil belajar, diantaranya kecakapan, minat, bakat, usaha, motivasi, perhatian, kelemahan, dan kesehatan, serta kebiasaan siswa. Untuk menunbuhkan motivasi dalam belajar merupakan tugas guru untuk terus memberikan dukungan pada siswa.

Berdasarkan wawancara dengan guru kelas, siswa mengalami kesulitan dalam membuat karangan narasi karena siswa merasa kebingungan dalam menuangkan ide atau gagasannya sehingga siswa kurang tertarik dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dalam hal ini guru sebaiknya mendampingi siswa terlebih dahulu agar muncul rasa minat dalam mengerjakan tugas. Terlebih lagi dunia anak sekolah dasar lebih cenderung meminta perhatian lebih dari guru. Hal ini searah dengan pendapat Graver (dalam Suparno dan Yunus, 2011:4) bahwa seseorang enggan menulis karena tidak tahu untuk apa dia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana cara menulis. Untuk itu siswa perlu pendamping seorang guru sebelum mengerjakan tugas membuat karangan narasi. Dengan bantuan guru diharapkan siswa akan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas.

Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I kerjasama siswa menunjukkan bahwa terdapat dua puluh siswa yang mendapatkan nilai baik, dua belas siswa yang mendapatkan nilai cukup baik, dan empat siswa yang mendapatkan nilai kurang baik dikarenakan tidak mengikuti proses pembelajaran dari awal. Pada siklus II menunjukkan lima siswa yang mendapatkan nilai sangat baik, dua puluh dua siswa mendapatkan nilai baik, tujuh siswa mendapatkan nilai cukup baik, dan dua siswa mendapatkan nilai kurang baik dikarenakan tidak mengikuti proses pembelajaran.

Kerjasama dalam sebuah pembelajaran di kelas tidak selalu diartikan dengan melakukan kegiatan bersama-sama. Menurut Sanjaya (2012:173) proses pembelajaran adalah proses yang dapat mengembnagkan potensi siswa. Seluruh potensi itu hanya mungkin dapat berkembang manakala siswa terbebas dari rasa takut dan menyenangkan. Proses pembelajaran yang menyenangkan dapat dilakukan. Pertama, dengan menata ruangan yang apik dan menarik, yaitu yang memenuhi unsur kesehatan, misalnya dengan pengaturan cahaya, ventilasi, dan sebagainya, serta memenuhi unsur keindahan. Kedua, melalui pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi, yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media dan sumber belajar yang relevan serta gerakan-gerakan guru yang mampu membangkitkan motivasi belajar siswa. Dalam proses pembelajaran kali ini kerjasama diartikan, siswa dapat bekerja sama untuk menciptakan suasana kelas yang nyaman, tenang, antar siswa tidak mengganggu satu dengan yang lainnya, dan antar siswa saling memberikan motivasi untuk belajar. Menurut Anitah, dkk (2009:7) faktor dari luar diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar di antaranya adalah lingkungan fisik dan nonfisik (termasuk suasana kelas dalam belajar, seperti riang gembira, menyenangkan).

Penilaian proses dari segi keaktifan dalam pembelajaran siklus I dan II menjunjukkan bahwa pada siklus I terdapat dua puluh siswa yang mendapatkan nilai baik, dua belas siswa mendapatkan nilai cukup baik, dan empat siswa mendapatkan nilai kurang baik dikarenakan tidak mengikuti proses pembelajaran. Pada siklus II menunjukkan tujuh siswa yang mendapatkan nilai sangat baik, dua puluh satu siswa yang mendapatkan nilai baik, tujuh siswa mendapatkan nilai cukup baik, dan empat siswa mendapatkan nilai kurang baik dikarenakan tidak mengikuti proses pembelajaran dari awal.

Untuk menumbuhkan keaktifan pada siswa tersebut salah satu yang digunakan adalah cara umpan balik, menurut Djamarah dan Zain (2006:141) umpan balik yang diberikan oleh anak didik selama pelajaran berlangsung ternyata bermacam-macam, tergantung rangsangan yang diberikan oleh guru. Ransangan guru dalam bentuk tanya tanggapan siswa dalam bentuk jawab. Rangsangan tersebut dapat membantu siswa untuk aktif di dalam kelas. Dalam hal ini penekanan aktif  adalah pada siswa. Menurut Natawijaya (dalam Madfree, 2010) belajar aktif merupakan sistem pembelajaran yang menekankan keaaktifan siswa secara fisik, mental intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

 

Peningkatan Hasil Pembelajaran Menulis Karangan Narasi Menggunakan Media Mind  Mapping

Pada kualitas hasil menulis karangan narasi bahasa Jawa menggunakan media mind mapping, penelitian ini meningkatkan kemampuan siswa dari aspek (1) menentukan ide, (2) membuat kerangka karangan melalui mind mapping, (3) mengembangkan kerangka menjadi karangan yang utuh, dan (4) membuat karangan sesuai tata cara penulisan yang benar dan bahasa Jawa yang tepat. Keempat aspek ini yang menjadi inti dalam pembelajaran ini, karena untuk mengukur pemahaman siswa dan kemampuan siswa dalam membuat sebuah karangan.

Pada penilaian hasil belajar siswa pada siklus I pada aspek menemukan ide, terdapat sembilan siswa berkategori sangat baik, dua puluh tiga berkategori baik, dan empat siswa berkategori kurang baik dikarenakan tidak mengikuti pelajaran dari awal. Pada siklus II, terdapat peningkatan, yakni sembilan siswa berkategori sangat baik, dua puluh empat siswa berkategori baik, satu siswa berkategori cukup baik, dan dua siswa berkategori kurang baik dikarenakan tidak mengikuti pembelajaran dari awal. Untuk menemukan ide tersebut menurut Buzan (2013:4) mind map adalah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan secara harfiah dapat memetakan pikiran-pikiran manusia. Tema adalah suatu hal yang mendasari sebuah karya sastra, didalam tema belum nampak konflik atau isi, karena tema adalah sebuah kulit dari sebuah karya. Hal ini sependapat dengan Basuki dan Hasanah (2001:52) tema adalah gagasan, ide, atau pilihan utama yang mendasari suatu karya.

Tema membuat karya lebih penting dari pada sebuah bacaan hiburan. Pada dasarnya dalam menulis karangan narasi harus memperhatikan sistematis atau runtutan sebuah cerita agar pembaca dapat memahami isi dari karangan tersebut. Munculnya banyak ide di luar cerita harus diperhatikan dalam menulis karangan, untuk itu penggunaan media mind mapping sebagai salah satu solusi agar tetap fokus pada ide cerita yang telah disusun dari awal, jika ada penambahan masih dalam koridor dapat disambungkan dengan ide awal.

Dalam siklus I dan siklus II siswa merasa senang dengan adanya media mind mapping karena cukup membantu dalam menuangkan ide atau gagasan menjadi sebuah kerangka karangan dalam bentuk cabang-cabang. Hal tersebut karena penggunaan media mind mapping memanfaatkan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya. Citra visual dan prasarana grafis berfungsi untuk membuat kesan yang lebih mendalam dalam diri siswa sehingga memudahkan siswa dalam menuangkan ide-ide yang nantinya dirangkai menjadi sebuah karangan narasi bahasa Jawa. Hal ini sejalan dengan pendapat DePorter dan Mike (2002:153) peta pikiran adalah teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membuat kesan. Peta pikiran dianggap sebagai media yang tepat digunakan pada permasalahan siswa kali ini, karena menurut Djamarah dan Zain (2006:127) menentukan media harus tepat sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang akan diajarkan. Pemilihan media yang tepat akan berpengaruh pada hasil, karena fungsi media untuk membantu guru dalam menyampaikan materi dan memahamkan pelajaran pada siswa. Pada hakikatnya proses belajar mengajar menurut Sanjaya (2012:205) adalah proses komunikasi, guru berperan sebagai pengantar pesan dan siswa sebagai penerima pesan. Pesan yang dikirimkan oleh guru berupa isi atau materi pelajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal (kata-kata dan tulisan) maupun nonverbal, proses ini dinamakan encoding. Penafsiran simbol-simbol komunikasi tersebut oleh siswa dinamakan decoding.

 Pada penilaian hasil pada siklus I dan siklus II membuat kerangka karangan menggunakan media mind mapping, menunjukkan hasil yang baik. Pada siklus I terdapat dua siswa berkategori sangat baik, sembilan belas siswa dengan kategori baik, sebelas siswa dengan kategori cukup baik dan empat siswa dengan kategori kurang baik dikarenakan tidak mengikuti pembelajaran dari awal. Pada siklus II terdapat lima siswa berkategori sangat baik, dua puluh sembilan siswa berkategori baik, dan dua siswa berkategori kurang baik dikarenakan tidak mengikuti proses pembelajaran.

Membuat kerangka karangan adalah penjabaran dari sebuah ide, dengan adanya kerangka karangan memudahkan siswa untuk mengarang dan fokus pada ide cerita yang akan diceritakan. Dalam tahap pembelajaran menulis karangan untuk pemula, tanpa adanya kerangka karangan akan sulit mengembangkan sebuah cerita. Dengan bantuan media mind mapping, kerangka karangan akan terasa sederhana, karena siswa cukup menuliskan kata kunci. Melalui kata kunci tersebut, siswa menjabarkan dan merangkai menjadi sebuah paragraf yang padu.

Pada penilaian hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II aspek mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan yang utuh menunjukkan hasil yang baik. Pada siklus I menunjukkan terdapat empat siswa yang mendapatkan nilai sangat baik, dua belas siswa mendapatkan nilai baik, lima belas siswa mendapatkan nilai cukup baik, dan lima siswa mendapatkan nilai kurang baik. Pada siklus II terdapat sembilan siswa yang mendapatkan nilai sangat baik, dua puluh satu siswa yang mendapatkan nilai baik, empat siswa mendapatkan nilai cukup baik, dan dua siswa mendapatkan nilai kurang baik dikarenakan tidak mengikuti pembelajaran dari awal. Menurut Suparno dam Yunus (2011:23) pengembangan paragraf terwujud atau terpenuhi jika kalimat topik sudah dilengkapi dengan kalimat-kalimat pengembang. Mengembangkan paragraf naratif menurut Mulyati, dkk (2009:23) biasanya topik paragraf dikemukakan secara tersirat, yaitu tersirat dalam keseluruhan kalimat yang digunakan untuk membangun paragraf. Paragraf naratif terdiri atas rangkaian peristiwa yang disajikan menurut urutan waktu.

Pada penilaian hasil belajar siswa aspek membuat karangan sesuai tata cara penulisan yang benar serta penggunaan bahasa Jawa yang tepat pada siklus I dan siklus II menunjukkan hasil yang cukup baik. Pada siklus I terdapat dua dengan kategori sangat baik, enam belas siswa dengan kategori baik, empat belas siswa dengan kategori cukup baik, dan empat siswa dengan kategori kurang baik. Pada siklus II terdapat sebelas siswa dengan ketegori sangat baik, delapan belas siswa dengan kategori baik, lima siswa dengan kategori cukup baik, dan dua siswa dengan kategori kurang baik dikarenakan tidak mengikuti pembelajaran dari awal. Menurut Parera (1989:4) yang termasuk dalam keterampilan berbahasa dan membahasakan ialah keterampilan penggunaan ejaan, tanda baca, pembentukan kata, pemilihan diksi, penggunaan kalimat, pengefektifan kalimat, dan membahasakan pikiran dengan cermat, tepat, logis, dan konsisten. Hal itu sependapat dengan Mulyati, dkk (2009:4) dalam menulis sebuah karangan, apa pun bentuk organisasi karangan itu, tentu saja harus memilih kata dan bentukannya yang tepat dalam menyusun kalimat. Kemudian, kalimat-kalimat itu dirangkai sehingga terbentuklah paragraf-paragraf, dan selanjutknya terwujudlah sebuah karangan yang utuh dengan menggunakan organisasi karangan tertentu. Dalam menuliskan kata serta kalimat, perlu pula memperhatikan dan menaati konvensi tata tulis lainnya. Ini berarti dalam menulis, dituntut untuk dapat memilih kata yang tepat, menggunakan bentuk yang benar, menyusun kalimat yang efektif, dan memperhatikan aspek ejaan serta organisasi karangan. Dalam penelitian ini, guru meminta siswa mengarang menggunakan bahasa Jawa jenis ngoko. Hal ini untuk mempermudah siswa dalam menggunakan bahasa Jawa, karena bahasa Jawa jenis ngoko lebih sering digunakan siswa dalam percakapan sehari-hari.

 

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Simpulan pada penelitian ini terdapat dua, yakni kualitas proses menulis karangan narasi bahasa Jawa dan kualitas hasil menulis karangan narasi bahasa Jawa pada siswa sekolah dasar.

Pada kualitas proses, yang meliputi aspek kesungguhan, kerjasama dan keaktifan siswa terdapat peningkatan pada siklus I, yakni dari 36 siswa terdapat 21 siswa yang belum tuntas. Pada siklus II terjadi peningkatan, yakni dari 36 siswa terdapat 12 siswa yang belum tuntas. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan media mind mapping dapat meningkatkan kualitas proses pada pembelajaran menulis karangan narasi bahasa Jawa.

Pada kualitas hasil, yang meliputi aspek menemukan ide, membuat kerangka karangan, mengembangkan kerangka menjadi karangan yang utuh, dan membuat karangan sesuai tata cara penulisan dan penggunaan bahasa Jawa yang tepat, hasil belajar siswa sebelum tindakan diberikan, yakni dari 36 siswa terdapat 28 siswa yang belum tuntas. Setelah diberikan tindakan, terjadi peningkatan pada siklus I, yakni dari 36 siswa terdapat 25 siswa yang belum tuntas. Pada siklus II terjadi peningkatan, yakni dari 36 siswa terdapat 10 siswa yang belum tuntas memenuhi SKM 70. Dalam pembelajaran menulis karangan narasi bahasa Jawa menggunakan media mind mapping nampak siswa lebih tertarik dan siswa terkondisikan dengan baik. Siswa tidak lagi ramai atau mengantuk. Pada akhir siklus banyak siswa memenuhi SKM 70. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan media mind mapping dapat meningkatkan kualitas hasil pada pembelajaran menulis karangan narasi bahasa Jawa.

 

Saran

Saran dalam penelitian ini, yaitu (1) bagi peneliti lain, (2) bagi guru, dan (3) bagi Kepala Sekolah.

Pertama, bagi para peneliti yang lain, diharapkan media mind mapping lebih dikembangkan lebih kreatif dan inovatif, agar lebih menarik digunakan dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Kedua, bagi para guru, diharapkan media mind mapping dapat dijadikan salah satu variasi media pembelajaran di dalam kelas. Ketiga, bagi Kepala Sekolah, diharapkan dapat memberikan semangat pada guru-guru untuk lebih aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran di dalam kelas, agar siswa menikmati sebuah proses pembelajaran tanpa paksaan.

 

DAFTAR RUJUKAN

Anitah, W. S, Hernawan, A. H, Ruhimat, T, Wardani, dan Juleha, S. 2009. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Basuki, I. A dan Hasanah, M. 2001. Kajian Unsur-Unsur Prosa Fiksi. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Buzan, T. 2013. Buku Pintar Mind Mapping. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

DePorter, B dan Mike, H. 2002. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Penerbit Kaifa.

Djamarah, S. B dan Zain, A. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Madfree. 2010. Aktivitas Belajar, (Online), (http://id.shvoong.com/social-sciences/1961162-aktifitas-belajar.html), diakses 24 November 2014.

Mulyati, Y, Tarmizi, Arifin, B, Cahyani, I, dan Setiawati, L. 2009. Keterampilan Berbahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Parera, J. D. 1989. Menulis Tertib dan Sistematik. Jakarta: Erlangga.

Primala, N. 2012. Meningkatan Keterampilan Menulis Narasi melalui Model Mind Mapping Pada Siswa Kelas IV SDN Mlancu II Kabupaten Kediri. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Sari, R. T. 2013. Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Menulis Narasi melalui Model Pembelajaran Mind Mapping pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV SDN Bareng 4 Kota Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Sanjaya, W. 2012. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Suparno dan Yunus, M. 2011. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.