SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Karakteristik Kompetensi Dasar Aspek Menyimak pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang SMP

Habsari Rahayu Fakhrunnia

Abstrak


ABSTRAK

 

Fakhrunnia, Habsari Rahayu. 2013. Karakteristik Kompetensi Dasar Aspek Menyimak pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang SMP. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Titik Harsiati, M.Pd, (II) Karkono, S.S., M.A.

 

Kata Kunci: kompetensi dasar menyimak, KTSP, SMP

 

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 19. Di dunia pendidikan dikenal adanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pembelajaran Bahasa Indonesia pada KTSP mencakup empat keterampilan berbahasa yang dipelajari. Empat keterampilan tersebut adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Komptensi dasar menyimak dipilih karena aspek menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang paling mendasari keterampilan berbahasa lainnya dan masih jarang yang meneliti.

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik kompetensi dasar menyimak pada KTSP jenjang SMP, yaitu mengetahui ragam menyimak dalam kompetensi dasar menyimak pada KTSP jenjang SMP, tingkatan berpikir dalam kompetensi dasar menyimak pada KTSP jenjang SMP, pengurutan kompetensi dasar menyimak pada KTSP jenjang SMP, dan perbandingan jenis teks dalam kompetensi dasar menyimak pada KTSP jenjang SMP. Penelitian ini bermanfaat bagi pengamat pendidikan untuk melihat bagaimana karakteristik atau ciri-ciri umum dan perbandingan kompetensi dasar menyimak tingkat SMP.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa standar isi yang dikembangkan oleh BSNP tentang kompetensi dasar menyimak pada KTSP jenjang SMP. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik studi dokumen. Instrumen yang digunakan yakni manusia (peneliti sendiri) dan dibantu oleh instrumen pembantu yakni tabel analisis. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan perpanjangan pengamatan, triangulasi dengan dosen pembimbing dan rekan sejawat. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap identifikasi dan klarifikasi data dan tahap penyimpulan data.

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh tiga simpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, karakteristik menyimak ditinjau dari ragam menyimak dalam kompetensi dasar menyimak KTSP jenjang SMP dapat disimpulkan bahwa kompetensi dasar menyimak pada kelas VII terdiri atas 1 kompetensi dasar ragam menyimak kritis, 4 kompetensi dasar ragam menyimak konsentratif, 1 kompetensi dasar ragam menyimak kreatif, dan 2 kompetensi dasar ragam menyimak eksplorasif. Kompetensi dasar menyimak pada kelas VIII terdiri atas 4 kompetensi dasar ragam menyimak kritis dan 5 kompetensi dasar ragam menyimak konsentratif. Kompetensi dasar menyimak pada kelas IX terdiri atas 2 kompetensi dasar ragam menyimak kritis, 5 kompetensi dasar ragam menyimak konsentratif, dan 1 kompetensi dasar ragam menyimak eksplorasif. Kompetensi dasar menyimak jenjang SMP termasuk ke dalam jenis menyimak intensif dengan berbagai ragamnya. Seluruh kompetensi dasar menyimak Bahasa Indonesia jenjang SMP termasuk dalam ragam menyimak intensif yang diarahkan pada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu dibandingkan dengan menyimak ekstensif yang lebih bebas dan lebih umum tanpa bimbingan langsung dari guru.

Kedua, karakteristik menyimak ditinjau dari tingkatan berpikir dalam kompetensi dasar menyimak pada KTSP jenjang SMP dapat disimpulkan bahwa tingkatan berpikir yang dipelajari di kelas VIII adalah menghafal  (C1), memahami (C2), menganalisis (C4), dan mengevaluasi (C5). Tingkatan berpikir yang dipelajari di kelas IX adalah menghafal (C1), memahami (C2), menganalisis (C4), dan mengevaluasi (C5). Kompetensi dasar menyimak di SMP  menggunakan tingkatan berpikir menghafal (C1), memahami (C2), mengaplikasikan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan membuat (C6). Jadi tingkatan berpikir siswa SMP sesuai Taksonomi Bloom berawal dari tingkatan berpikir terendah ke tertinggi. Tingkatan berpikir siswa SMP berawal dari tingkatan berpikir menghafal (C1) hingga tingkatan berpikir membuat (C6).

Ketiga, karakteristik menyimak ditinjau dari pengurutan kompetensi dasar menyimak pada KTSP jenjang SMP dapat disimpulkan bahwa kompetensi dasar menyimak ada yang sesuai dengan urutan Hierarkis Taksonomi Bloom berawal dari kompetensi dasar dengan tingkatan berpikir yang rendah ke tingkatan berpikir yang lebih tinggi. Tetapi ada juga beberapa kompetensi dasar menyimak pada KTSP jenjang SMP yang tidak sesuai dengan urutan Hierarkis Taksonomi Bloom berawal dari kompetensi dasar dengan tingkatan berpikir tinggi ke tingkatan berpikir rendah. Hanya kompetensi dasar di kelas IX yang seluruh kompetensi dasar berurutan sesuai dengan Hierarkis Taksonomi Bloom berawal dari kompetensi dasar dengan tingkatan berpikir yang rendah ke tingkatan berpikir yang lebih tinggi.

Keempat, karakteristik menyimak ditinjau dari jenis teks dalam kompetensi dasar menyimak pada KTSP jenjang SMP dapat disimpulkan bahwa pada kelas VII jenis teks dalam materi kompetensi dasar menyimak adalah berita, dongeng, wawancara, dan puisi. Pada kelas VIII jenis teks dalam materi kompetensi dasar menyimak adalah laporan, drama, berita, dan novel. Pada kelas IX jenis teks dalam materi kompetensi dasar menyimak adalah dialog interaktif, syair, pidato, dan novel. Jenis teks pada materi di kelas VIII adalah yang paling sulit dibandingkan kelas VII dan IX. Kemampuan dasar dan jenis teks mudah harus didahulukan, kemudian dilanjutkan dengan kemampuan dasar yang kandungan materi dan jenis teksnya lebih sukar.