SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Implementasi Model Interaksi dan Organisasi Pembelajaran Pada Pendidikan Inklusif.

Minarni .

Abstrak


ABSTRAK

 

Minarni. 2014. Implementasi Model Interaksi dan Organisasi Pembelajaran Pada Pendidikan Inklusif. Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd. (2) Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M.Pd., M.Ed. (3) Dr. Yunidar, M.Hum.

 

Kata Kunci:  model interaksi pembelajaran, organisasi pembelajaran, pendidikan inklusif.

Pendidikan inklusif mempunyai arti bahwa sekolah harus mengakomodasi semua anak tanpa mempedulikan keadaan fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, atau kondisi-kondisi lain, termasuk anak-anak penyandang cacat, anak-anak berbakat, pekerja anak dan anak jalanan, anak di daerah terpencil, anak-anak dari kelompok etnik dan bahasa minoritas dan anak-anak yang tidak beruntung dan terpinggirkan dari kelompok masyarakat. Penerapan organisasi pembelajaran atau organisasi belajar adalah suatu konsep dimana organisasi dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri sehingga organisasi tersebut memiliki kecepatan berpikir dan bertindak dalam merespon beragam perubahan yang muncul dalam hal dinamika pembelajaran, transformasi organisasi, pemberdayaan warga sekolah, manajemen pengetahuan, serta aplikasi teknologi.

Fokus penelitian ini adalah bagaimanakah model interaksi pembelajar dan sistem pendukung dalam pelaksanaan pendidikan inklusif. Serta penerapan organisasi pembelajaran dalam hal dinamika pembelajaran, transformasi organisasi, pemberdayaan warga sekolah, manajemen pengetahuan, dan aplikasi teknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Obyek penelitian tidak dimanipulasi atau diberi perlakukan khusus sehingga berada pada kondisi alami. Data dikumpulkan melalui pengamatan di lapangan, kuesioner dan wawancara, kemudian di analisis secara induktif adapun sumber data dalam penelitian ini yaitu: Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Kepala Sekolah, Guru Kelas, Guru Pendamping Khusus, serta siswa, orang tua/komite sekolah sebagai sumber dukungan. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dekriptif, dilaksanakan di wilayah Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Adapun sekolah penyelenggara pendidikan inklusif sebagai lokasi penelitian diwilayah kota palu adalah : Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Palu, Sekolah Menengah Atas Negeri  7 Palu, dan Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Palu.

Hasil penelitian ditemukan bahwa, pendidikan inklusif adalah pendidikan yang tidak diskriminatif terhadap kondisi  perbedaan-perbedaan anak, pendidikan yang ramah terhadap semua perbedaan anak, pendidikan yang merangkul semua perbedaan untuk belajar dalam komunitasnya. Model interaksi pembelajaran pendidikan inklusif dilakukan melalui interaksi pembelajaran yang di individualisasikan dengan sebuah rancangan pembelajaran yang akomodatif terhadap perbedaan individu yang didasarkan kepada gaya, kekuatan dan kebutuhan khusus anak dalam belajar, dengan kata lain anak mengerjakan tugas-tugas sesuai dengan kondisi dan motivasinya. Model interaksi pembelajaran pendidikan inklusif tersebut bertujuan untuk mengoptimalisasikan potensi peserta didik dalam proses pembelajaran dan pendidikannya, sehingga hal ini dilakukan melalui tahapan pembentukan tim, penilaian kebutuhan pembelajaran peserta didik, menuntukan tujuan pembelajaran, merancang metode dan prosedur pembelajaran dan menetapkan evaluasi kemajuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan nilai rata-rata jawaban 3.10 pada kuesioner, berarti pada sekolah penyelenggaran pendidikan inklusif di kota Palu-Sulawesi Tengah, telah mendukung adanya sistem organisasi pembelajaran dan menuju ke implementasi secara total. Hal ini dilihat dari peran serta tenaga pendidik dalam proses organisasi pembelajaran cukup besar. Namun masih dipandang perlu perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaannya, agar mendapatkan hasil yang lebih sempurna.

Beberapa saran yang dapat dikemukakan sesuai dengan hasil penelitian diantaranya, Model interaksi pembelajaran bagi anak inklusi/berkebutuhan khusus harus memperhatikan tingkatkan motivasi, konteks, ketentraman, hubungan sosial, belajar sambil bekerja, individualisasi, dan prinsip memecahkan masalah serta disesuaikan dengan karakteristik masing-masing peserta didik berkebutuhan khusus. Organisasi pembelajaran perlu dipersepsikan merata pada seluruh tenaga pendidik serta untuk penelitian lanjutan dapat dilakukan pada kondisi yang lebih beragam baik dilihat dari proses interaksi maupun dikembangkan dalam implementasi sistem kebijakan pengelolaan pendidikan inklusif, dan pengembangan sistem implementasi organisasi pembelajaran pada skala yang lebih besar.