SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penggunaan Metode Role Playing untuk Meningkatkan Kemampuan Menceritakan Isi Cerpen

Nurhatim Nurhatim

Abstrak


Kemampuan berbicara adalah suatu keterampilan mengungkapkan ide atau gagasan secara lisan di depan khalayak yang dapat diamati dari segi keaktifan seseorang dalam berbicara. Berbicara adalah bentuk komunikasi verbal yang dilakukan oleh manusia dalam rangka pengungkapan gagasan dan ide yang telah disusunnya dalam pikiran. Berbicara melibatkan aspek keterampilan berbahasa, yaitu aspek lisan produktif. Dengan kata lain berbicara merupakan suatu bentuk komunikasi lisan dengan menggunakan bahasa lisan, teknik berbicara yang komunikatif, jelas, dan efektif dalam pembelajaran yang terorganisir. Dalam proses belajar-mengajar setiap siswa harus mengasah kemampuannya dalam berbicara karena setiap aktivitas belajar mengajar memerlukan komunikasi yang baik antara guru dengan siswa, dan antarsiswa.Untuk merealisasikan peningkatan berbicara tersebut memerlukan teknik-teknik tertentu yang harus dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Berbicara merupakan salah satu aspek yang penting dibelajarkan kepada siswa karena berbicara melibatkan kegiatan produktif siswa dalam menyampaikan ujaran secara lisan sehingga menjadi bahan pertimbangan bagi guru pengajar tentang arti pentingnya penggunaan metode di kelas dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Penggunaan suatu metode memiliki arti penting sebagai variasi pembelajaran dengan tujuan siswa dapat mengikuti aktivitas pembelajaran di kelas yang menyenangkan dan tidak membosankan. Kesimpulannya kemampuan berbicara merupakan  kemampuan yang sangat penting untuk dilatih dan diasah oleh siswa. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas X SMA Darul Quran Singosari, peneliti menggunakan metode role playing.

Masalah yang menjadi fokus penelitian dalam skripsi ini dibatasi pada upaya peningkatan kemampuan menceritakan isi cerpen dengan menggunakan metode role playing pada siswa kelas X SMA Darul Qur-an Singosari. Aspek-aspek yang ditingkatkan, antara lain (1) kemampuan menceritakan cerpen pada aspek-aspek kebahasaan mencakup intonasi, jeda, pilihan kata/diksi, struktur kalimat; (2) aspek nonkebahasaan yang meliputi keberanian, kelancaran, ekspresi/mimik; dan (3) aspek isi meliputi kerincian, kesesuaian, kelengkapan, dan kejelasan. Penerapan metode role playing atau bermain peran ini dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa dalam menceritakan isi cerpen sebagai satu metode yang memberikan keleluasaan berpikir siswa untuk mengalami dan mengamati sendiri secara verbal dengan tujuan kemampuan berbicara siswa dapat terlatih secara alami.

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Prosedur penelitian

tindakan, meliputi (1) studi pendahuluan untuk mengidentifikasi masalah

pembelajaran berbicara di kelas, (2) rencana tindakan, (3) pelaksanaan tindakan,

(4)pengamatan, (5) refleksi, dan (6) hasil tindakan. Data penelitian ini berasal

dari hasil penelitian siklus I dan II. Analisis data dilakukan dengan (1) menelaah

data terkumpul, (2) menyeleksi atau menyederhanakan data sebagai bahan kajian masalah penelitian, (3) menyimpulkan, dan (4) memverifikasi atau pengungkapan hasil akhir penelitian dalam penerapan metode yang telah dilakukan. Dengan menganalisis data berupa hasil berbicara siswa dengan penerapan metode role playing dan instrumen penelitian yang telah dibuat, peneliti dapat mengetahui keberhasilan tindakan berdasarkan aspek-aspek yang dinilai.

Berdasarkan hasil analisis proses pembelajaran dan hasil evaluasi yang telah dilakukan peneliti pada bab IV setelah diterapkannya metode role playing, aspek kebahasaan pada kemampuan berbicara siswa mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan yang sangat signifikan mulai tahap pembelajaran pratindakan, siklus I, sampai dengan siklus II. Pada aspek kebahasaan, pemerolehan nilai rata-rata tingkat keberhasilan pada saat pratindakan untuk skor C (cukup) sejumlah satu siswa dan D (kurang) sebanyak 14 siswa, bahkan nilai gagal (E) mencapai sembilan siswa. Pada siswa siklus I meningkat 75% termasuk kategori berhasil dari 24 siswa, dengan pemerolehan skor A (baik sekali ) sejumlah lima siswa, termasuk kategori berhasil, nilai B (baik) sejumlah 11 siswa, termasuk kategori dan nilai  C (cukup) 8 siswa. Pada siklus II berdasarkan hasil evaluasi akhir, tingkat keberhasilannya mencapai nilai sempurna yakni 15 siswa mendapat skor baik sekali (A), dan 9 siswa mendapat skor B (baik). Dalam aspek nonkebahasaan juga mengalami peningkatan yang baik. Pada saat pratindakan berlangsung, hasil akhir yang mendapat skor A (baik sekali) sebanyak 4 siswa dan yang mendapat skor B (baik) sejumlah 6 siswa. Pada siklus I mengalami peningkatan yakni 13 siswa mendapat nilai A dan sebelas siswa mendapat skor B, sedangkan pada siklus II, peningkatannya dibandingkan dengan siklus I sangat signifikan yakni termasuk kategori berhasil secara sempurna sebanyak 24 siswa mendapat nilai A dengan rentangan nilai 86-100. Dari aspek isi pada saat kegiatan pratindakan, siswa yang mendapat nilai skor A (baik sekali) sebanyak 5 siswa, yang mendapat skor B (baik) sejumlah 15 siswa, dan yang mendapat skor C (cukup) sejumlah 4 siswa, sedangkan pada hasil pada kegiatan siklus II  yang mendapat nilai skor A (baik sekali) meningkat sebanyak 20 siswa, yang mendapat skor B (baik) sejumlah 4 siswa, dan tidak ada yang mendapat nilai C, D, bahkan E.

Terkait dengan penerapan metode role playing ini, peneliti ingin memberikan saran kepada guru bahasa Indonesia dan pembaca, dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa melalui pemeranan hendaknya memperhatikan aspek kebahasaan, nonkebahasaan, dan isi. Hal ini dikarenakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara memerlukan penilaian atau evaluasi yang benar-benar valid agar target kurikulum yang diharapkan dapat tercapai. Kepada peneliti lanjutan temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dan sebagai bahan refleksi untuk mengembangkan hasil penelitian. Tujuannya adalah sebagai langkah penyempurnaan penerapan metode role playing dalam berbagai kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia atau aspek ilmu dan bidang ilmu yang lainnya.


Teks Penuh: DOC