SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kemampuan Bercerita Dengan Rangsang Film Pendek Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Wlingi Blitar Tahun Ajaran 2012/2013

Aprilinda Fitriandini

Abstrak


ABSTRAK

 

Fitriandini, Aprilinda. 2013. Kemampuan Bercerita dengan Rangsang Film Pendek Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Wlingi Blitar Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi, Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)  Dr. Roekhan, M.Pd, (II) Dr. Nurchasanah, M.Pd.

 

Kata Kunci: kemampuan bercerita, film pendek

 

Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Kemampuan berbicara siswa dituangkan dalam kompetensi dasar bercerita. Melalui kemampuan bercerita, diharapkan siswa berani dalam mengutarakan pikiran-pikirannya di depan umum. Pada saat ini, penelitian mengenai kemampuan siswa dalam bercerita masih jarang dilakukan, untuk itulah peneliti meneliti kemampuan bercerita siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bercerita dilihat dari aspek kelengkapan, keruntutan cerita, pelafalan, intonasi, ekpresi, dan kelancaran.

Data penelitian ini berupa skor yang diperoleh dari kemampuan siswa dalam bercerita menggunakan rangsang film pendek siswa kelas VII SMP 2 Wlingi, Blitar. Instrumen penelitian berupa tes dan rubrik penilaian bercerita. Penyekoran dilakukan dengan metode analitik, yakni dengan memberikan skor terhadap aspek-aspek yang diteliti. Aspek-aspek yang diteliti dalam penelitian ini meliputi aspek kelengkapan, keruntutan bercerita, pelafalan, intonasi, ekspresi dan kelancaran. Setelah penyekoran selesai, dilakukanlah penilaian peraspek berdasarkan pedoman penilaian yang telah dilakukan. Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul dengan langkah-langkah berikut: (1) persiapan, (2) pengkodean dan (3) penilaian.

Hasil analisis penelitian kemampuan bercerita dengan rangsang film pendek siswa kelas VII SMP Negeri 2 Wlingi dilihat dari aspek kelengkapan cerita dinyatakan bahwa sebanyak 32 siswa (82,5%) mendapatkan kualifikasi sangat mampu, 5 siswa (12,82%) mendapatkan kualifikasi mampu, 2 siswa (5,12%) mendapatkan kualifikasi kurang mampu. Hal ini dapat diartikan bahwa sebanyak 37 siswa (94,8%) mendapat nilai di atas SKM yaitu 75, sedangkan 2 siswa (5,12%) mendapat nilai di bawah SKM. Kemampuan bercerita dilihat dari aspek keruntutan cerita sebanyak 39 siswa (100%) mendapatkan kualifikasi sangat mampu. Artinya, sebanyak 39 siswa mendapat nilai di atas SKM. Kemampuan bercerita siswa dilihat dari aspek pelafalan sebanyak 34 siswa (87,17%) mendapatkan kualifikasi sangat mampu, sebanyak 5 siswa (12,8%) mendapat kualifikasi mampu. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sebanyak 39 siswa (100%) mendapat nilai di atas SKM. Aspek intonasi, sebanyak 11 siswa (28,2%) mendapat kualifikasi sangat mampu, sebanyak 26 siswa (66,6%) mendapat kualifikasi mampu, hanya 2 siswa (5,12%) mendapat kualifikasi belum mampu. Pada aspek intonasi, sebanyak 37 siswa (94,8%) mendapat nilai di atas SKM, sedangkan 2 siswa mendapat nilai di bawah SKM. Kemampuan siswa bercerita dilihat dari aspek ekspresi sebanyak 1 siswa (2,56%) mendapatkan kualifikasi sangat mampu. Sebanyak 4 siswa (4,25%) mendapat kualifikasi mampu. Sebanyak 34 siswa (87,17%) mendapatkan kualifikasi belum mampu. Artinya, dari aspek ekspresi masih terdapat 34 siswa (87,17%) mendapat nilai di bawah SKM. Hal ini karena siswa banyak yang merasa malu sehingga memilih berdiri diam pada saat bercerita. Berdasarkan aspek kelancaran, sebanyak 22 siswa (56,4%) mendapatkan kualifikasi mampu, sebanyak 17 siswa (43,58%) mendapatkan kualifikasi belum mampu. Artinya, sebanyak 22 siswa (56,4%) mendapat nilai di atas SKM, sedangkan 17 siswa (43,58%) mendapat nilai di bawah SKM. Secara umum, siswa sudah mampu bercerita dengan rangsang film pendek. Hanya saja, untuk aspek ekspresi masih sangat kurang. Saran untuk guru Bahasa Indonesia maupun pihak sekolah, sebaiknya lebih meningkatkan kemampuan siswa mengekspresikan diri. Saran untuk peneliti lain, penggalian metode untuk menyempurnakan aspek-aspek dalam bercerita masih banyak yang harus digali kembali. Sehingga ada banyak cara yang bisa digunakan guru untuk pembelajaran bercerita sebagai alternatif.