SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Megahnya Budaya di balik Pegunungan: Dinamika Kesenian Bantengan Grup Karya Muda Dusun Payan Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu

Yoni Prawardayana

Abstrak


ABSTRAK

 

Prawardayana, Yoni. 2014. Megahnya Budaya di balik Pegunungan: Dinamika Kesenian Bantengan Grup Karya Muda Dusun Payan Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Hariyono, M.Pd, (II) Dr. GM. Sukamto, M.Pd., M.Si.

 

Kata kunci: Kesenian Bantengan, Dinamika, Pementasan, Grup Karya Muda.

Bantengan adalah seni pertunjukan yang mengombinasikan sendratari dengan pencak silat, adu kesaktian, musik, dan mantra. Kesenian ini memiliki persebaran di wilayah Batu, Malang Raya, Mojokerto, dan Kediri. Para pemain kesenian Bantengan mengenakan tiga kostum binatang, yaitu banteng, macan, dan monyet sebagai simbol dalam rangka mengomunikasikan sebuah pesan moral kepada penikmatnya, yaitu tentang sifat kebaikan yang pasti akan mengalahkan sifat kejahatan. Binatang yang dianggap sebagai simbol kebaikan adalah banteng. Binatang yang dianggap sebagai simbol penjajah, kejahatan, dan angkara murka adalah macan. Binatang yang dianggap sebagai simbol provokator dan antek-antek penjajah adalah monyet.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimanakah perkembangan kesenian Bantengan grup Karya Muda Dusun Payan Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu, (2) bagaimanakah bentuk pementasan kesenian Bantengan grup Karya Muda Dusun Payan Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu, dan (3) apa saja nilai pendidikan kesenian Bantengan grup Karya Muda Dusun Payan Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga teknik, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan cara untuk melakukan pengecekan keabsahan data adalah melalui perpanjangan pengamatan dan trianggulasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kesenian Bantengan grup Karya Muda dalam perkembangannya telah mengalami dinamika, sehingga bentuknya menjadi seperti sekarang. Dinamika yang terjadi dalam kesenian Bantengan grup Karya Muda ini secara garis besar terdiri dari tiga unsur. Dinamika pertama dapat dilihat dari unsur tokoh yang ditampilkan pada saat pementasan. Dua binatang yang dianggap sebagai tokoh inti dalam kesenian Bantengan, yaitu macan dan monyet, hilang dari pementasan. Hilangnya kedua tokoh binatang inti tersebut disebabkan oleh munculnya tokoh binatang baru berwujud singa. Dinamika kedua dapat dilihat dari unsur musik pengiring pementasan. Grup Karya Muda berkreasi dengan menghadirkan berbagai macam variasi-variasi baru, di antaranya adalah penggunaan lagu campursari, lagu dangdut, dan lagu Madura dalam pementasan serta mengombinasikan alat musik utama kesenian bantengan yang terdiri dari  kendang, ketipung,  jidor dan kenteng dengan saron, demung, gong, dan keyboard. Dinamika ketiga dapat dilihat dari unsur pemain yang mengalami trans (ndadi) pada saat pementasan. Kejadian trans yang dialami oleh para pemain ini ternyata sangat jarang ditemui pada saat pementasan era lama (tahun 1970-an). Hal tersebut sangat berbeda apabila dibandingkan dengan pementasan era baru (tahun 2006-sekarang). Pada pementasan era baru, selalu ditemukan adanya pemain yang mengalami trans, hingga bahkan banyak kalangan menganggap bahwa trans merupakan atraksi wajib dalam kesenian Bantengan. Hal inilah yang diduga menyebabkan munculnya suatu fenomena unik dalam kesenian Bantengan, yaitu pura-pura trans. (2) Pementasan kesenian Bantengan selalu diawali dengan dua penyelenggaraan ritual. Ritual pertama adalah pamit ke pundhen. Ritual kedua adalah ritual suguh. Penyelenggaraan kedua ritual ini merupakan sebuah tahapan awal sebelum menuju ke tahapan inti pementasan. Tahapan inti dalam pementasan kesenian Bantengan adalah penampilan berbagai jenis atraksi yang secara garis besar terdiri dari dari peragaan jurus pencak silat dan solah. (3) Ada dua nilai pendidikan yang terkandung di dalam kesenian Bantengan Karya Muda, yaitu nilai kerukunan dan nilai persaudaraan.

Saran untuk peneliti selanjutnya adalah (1) mengembangkan aspek historis kesenian Bantengan, terutama mengenai penggunaan kesenian ini sebagai alat kamuflase latihan pencak silat serta wujud protes dan kritik sosial pada masa pemerintah kolonial Belanda. (2) Mengembangkan dan memperdalam kajian mengenai segala aspek dinamika yang terjadi di suatu grup kesenian Bantengan, terutama dalam unsur-unsur pementasannya. (3) Memperdalam kajian mengenai rangkaian gerakan solah beserta makna simbolis yang terkandung di dalamnya. (4) Memperdalam kajian mengenai kondisi trans yang dialami oleh para pemain kesenian Bantengan pada saat pementasan.