SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Peningkatan Kemampuan Bermain Peran Menggunakan Strategi Pemodelan pada Siswa Kelas VIII D SMP Negeri 2 Blitar

Rista Moviasari

Abstrak


ABSTRAK

 

Sari, Rista Movia. 2014. Peningkatan Kemampuan Bermain Peran Menggunakan Strategi Pemodelan pada Siswa Kelas VIII D SMP Negeri 2 Blitar. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri mlang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd., (II) Dwi Sulistyorini, S.S., M.Hum.

 

Kata kunci: bermain peran, strategi pembelajaran, pemodelan

Pembelajaran bermain peran merupakan salah satu kompetensi dasar pada jenjang SMP. Berdasarkan hasil dari studi pendahuluan pada SMP Negeri 2 Blitar, yaitu dengan pengamatan kegiatan pembelajaran, wawancara dengan guru dan siswa. Kemampuan bermain peran siswa masih belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan, yaitu 75. Pada saat pembelajaran berlangsung konsentrasi siswa kurang, karena pembelajaran dalam kelas masih monoton. Siswa kurang percaya diri dan kurang konsentrasi dalam pembelajaran bermain peran, serta tidak ada contoh langsung dalam pembelajaran bermain peran. Masalah tersebut membuat guru mengalami kesulitan untuk mengendalikan kelas ketika pembelajaran bermain peran berlangsung.

Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan bermain peran aspek vokal dan penghayatan siswa kelas VIII D SMP Negeri 2 Blitar. Melalui strategi pemodelan, diharapkan mampu meningkatkan kemampuan siswa khususnya pada bermain peran secara improvisasi. Strategi ini terdiri dari model membuat kerangka, model pemeran guru dan model pemeranan dari siswa, serta evaluasi. Manfaat penelitian ini adalah membantu siswa mengatasi dalam bermain peran dengan vokal dan penghayatan yang baik dan tepat.

Sesuai dengan tujuan, maka rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilakukan dengan dua siklus pada tanggal 18 sampai 28 Nopember 2013. Pembelajaran bermain peran dalam strategi pemodelan dilakukan dua penilaian. Jenis data penelitian ada dua, yaitu proses dan hasil. Data proses berupa hasil wawancara, catatan lapangan berdasarkan observasi, dan dokumentasi bermain peran selama pembelajaran berlangsung. Data hasil penelitian ini adalah hasil bermain peran dengan menggunakan strategi pemodelan. Data tersebut berupa skor siswa dalam bermain peran berdasarkan aspek vokal dan aspek penghayatan.

Berdasarkan hasil analisis data proses, kemampuan bermain peran menggunakan strategi pemodelan mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Peningkatan tersebut terlihat dari antusias dan semangat siswa mengikuti setiap tahap pembelajaran. Pada kegiatan awal, siswa berlatih vokal, kemudian guru memberikan contoh pemeranan untuk membuka skemata siswa. Guru memberikan latihan konsentrasi, gesture, dan mimik. Selanjutnya, siswa menjadi model pemeranan untuk melatih siswa lain percaya diri. Siswa antusias dalam mengikuti pembelajarannya. Pada kegiatan inti, guru memberikan contoh penulisan kerangka naskah. Selanjutnya siswa menulis kerangka naskah berdasarkan contoh dan tema yang telah disepakati. Siswa mempersiapkan diri untuk bermain peran. Siswa bermain peran dengan antusias. Setiap kelompok mengomentari kelompok yang tampil secara lisan dan tertulis. Pada kegiatan penutup, siswa dan guru melakukan refleksi dengan mengingat kembali kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan. Refleksi digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang materi yang telah dipelajari. Berdasarkan pengamatan proses pembelajaran peningkatan terlihat dari aktivitas, kerjasama, dan interaksi siswa saat mengikuti semua tahap pembelajaran pada studi pendahuluan, siklus I dan siklus II. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari persentase data pengamatan aktivitas, kerjasanma, dan interaksi siswa saat pembelajaran berlangsung. Pada siklus I persentase pengamatan aktivitas, kerjasama, dan interaksi siswa sebesar 87%, sedangkan pada siklus II menjadi 90%.

Berdasarkan analisis data dengan pedoman KKM, yaitu nilai 75, dipaparkan temuan hasil peningkatan kemampuan peraspek. Pada aspek vokal yang meliputi subaspek pelafalan, intonasi, dan volume suara. Rata-rata nilai subaspek pelafalan dari siklus I ke siklus II meningkat dari 69,2% menjadi 88,5%. Subaspek intonasi dari siklus I ke siklus II meningkat dari 80,8% menjadi 96,2%. Susaspek  volume suara dari siklus I ke siklus II meningkat dari 88,5% menjadi 100%. Pada keseluruhan subaspek vokal dari siklus I ke siklus II meningkat dari 65,4% menjadi 88,5%. Pada aspek penghayatan yang meliputi subaspek gesture, mimik, dan harmonisasi antar pemain dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan, yaitu subaspek gesture dari siklus I ke siklus II meningkat dari 84,6% menjadi 100%. Subaspek mimik dari siklus I ke siklus II meningkat dari 84,6% menjadi 96,2%. Subaspek harmonisasi antar pemain dari siklus I ke siklus II meningkat dari 88,5% menjadi 100%. Pada keseluruhan subaspek penghayatan dari siklus I ke siklus II meningkat dari 69,2% menjadi 96,2%.