SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

KEMAMPUAN MENULIS CERKAK SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 NGORO

Rosalia Dianing Ratri

Abstrak


ABSTRAK

Pembelajaran sastra di sekolah menengah pertama (SMP) mempunyai fungsi penting, dalam kurikulum 2004 dikatakan bahwa fungsi utama pembelajaran sastra adalah sebagai penghalus budi, peningkatan kepekaan, rasa kemanusiaan, kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya, penyalur gagasan, imajinasi, ekspresi, secara kreatif, dan konstruksi, baik secara lisan maupun tulis.  Pembelajaran berpedoman pada kurikulum yang telah ditetapkan. Kurikulum terdiri dari dua jenis, yaitu kurikulum nasional dan kurikulum lokal. Kurikulum nasional merupakan seperangkat rencana dan pengaturan pembelajaran yang isi dan bahannya ditetapkan secara nasional, sedangkan kurikulum muatan lokal merupakan seperangkat rencana dan pengaturan pembelajaran yang isi dan bahannya disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan daerah.

Depdikbud (1994) menyebutkan bahwa kurikulum muatan lokal bertujuan (1) mempertahankan kelestarian budaya daerah dan ditujukan pada usaha pembaruan atau modernisasi; (2) mengenalkan dan mengakrabkan siswa dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya; (3) membentuk sikap dan perilaku siswa yang selaras dengan nilai atau aturan yang berlaku di daerah; (4) melatih siswa agar mampu mengembangkan nilai luhur budaya setempat dalam menunjang pembangunan nasional; dan (5) mengembangkan sumber daya alam dan sumber daya manusia di daerah sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan daerah.

Bahasa daerah merupakan sarana yang efektif untuk melestarikan dan menanamkan budi luhur bagi setiap siswa. Bahasa daerah mampu memberikan pengetahuan tambahan kepada siswa berupa sopan santun dan budi pekerti. Berdasarkan KTSP bahasa daerah, dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi pembelajaran, hal ini perlu diselaraskan dengan peran guru yang mampu menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan.

Ada empat aspek yang harus dipelajari dalam pembelajaran bahasa jawa yaitu ketrampilan basa. Paramasastra membahas kata, kalimat, ilmu bahasa dan makna kata. Kawruh basa mempelajari peribahasa, antonim, sinonim, dan sebagainya. Ketrampilan basa terdiri terdiri atas empat aspek yaitu membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Kasusastraan meliputi teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra dan apresiasi sastra.

Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan cerkak sudah banyak dilakukan, antara lain penelitian yang dilakukan oleh Mistri Utami dengan judul Penggunaan Cerpen Majalah Jayabaya dalam Pembelajaran Kesastraan Jawa ( Kajian Deskripsi Tentang Pembelajaran Muatan Lokal di SMPN 4 Malang) pada tahun 2007. Penelitian ini mengkaji tentang pembelajaran apresiasi prosa fiksi bahasa Jawa dengan menggunakan cerpen majalah Jaya Bayapada siswa kelas VIII SMPN 4 Malang meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, penilaian, faktor pendukung dan penghambat, dan upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sebelum melaksanakan pembelajaran apresiasi prosa fiksi bahasa Jawa dengan menggunakan cerpen majalah Jaya Baya, guru telah menyusun perangkat pembelajaran berdasarkan kurikulum 2004 yang meliputi program tahunan, program semester, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran; (2) pembelajaran dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup; (3) penilaian yang dilakukan mencakup tiga kategori, yaitu aspek penilaian, cara penilaian, dan pelaporan hasil penilaian; (4) faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran ini datang dari siswa, guru, media, dan sekolah; dan (5) upaya untuk mengatasi kendala dalam pembelajaran ini telah dilakukan oleh siswa dan guru.

Penelitian tentang mengapresiasi cerkak pernah dilakukan oleh Mochammad Afri Surahman dengan judul Kemampuan Mengapresiasikan Cerkak dalam Majalah Jayabaya Siswa Kelas VIII SMPN I Srengat Blitar. Penelitian ini mengkaji tentang kemampuan mengapresiasi cerkak dalam majalah Jayabaya.Hasil penelitian adalah Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengapresiasi cerkak majalah jayabaya sudah memenuhi standar ketuntasan minimal 70. untuk apresiasi alur, terdapat 34 siswa atau 87,18% yang memenuhi SKM. Untuk apresiasi latar cerita, terdapat 38 siswa atau 97,44% siswa yang meenuhi SKM. Kemampuan apresiasi karakter, terdapat 35 siswa atau 89,74% siswa yang memenuhi SKM. Untuk apresiasi tema, terdapat 22 siswa atau 56,41% siswa yang memenuhi SKM. Untuk apresiasi sudut pandang, terdapat 10 siswa atau 25,64% siswa yang memenuhi SKM. Sedangkan apresiasi secara keseluruhan, terdapat 32 siswa atau 82,05% siswa yang memenuhi SKM.

Penelitian tentang menyimak cerkak pernah dilakukan oleh Sesillya Devi Libdiati dengan judulKemampuan Menyimak Cerkak Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Karangploso Tahun Ajaran 2010/2011, penelitian ini mengkaji tentang kemampuanmenyimakCerkaksiswakelas VIII SMP Negeri 1 Karangploso. Hasil penelitian adalah kemampuan siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Karangploso dalam menemukan tema/gagasan pokok Cerkak yang diperdengarkan sudah baik. Kemampuan siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Karangploso dalam menemukan amanat Cerkak yang diperdengarkan sudah baik. Kemampuan menyimak Cerkak siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Karangploso dalam menemukan penokohan dari Cerkak yang diperdengarkan sudah baik. Kemampuan menyimak Cerkak siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Karangploso dalam menemukan setting dari Cerkak yang diperdengarkan sudah baik. Kemampuan menyimak Cerkak siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Karangploso dalam menemukan alur dari Cerkak yang diperdengarkan cukup baik.

METODE

Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu.

Instrumen penelitian yang digunakan dalam proses penelitian ini adalah tes menulis untuk mengukur kemampuan menulis cerkak siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngoro.

Sesuai dengan sumber data berupa teks cerkak dari para siswa, maka teknik penilaian yang digunakan ad alah teknik analitik, teknik analitik digunakan untuk memberikan nilai secara lebih objektif serta dapat memperoleh informasi secara rinci tentang kemampuan siswa. Penilaian analitik merinci naskah cerkak dalam aspek-aspek tertentu. Aspek yang diteliti dalam penelitian ini meliputi : (1) kemampuan siswa dalam memilih judul, (2) kemampuan siswa dalam memilih dan mengembangkan alur, (3) kemampuan siswa dalam memilih dan mengembangkan tokoh, (4) kemampuan siswa dalam menggambarkan latar, dan (5) kemampuan siswa dalam menggunakan sudut pandang penceritaan,

Skor akhir kemampuan menulis cerkak dijadikan nilai dengan rumus :

N=          skor mentah                 x 100       

Skor maksimum ideal

(Sudijono, 2001:318)

Dalam usaha menjaring data kemampuan menulis cerkak, teknik yang digunakan adalah penilaian. Penilaian menulis cerkak diberikan pada tiap aspek secara merata. Siswa yang mampu memperoleh nilai maksimal pada keseluruhan aspek penelitian akan memperoleh nilai akhir 100. Nilai kumulatif itu kemudian diterjemahkan ke dalam nilai yang ditetapkan berdasarkan Pendekatan Acuan Patokan (PAP).  Untuk menentukan kualifikasi kemampuan siswa digunakan tabel pedoman sebagai berikut :

Tabel 2.2 PEDOMAN KLASIFIKASI NILAI

Interval Persentase Tingkat Penguasaan

               

Rentang Nilai

               

Kualisifikasi Kemampuan

80 % – 100 %

80  – 100

Baik

40 % – 79 %

40  – 79

Cukup

0 % – 39 %

0  – 39

Kurang

 

HASIL

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngoro kurang mampu mencapai standart ketuntasan dalam menentukan judul, hal ini dapat dibuktikan dengan rincian : (a) Siswa yang memperoleh nilai 80 – 100 dengan kualifikasi baik sebesar 53%, (b) Siswa yang memperoleh nilai 40 – 79 dengan kualifikasi cukup sebesar 47%, dan (c) tidak ada siswa yang memperoleh nilai 0 – 39 dengan kualifikasi kurang.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngoro kurang mampu mencapai standart ketuntasan dalam memilih dan mengembangkan alur, hal ini dapat dibuktikan dengan rincian : (a) Siswa yang memperoleh nilai 80 – 100 dengan kualifikasi baik sebesar 28%, (b) Siswa yang memperoleh nilai 40 – 79 dengan kualifikasi cukup sebesar 53%, dan (c) Siswa yang memperoleh nilai 0 – 39 dengan kualifikasi kurang sebesar 19%.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngoro  mampu mencapai standart ketuntasan dalam memilih dan mengembangkan tokoh, hal ini dapat dibuktikan dengan rincian : (a) Siswa yang memperoleh nilai 80 – 100 dengan kualifikasi baik sebesar 62%, dan (b) Siswa yang memperoleh nilai 40 – 79 dengan kualifikasi cukup sebesar 38%.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngoro kurang mampu mencapai standart ketuntasan dalam menggambarkan latar, hal ini dapat dibuktikan dengan rincian : (a) Siswa yang memperoleh nilai 80 – 100 dengan kualifikasi baik sebesar 31%, (b) Siswa yang memperoleh nilai 40 – 79 dengan kualifikasi cukup sebesar 63%, dan (c) Siswa yang memperoleh nilai 0 – 39 dengan kualifikasi kurang sebesar 6%.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngoro kurang mampu mencapai standart ketuntasan dalam menggunakan sudut pandang penceritaan, hal ini dapat dibuktikan dengan rincian : (a) Siswa yang memperoleh nilai 80 – 100 dengan kualifikasi baik sebesar 28%, (b) Siswa yang memperoleh nilai 40 – 79 dengan kualifikasi cukup sebesar 53%, dan (c) Siswa yang memperoleh nilai 0 – 39 dengan kualifikasi kurang sebesar 19%.

PEMBAHASAN

Judul berhubungan dengan cerita secara keseluruhan karena menunjukkan karakter, latar, dan tema. Judul merupakan kunci pada makna cerita. Sering kali judul dari karya sastra mempunyai tingkatan-tingkatan makna yang terkandung dalam cerita. Judul juga dapat berisi sindiran terhadap kondisi yang ingin dikritisi oleh pengarang atau merupakan kesimpulan terhadap keadaan yang sebenarnya dalam cerita (Stanton,1965:25-26).Sebagian besar siswa belum mampu menentukan judul, hal ini dikarenakan sebagian besar siswa kurang kreatif menentukan judul, sehingga judul yang dibuat kurang menarik.

Alur merupakan rangkaian peristiwa yang dialami oleh para pelaku atau tokoh cerita. alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminudin, 1987:83). Susunan alur dalam sebuah cerita secara garis besar dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir ( Dermawan, 2001 : 12). Penahapan alur dapat dirinci lebih spesifik menjadi bagian awal terdiri dari paparan, rangsangan, dan gawatan. Bagian tengah terdiri dari tikaian, rumitan, dan klimaks, dan bagian akhir terdiri dari leraian dan selesaian ( Dermawan, 2001 : 13). Paparan adalah tahap cerita tempat pengarang mulai melukiskan suatu keadaan yang merupakan awal cerita. rangsangan adalah munculnya peristiwa atau kejadian yang mengawali timbulnya gawatan. Gawatan adalah tahapan cerita yang melukiskan tokoh yang terlibat dalam cerita mulai bergerak dan mulai terjadi konflik. Tikaian adalah munculnya perselisihan antartokoh karena adanya kepentingan yang berbenturan tetapi tidak terselesaikan. Rumitan adalah tahapan cerita yang melukiskan konflik-konflik yang memuncak. Klimaks adalah tahapan cerita yang melukiskan peristiwa mencapai puncaknya. Leraian adalah bagian cerita tempat pengarang memberikan pemecahan dari semua peristiwa yang terjadi dalam cerita. selesaian adalah tahap akhir yang merupakan penyelesaian masalah.Sebagian besar siswa belum mampu mengembangkan alur, hal ini dikarenakan siswa lebih mudah memakai alur maju dalam menuliskan cerkak sehingga secara otomatis alur yang dibuat mengikuti urutan kejadian waktu dan kejadian yang alamiah.

Dalam pembicaraan sebuah fiksi, sering digunakan istilah tokoh atau penokohan, watak atau perwatakan, karakter atau karakterisasi secara bergantian dengan mengacu pada pengertian yang sama. Istilah tokoh menunjuka pada orangnya, pelaku cerita. Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas mengenai seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 2005:165).Sebagian besar siswa SMP Negeri 1 Ngoro sudah mampu memilih dan mengembangkan tokoh, namun ada juga yang belum mampu memilih dan mengembangkan tokoh, hal ini dikarenakan siswa masih belum bisa membedakan antara fiksi dan realita.Sehingga tokoh yang mereka buat masih berdasarkan realita.

Aminuddin (2004:67) mengungkapkan bahwa dalam sebuah cerita fiksi, setting bukan hanya berfungsi sebagai latar yang bersifat fisikal untuk membuat cerita menjadi logis. Setting juga memiliki fungsi psikologis sehingga setting pun mampu menuansakan makna tertentu serta mampu menciptakan suasana-suasana tertentu yang menggerakkan emosi atau aspek kejiwaan pembacanya.Suasana tertentu akibat penataan setting oleh pengarangnya itu lebih lanjut juga akan berhubungan dengan suasana penuturan yang terdapat dalam suatu cerita. Suasana penuturan itu sendiri dibedakan antara tone, suasana penuturan yang berhubungan dengan sikap pengarang dalam menampilkan gagasan atau ceritanya. Kemudian ada suasana yang disebut dengan mood yang berhubungan dengan suasana batin individual pengarang dalam mewujudkan suasana cerita. Sementara suasana cerita yang ditimbulkan oleh setting maupun implikasi maknanya dalam rangka membangun suasana cerita diisitilahkan dengan atmosfer. Sebagian besar siswa belum mampu mengembangkan latar, hal ini dikarenakan naluri siswa lebih dekat dengan hubungan yang bersifat familier sehingga mereka lebih suka menceritakan hal yang berhubungan dengan lingkungan yang berada disekitar mereka.

Di dalam sebuah karya fiksi, seperti cerpen, pembaca akan berhadapan dengan dua persona pembawa cerita yang berbeda. Persona tersebut dari satu sisi dapat dipandang sebagai tokoh cerita, namun dari sisi tertentu kadang pula dapat dipandang sebagai pencerita. Sudut pandang dalam karya fiksi mempersoalkan siapa yang menceritakan, dari posisi mana (siapa) peristiwa dan tindakan itu dilihat. Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005:248). Sudut pandang menyaran pada cara sebuah cerita dikisahkan ia merupakan cara yang digunakan oleh pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.Sebagian besar siswa belum mampu menggunakan sudut pandang penceritaan, hal ini dikarenakan siswa tidak bisa memahami konsep penggunaan sudut pandang, seperti sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang ketiga yang serba tahu dan lain lain

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, maka saran ini ditunjukkan kepada guru bahasa Jawa, siswa, dan peneliti selanjutnya. Saran tersebut diuraikan sebagai berikut:

Guru mata pelajaran Bahasa Daerah / Jawa SMP Negeri 1 Ngoro

Guru Bahasa Daerah / Jawa sebaiknya membimbing siswa untuk melakukan tahapan-tahapan dalam proses menulis, yakni pra penulisan, penulisan, penyuntingan dan revisi  dalam setiap pembelajaran menulis karena berdasarkan fakta lapangan ditemukan bahwa cara pembelajaran guru kurang tepat dalam pembelajaran contohnya guru langsung menugasi siswa untuk menulis cerkak. Guru tidak memberikan tahapan menulis kepada siswa oleh karena itulah gagasan-gagasan siswa dalam menulis cerkak menjadi kurang menyatu, kurang berkembang, dan kurang fokus. Cara pembelajaran guru tersebut menyebabkan siswa mengalami kesulitan untuk mengawali menulis cerkak. Siswa merasa bingung ingin menulis apa. Siswa kekurangan ide dan bahkan tidak punya ide untuk ditulis. Hal demikian juga menyebabkan waktu pembelajaran tersita banyak dengan hasil yang kurang maksimal.

Alokasi waktu untuk pembelajaran menulis perlu dipertimbangkan mengingat pembelajaran menulis merupakan kompetensi dasar yang membutuhkan proses yang agak lama.

Disarankan kepada guru bahasa Jawa agar lebih mengupayakan teknik atau cara yang lebih baik dalam proses belajar mengajar yaitu : (a) memperbanyak pemberian tugas kepada siswa untuk membuat cerkak, (b) siswa disarankan untuk lebih intensif dalam membaca cerkak di berbagai media, hal ini penting sekali sebagai bahan acuan dalam menulis cerkak dan membiasakan penggunaan gaya bahasa dalam penulisan cerkak.

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Ngoro

Kepada kepala sekolah disarankan agar mengupayakan media dan sarana belajar yang mendukung pembelajaran

Peneliti selanjutnya

Peneliti lanjut yang berminat mengadakan penelitian dalam kaitannya dengan menulis cerkak, masih ada aspek lain yang perlu diteliti misalnya gaya bahasa, atau unsur ekstrinsik. Dengan demikian akan memperoleh data yang lebih luas dan lebih baik.

DAFTAR RUJUKAN

Ali, Mohamad. 1985. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Azwar, Saifuddin. 2004. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Daryanto, H. 2005. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Kadir, Abdul. 2005. Dari KBK ke Inovasi: Menembus Kemandegan Pendidikan Kita. Edukasi: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. 2005 (4) :19–23.

Libdiati, Sesillya Devi. 2013. Kemampuan Menyimak Cerkak Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Karangploso Tahun Ajaran 2010/2011. Skripsi tidak diterbitkan : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Nurchasanah & Widodo. 1993. Keterampilan Menulis dan Pengajarannya. Malang: FS Universitas Negeri Malang.

Nurkancana, Wayan & Sunartana. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Roekhan. 1991. Menulis Kreatif. Malang: YA3 Malang.