SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pembelajaran Berbicara Bahasa Indonesia Kelas X SMKN 12 Malang Tahun Ajaran 2012/2013

Ratna Dwi Susanti

Abstrak


ABSTRAK

Keterampilan berbicara merupakan salah satu aspek kebahasaan yang wajib dikuasai oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pada manajemen sekolah SMKN 12 Malang disebutkan bahwa lulusan SMK wajib menguasai beberapa kompetensi, diantaranya berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun, serta menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Berdasarkan pernyataan tersebut, keterampilan berbicara wajib dikuasai siswa agar lulus dari sekolah. Pembelajaran memegang peranan penting dalam penguasaan keterampilan berbicara. Komponen yang ada di dalam pembelajaran perlu diteliti secara cermat untuk mengetahui pengaruhnya dalam penguasaan keterampilan berbicara.

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan beberapa hal, meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan kendala pembelajaran berbicara kelas X SMKN 12 Malang tahun ajaran 2012/2013.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari pembelajaran berbicara kelas X TKJ 3 SMKN 12 Malang. Pengumpulan data diperoleh dengan menggunakan teknik observasi, angket, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan meliputi instrumen kunci dan penunjang. Instrumen kunci, yakni peneliti sendiri dan instrumen penunjang berupa lembar catatan lapangan, angket, kamera, handycam, dan alat tulis. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi dan ketekunan pengamatan. Teknik analisis data terdiri dari tiga tahap pokok, yaitu reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan.

Berikut penjabaran hasil penelitian pembelajaran berbicara kelas X SMKN 12 Malang. Perencanaan pembelajaran mencakup perumusan skenario pembelajaran, penyusunan materi, dan penyediaan media. Bukti fisik perencanaan pembelajaran adalah RPP. RPP yang dirumuskan guru sudah cukup baik. Namun terdapat kekurangan pada RPP yang disusun guru, yakni alokasi waktu pada langkah-langkah pembelajaran kurang rinci, materi yang tercantum pada RPP masih kurang lengkap, dan media pembelajaran tidak dilampirkan.

Pelaksanaan pembelajaran berbicara di SMKN 12 Malang tidak sesuai dengan RPP. Pembelajaran seharusnya dilaksanakan dua kali, tetapi menjadi tiga kali. Pelaksanaan pertemuan pertama lancar, terkendali, dan sesuai dengan perencanaan guru seperti yang tercantum pada RPP. Hampir semua siswa berpartisipasi dalam pembelajaran. Namun, pelaksanaan pertemuan kedua dan ketiga kurang maksimal. Penyebabnya adalah metode yang dipilih guru kurang mampu menarik minat siswa. Siswa kurang fokus pada pembelajaran, akibatnya kompetensi yang harus dikuasai tidak dapat dicapai secara maksimal.

Penilaian dilakukan oleh guru dan siswa dengan berpedoman pada instrumen penilaian. Instrumen penilaian berupa rubrik penilaian yang disusun dengan jelas dan disertai rambu-rambu penilaian. Namun, nilai yang diberikan oleh guru maupun siswa tidak sepenuhnya mengacu pada rubrik penilaian.

Kondisi pembelajaran berbicara bahasa Indonesia kelas X SMKN 12 Malang, yakni RPP yang disusun guru kurang lengkap, metode yang dipilih guru kurang efektif, guru kurang maksimal dalam mengendalikan dan mengarahkan siswa mengikuti pembelajaran, sebagian besar siswa gugup saat berpidato maupun menyampaikan tanggapan, sebagian besar siswa tidak senang berpidato, dan beberapa siswa kurang bersemangat mengikuti pembelajaran.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan (1) perencanaan pembelajaran berbicara di SMKN 12 Malang meliputi perumusan skenario pembelajaran, penyusunan materi, dan penyediaan media yang terangkum dalam bentuk RPP; (2) pelaksanaan pembelajaran berbicara di SMKN 12 Malang kurang maksimal dan tidak sepenuhnya sesuai dengan perencanaan; (3) penilaian pembelajaran berbicara di SMKN 12 Malang dilakukan oleh guru dan siswa, tetapi penilaian tidak sepenuhnya menggunakan rubrik penilaian; dan (4) kendala yang muncul pada pembelajaran berbicara di SMKN 12 Malang, yakni guru kurang mampu mengorganisasi kelas dan siswa kurang berminat terhadap metode pembelajaran.       Saran yang dapat peneliti berikan berdasarkan hasil penelitian pembelajaran berbicara bahasa Indonesia di SMKN 12 Malang sebagai berikut. Guru harus lebih cermat dalam merencanakan pembelajaran. Penentuan metode dan media sebaiknya disesuaikan dengan minat siswa. Metode yang dipilih harus mampu mengakomodasi semua siswa untuk performansi. Penilaian pembelajaran berbicara umumnya memerlukan waktu yang relatif lama karena siswa harus tampil satu persatu. Salah satu cara untuk menyiasati hal tersebut, yakni dengan menggunakan peer assessment. Misalnya, siswa membentuk kelompok, kemudian menilai penampilan teman dengan mengacu pada rubrik penilaian yang telah disediakan guru. Dengan cara tersebut, semua siswa berkesempatan untuk performansi dan memperoleh nilai. Dalam melaksanakan pembelajaran berbicara, guru hendaknya memberi contoh/pemodelan agar siswa dapat melaksanakan tugas secara maksimal serta dapat mengurangi potensi melakukan kesalahan. Dalam melakukan penilaian, guru hendaknya selalu berpedoman pada instrumen penilaian. Hal ini penting dilakukan untuk mengurangi subjektivitas penilaian dan menjaga kevalidan nilai yang diberikan.

Siswa harus lebih fokus pada pembelajaran. Apabila ada materi atau penjelasan yang kurang dipahami hendaknya bertanya kepada guru atau teman yang lebih paham. Siswa hendaknya berlatih di rumah agar lebih siap saat performansi sehingga kompetensi yang harus dikuasai dapat dicapai secara maksimal.

Peneliti lanjutan sebaiknya melakukan penelitian di luar objek yang telah diteliti. Penelitian dapat difokuskan pada faktor penunjang dan penghambat dalam pembelajaran maupun problematika pembelajaran. Dengan demikian, hasil penelitian dapat menjadi acuan bagi pendidik untuk membenahi pembelajaran agar lebih efektif dan maksimal.