SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Karakteristik Kompetensi Dasar Membaca dalam Standar Isi Bahasa Indonesia SD, SMP, dan SMA

Ummi Habibah

Abstrak


ABSTRAK

 

Habibah, Ummi. 2013. Karakteristik Kompetensi Dasar Membaca dalam Standar Isi Bahasa Indonesia SD, SMP, dan SMA. Skripsi. Jurusan Sastra     Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)     Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd. (II) Dr. Titik Harsiati, M.Pd.

 

Kata Kunci: kompetensi dasar membaca, Standar Isi Bahasa Indonesia SD, SMP, dan SMA

 

Kompetensi dasar merupakan penjabaran lebih rinci dari standar kompetensi yang merupakan kemampuan minimal yang harus dimiliki peserta didik. Kompetensi dasar dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia terdiri atas empat aspek, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Kompetensi dasar membaca dipilih karena meski di dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terdapat empat aspek yang dipelajari, dalam standar isi SD dicantumkan bahwa pada akhir pendidikan di SD/MI, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya sembilan buku sastra dan nonsastra, sedangkan pada akhir pendidikan di SMP/MTs, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya 15 buku sastra dan nonsastra, begitu pula pada akhir pendidikan di SMA/MA. Jika ditotal secara keseluruhan, sejak SD hingga SMA, siswa sekurang-kurangnya harus membaca 39 buku sastra dan nonsastra. Membaca lebih diutamakan dibandingkan aspek yang lain seperti menulis. Hal ini menjadi menarik karena di dalam standar isi tidak dicantumkan berapa jumlah tulisan yang harus dihasilkan siswa selama menempuh pendidikan sejak duduk di SD hingga SMA.

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan (1) mendeskripsikan karakteristik rumusan kompetensi KD membaca jenjang SD, SMP, dan SMA, (2) mendeskripsikan karakteristik genre wacana KD membaca jenjang SD, SMP, dan SMA, (3) mendeskripsikan karakteristik jenis membaca KD membaca jenjang SD, SMP, dan SMA, (4) mendeskripsikan karakteristik tingkatan berpikir KD membaca jenjang SD, SMP, dan SMA, dan (5) mendeskripsikan pengurutan KD membaca dalam standar isi SD, SMP, dan SMA.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah kutipan kompetensi dasar (KD) membaca yang ada di dalam standar isi yang dikeluarkan Badan standar Nasional Pendidikan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006. Untuk menjaga keabsahan data tersebut dilakukan kegiatan triangulasi data dengan dosen pembimbing dan rekan sejawat. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap identifikasi dan klasifikasi data, tahap penyimpulan data, dan tahap evaluasi data.

Berdasarkan analisis data diperoleh lima simpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, ditinjau dari rumusan kompetensi,  KD membaca jenjang SD, SMP, dan SMA dapat dibedakan menjadi dua pola, yaitu pola tanpa kriteria dan pola dengan kriteria. Seluruh kriteria merupakan kriteria yang berkaitan dengan keterampilan.     Kedua, ditinjau dari genre wacananya, KD membaca dapat dikelompokkan menjadi dua aspek, yaitu aspek nonsastra dan aspek sastra. Aspek nonsastra meliputi teks bebas, teks akademik, teks profesi, dan teks personal. Sementara itu aspek sastra meliputi prosa, puisi, dan drama. Ketiga, ditinjau dari jenis membaca, KD membaca dikelompokkan menjadi dua, yaitu membaca sastra dan nonsastra. Keduanya dibedakan lagi menjadi membaca nyaring dan membaca pemahaman. Keempat, KD membaca sastra baik membaca pemahaman sastra mauun membaca nyaring sastra dapat diklasifikasikan menjadi lima tingkatan berpikir, yaitu (a) pengetahuan, (b) responsi reseptif  (c) responsi ekspresif , (d) ekspresi, dan (e) partisipasi. Akan tetapi, pada KD membaca sastra jenjang SD sampai SMA tidak ditemukan tingkatan berpikir partisipasi. Dari semua jenjang, tingkatan berpikir yang paling banyak adalah responsi reseptif. Hal ini bukan masalah karena membaca adalah kegiatan reseptif.Sementara itu, membaca pemahaman nonsastra dapat diklasifikasikan menjadi lima tingkatan berpikir, yaitu tingkat berpikir (a) literal, (b) inferensial, (c) analitis, (d) kritis, dan (e) kreatif. Untuk membaca nyaring nonsastra tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkatan berpikir karena tidak ditemukan referensi yang dapat mendukung pengklasifikasiannya. Kelima, terdapat dua pendekatan dalam pengurutan KD aspek membaca, yaitu pendekatan hierarkis dan spiral. Pengurutan dengan pendekatan hierarkis ditemukan pada jenjang SD pada materi suku kata, kata, dan kalimat. Sementara itu pengurutan pada pendekatan spiral ditemukan pada jenjang SD sampai SMA, yaitu pada materi puisi.

Saran dari peneliti adalah (1) Penulisan genre wacana seharusnya jelas, sehingga guru bisa langsung     menentukan genre wacana apa yang akan diajarkan, jangan menulis dengan ambigu seperti "karya sastra", "teks nonsastra", dan "teks agak panjang", (2) pada jenjang SMP dan SMA yang pembagian genre wacana dibedakan sesuai SK, maka letak genre wacana harus ditata ulang, karena genre wacana biografi yang merupakan genre nonsastra dimasukkan pada SK sastra, (3)  genre wacana teks perangkat upacara seharusnya diajarkan pada jenjang SD, bukan SMP, karena membaca nyaring teks perangkat upacara sepatutnya diajarkan di jenjang SD agar siswa tahu bagaimana cara membacakannya sejak dini, (4) tingkat berpikir pada jenjang SMP maupun SMA seharusnya ditingkatkan lagi agar tidak didominasi tingkat berpikir rendah, (5) pengurutan KD perlu diubah sehingga tidak terjadi penurunan kesulitan dari kelas VIII ke kelas IX, yaitu pada KD membaca cepat.