SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kemampuan menulis ringkasan karangan deskriptif siswa kelas VI SDN Negeri IV Ngunggahan, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung

Ratih Cahyaning Tyastuti

Abstrak


ABSTRAK

 

Tyastuti, Ratih Cahyaning. 2013. Kemampuan Menulis Ringkasan Karangan Deskriptif  Siswa Kelas VI SDN IV Ngunggahan, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nurchasanah, M.Pd. (II) Dr. Heri Suwignyo, M.Pd.

 

Kata Kunci :  kemampuan, menulis, ringkasan

 

Meringkas merupakan sebuah usaha untuk mengungkapkan kembali suatu karangan asli dengan lebih singkat, dengan tetap mempertahankan urutan dan proporsi setiap babnya. Penguasaan keterampilan meringkas hendaknya telah dikuasai oleh siswa sejak sekolah dasar. Selain untuk memenuhi kompetensi dasar yang ada, keterampilan meringkas juga digunakan untuk mata pelajaran lain. Meringkas sering dipandang sebagai keterampilan yang mudah dan bisa dipelajari sendiri oleh siswa, sehingga guru tidak menyampaikan materi ini secara khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VI SDN IV Ngunggahan dalam meringkas karangan, khususnya karangan deskriptif ekspositoris. Kemampuan meringkas siswa dilihat dari aspek kepadatan dan kelengkapan isi pokok karangan, keruntutan dan ketepatan proporsi materi ringkasan, serta keefektifan kalimat.

 Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pen-dekatan kuantitatif. Penelitian ini juga termasuk kategori penelitian populasi, data diperoleh dari seluruh elemen yang ada pada wilayah penelitian yaitu siswa kelas VI SDN IV Ngunggahan. Instrumen yang digunakan yaitu lembar tugas menulis ringkasan, rambu-rambu penilaian kemampuan menulis ringkasan, lembar ceklis(check-list) kemampuan menulis ringkasan, dan panduan penilaian kemampuan menulis ringkasan. Data berupa skor kemampuan siswa dalam menulis ringkasan. Teknik pengumpulan data menggunakan tes tulis. Analisis data dilakukan melalui tiga langkah, yaitu (1) persiapan, (2) tabulasi, dan (3) penerapan data.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam meringkas karangan deskriptif menunjukkan nilai rata-rata 59,61% yang artinya siswa tergolong kurang mampu meringkas.Secara spesifik, kemampuan siswa kelas VI SDN IV Ngunggahan dalam meringkas karangan deskriptif pada aspek kelengkapan isi pokok ringkasan menunjukkan nilai rata-rata 57,69% dengan kategori kurang mampu. Artinya, siswa telah mencantumkan beberapa isi pokok karangan pada ringkasan namun masih lebih banyak terdapat keterangan tambahan. Hal ini disebabkan siswa masih kesulitan dalam menentukan isi pokok karangan dan membuang keterangan tambahan.

Kemampuan siswa kelas VI SDN IV Ngunggahan dalam meringkas karangan deskriptif pada aspek keruntutan dan ketepatan proporsi materi menunjukkan nilai rata-rata 80,77% dengan kategori baik. Artinya, siswa telah meringkas dengan urutan sesuai naskah asli namun proporsi babnya tidak tepat atau tidak sesuai proporsi naskah asli. Ketidaktepatan proporsi materi pada ringkasan siswa disebabkan siswa tidak memahami benar konsep meringkas yaitu penulisannya yang runtut dan tetap mempertahankan proporsi materi sesuai naskah asli.

Kemampuan siswa kelas VI SDN IV Ngunggahan dalam meringkas karangan deskriptif pada aspek keefektifan kalimat menunjukkan nilai rata-rata 40,38% dengan kategori kurang mampu. Artinya, pada ringkasan yang ditulis siswa masih terdapat banyak kesalahan dalam penggunaan kata hubung dan banyak kalimat yang tidak logis. Banyaknya kalimat yang tidak logis pada karangan siswa disebabkan tidak adanya subjek atau objek dalam kalimat, kesalahan dalam penggunaan tanda hubung, dan ide kalimat yang tidak dapat diterima akal sehat. Penggunaan tanda hubung sangat besar peranannya dalam kegiatan meringkas, karena meringkas adalah upaya untuk menyusun kembali isi pokok karangan ke dalam sebuah kalimat atau paragraf yang padu. Kesalahan dalam penggunaan tanda hubung disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memilih tanda hubung yang tepat.