SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Siatem Kekerabatan Bali dalam Kumpulan Cerpen Akar Pule Karya Oka Rusmini

Merry Ike Sandhy

Abstrak


ABSTRAK

 

Sandhy, Merry Ike. 2013. Sistem Kekerabatan Bali dalam Kumpulan Cerpen Akar Pule Karya Oka Rusmini. Skripsi, jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd, (II) Dr. Roekhan, M.Pd.

 

Kata Kunci: sistem kekerabatan Bali, sistem kasta, sistem pernikahan, struktur keluarga

 

Sistem kekerabatan Bali meliputi sistem kasta, sistem pernikahan dan struktur keluarga. Penelitian ini mengungkapkan adanya gambaran sistem kekerabatan yang terdapat dalam kumpulan cerpen Akar Pule. Dalam sistem kasta di Bali dikenal adanya empat golongan pelapisan sosial yang disebut dengan catur warna, dalam catur warna tersebut terdapat empat golongan kasta yaitu: Brahmana, Kesatria, Waisya dan Sudra. Selain bentuk kasta terdapat pula sistem perkawinan yang terdapat dalam masyarakat setempat. Sistem perkawinan tersebut dibagi dalam dua kelompok yaitu perkawinan yang diperbolehkan dan perkawinan yang dilarang. Untuk mengetahui informasi tersebut, peneliti melakukan kajian pada karya sastra yang berupa kumpulan cerpen Akar Pule.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan adanya gambaran sistem kasta, sistem pernikahan dan struktur keluarga yang tergambar dalam kumpulan cerpen tersebut.

Penelitian ini merupakan penelitian kajian teks dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Data penelitian ini berupa data verbal atau paparan bahasa yang menunjukkan adanya gambaran sistem kekerabatan Bali yang terdiri dari gambaran sistem kasta, sistem pernikahan dan struktur keluarga dalam kumpulan cerita pendek Akar Pule karya Oka Rusmini. Data tersebut dikelompokkan menjadi tiga yaitu, data yang berisi tentang sistem kasta, sistem pernikahan dan struktur keluarga Bali. Selanjutnya berdasarkan pengelompokan tersebut dilakukan analisis lebih mendalam untuk memperoleh jawaban dari rumusan masalah. Data yang dianalisis berisi tentang sistem kekerabatan Bali yang tergambar melalui tata cara kehidupan sosial masyarakat Bali berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir dan bersikap. Teknik Analisis data yang digunakan yaitu reduksi, pengelompokan, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data diperlukan teknik ketekunan penelaahan dan kecukupan referensial.

Hasil dari penelitian ini berupa pemerolehan deskripsi tentang gambaran sistem kekerabatan Bali. Sistem kasta yang tergambar dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini yaitu terdapat empat golongan kasta atau yang disebut catur warna. Dalam masyarakat Hindu khususnya Bali dikenal empat segmen masyarakat yang dibedakan berdasarkan fungsinya, masing-masing; Brahmana yakni kelompok masyarakat Hindu yang berfungsi sebagai guru dari rakyat, berperan memberikan tuntunan moral, menyelenggarakan ritus-ritus upacara keagamaan; Kesatria adalah kelompok masyarakat Hindu yang bertugas dalam bidang pemerintahan; Waisya adalah kelompok masyarakat yang mengatur perekonomian; dan Sudra yaitu penyediaan jasa tenaga sebagai pekerja-pekerja dengan etos kerja tinggi.

Gambaran kasta dalam cerpen Akar Pule menunjukkan adanya perbedaan sosial yang mencolok antara golongan bangsawan yaitu Brahmana dan Kesatria dengan golongan kebanyakan yaitu Waisya dan Sudra. Golongan bagsawan memiliki keistimewaan dalam masyarakat karena dihormati oleh golongan yang lain yang berada di bawah mereka. Golongan bangsawan memiliki wilayah yang eksklusif dalam masyarakat.

Gambaran sistem pernikahan dalam kumpulan cerpen Akar Pule terdapat dua kelompok utama yaitu sistem perkawinan yang dilarang dan sistem perkawinan yang diperbolehkan. Sistem pernikahan yang diperbolehkan terdiri dari: (1) pernikahan mepandik/pepandikan (meminang), (2) perbikahan pejangkepan (perjodohan), (3) perkawinan ngerorod/merangkat (lari bersama), (4) pernikahan anuloma (perkawinan lelaki bangsawan dengan wanita dari kasta yang lebih rendah), dan (5) pernikahan sentana menantu (perkawinan yang membuat lelaki ikut dalam klan istri).

Pada sistem pernikahan terlarang terdapat bentuk-bentuk pernikahan sebagai berikut, (1) pernikahan asu pundung yaitu pernikahaan seorang wanita kasta Brahmana dengan lelaki yang lebih rendah kastanya. Gambaran sistem pernikahan tersebut muncul dalam cerpen Tiga Perempuan, antara Pudak dan Bee (suami). (2) pernikahan alangkahing karang hulu yaitu pernikahan antara wanita dari kasta Kesatria dengan lelaki yang kastanya lebih rendah. Bentuk pernikahan ini muncul dalam cerpen Pastu, antara Cok Ratih dan I Made Pasek Barla. (3) pernikahan beda agama, selain dilarang oleh masyarakat adat, negara juga tidak memberikan legalitas atas bentuk perkawinan ini. Bentuk pernikahan ini muncul dalam cerpen Sawa, antara Ni Luh Putu Pudak Wangi dan Bagas.

Struktur keluarga yang terbentuk dalam kumpulan cerpen Akar Pule yaitu (1) Kuren terdiri dari seorang suami, seorang istri, beserta anak-anaknya yang belum menikah. Keluarga seperti ini sering disebut keluarga batih atau keluarga inti. (2)  keluarga sasemetonan atau sapenyaman yaitu keluarga yang terdiri dari beberapa kuren yang tinggal dalam satu kompleks rumah yang sama. Sasemetonan dari keluarga bangsawan tinggal dalam satu wilayah pekarangan yang disebut Griya (Brahmana) dan Puri (Kesatria).

Peneliti menyarankan kepada peneliti lain untuk mengkaji tentang unsur-unsur sosial dan kebudayaan Bali yang lebih mendalam. Misalnya membuat penelitian yang lebih mendalam tentang sistem sosial Bali. Selain itu, peneliti lain juga dapat meneliti tentang karya-karya sastra serupa yang memberika informasi tentang warna lokal daerah tertentu yang berisi nilai keberagaman suku bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRACT

 

Sandhy, Merry Ike. 2013. Balinese Relatives System in Akar Pule Short Story Compilation by Oka Rusmini. Thesis, Indonesian Language and Literature Program, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd, (II) Dr. Roekhan, M.Pd

 

Keywords: Balinese relatives system, caste system, marriage system, family structure

 

Balinese relatives system contains caste system, marriage system, and family structure. This research reveals the relatives system which pictured in story compilation Akar Pule. In Balinese caste system, there are four social stratifications which are known as catur warna. Catur warna consists of four castes: brahmana, kesatria, waisya, and shudra. Apart from the caste, there is also a marriage system in this society as well which divided into two groups: the allowed and the forbidden marriage. To know about the information, the researcher did a study to Akar Pule short story collection.

This research intends to describe the caste system, marriage system, and family structure which portrayed in the short story collection.

This research is a text study research using literature sociology approach. The research data is in verbal data or language explanation which shows the picture of Balinese relatives system which consists of caste system, marriage system, and family structure in Akar Pule short story collection by Oka Rusmini. The data then grouped into three; the caste system data, marriage system data, and Balinese family structure. Then based on the grouping, deep analysis is conducted to find the answers from the research problem. The data that is analyzed is about Balinese relatives system which pictured in social etiquette in form of tradition, custom, mores, belief, way of life, think, and behave. The data analysis techniques used by the researcher are reduction, grouping, interpretation, and conclusion drawing. To maintain the data validity, it is needed to use review and referential adequacy.

The result of this research is description about the overview of Balinese relatives system. The caste system which is portrayed in Akar Pule short story compilation by Oka Rusmini is a four-group caste called catur warna. In Hindu society- especially Bali, there are four segmented society based on their role: Brahmana, a group of society whose role is teacher, giving moral guidelines, and conducting religion ceremonial rites. Kesatria is a Hindu society group whose role is in the government aspect; Waisya whose role is in economical section; and Sudra whose role is workers with high work ethic.

The overview of caste system in the Akar Pule short story showed the distinct social differences between aristocrat groups Brahmana and Kesatria with common groups Waisya and Sudra. Aristocrats groups have a privilege in the society because they are highly-respected by the other groups below them. Furthermore, the aristocrats have exclusive area in the society.

The overview of marriage system in Akar Pule short story collection, there are two major groups that are allowed marriage system and forbidden marriage system. The allowed marriage systems consist of: 1. Mepandik/pepandikan marriage (proposing), 2. Pejangkepan marriage (arranged marriage), 3. Ngerorod/merangkat marriage (the newlywed runaway together), 4. Anuloma marriage (an aristocrat man marrying a woman from the lower caste) and, 5. Sentana menantu marriage (a marriage which make the man included in the wife’s clan).

In addition, the forbidden marriage systems consist of 1. Asu pundung marriage, a marriage between a Brahmana woman with a lower caste man. The system can be found in Tiga Perempuan story, between Pudak and Bee, her husband. 2. Alangkahing karang hulu marriage, that is a marriage between a Kesatria woman with a lower caste man which portrayed in the Pastu story, between Cok Ratih and I Made Pasek Barla. 3. An interfaith marriage, besides it is forbidden by the mores society, the country is not giving the legality to this kind of marriage as well. This kind of marriage appears in Sawa story, between Ni Luh Putu Pudak Wangi and Bagas.

The family structure formed in the Akar Pule short story collection are (1) Kuren, consists of a husband, wife, and their bachelor children. This kind of family is usually called batih family or core family. (2) Sasemetonan or sapenyaman family, consists of some kuren families living in the same house area. Sasemetonan from aristocrats lives in an area called Griya (Brahmana) and Puri (Kesatria).

The researcher suggests to other researchers to study about Balinese social elements and culture more deeply. As an example, the other researcher can make the deeper study about Balinese social system. Moreover, the other researcher can study about the similar literature works which giving information about some region’s local identity containing the nation’s ethnic group diversity.