SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Karakteristik Cerpen pada Lomba Menulis Cerpen Siswa SMA se-Kota Malang Tahun 2013

Dyah Ayu Chandra Dewi

Abstrak


ABSTRAK

 

Dewi, Dyah Ayu Chandra. 2013. Karakteristik Cerpen pada Lomba Menulis Cerpen Siswa SMA se-Kota Malang Tahun 2013. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M. Pd., (II) Dr. Martutik, M. Pd.

 

Kata Kunci: karakteristik cerpen, lomba menulis cerpen, karya fiksi.

 

 

Salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai siswa jenjang SMA adalah menulis cerpen. Lomba menulis cerpen tingkat SMA se-Kota Malang tahun 2013 merupakan ajang untuk melihat kreativitas siswa SMA se-Kota Malang dalam menulis cerpen. Cerpen merupakan singkatan dari cerita pendek yang merupakan bagian dari prosa fiksi. Sebagai prosa fiksi, cerpen memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik yang menopangnya. Pengembangan ide cerita, tokoh, dan penokohan merupakan bagian dari unsur intrinsik cerpen yang memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan karakter cerpen. Berdasarkan alasan tersebut, peneliti perlu mengkaji pola pengembangan ide cerita, tokoh, dan penokohan dalam cerpen siswa secara lebih mendalam. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pengembangan ide cerita, tokoh, dan penokohan dalam cerpen siswa SMA se-Kota Malang tahun 2013.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian adalah kutipan pola pengembangan ide cerita, tokoh, dan penokohan cerpen. Sumber data dalam penelitian ini adalah 27 cerpen hasil lomba menulis cerpen siswa SMA se-Kota Malang tahun 2013. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumen yaitu dengan memanfaatkan dokumenberupa cerpen yang sudah ada. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan sumber data dan memilih satu cerpen dari tiap sekolah. Instrumen kunci penelitian adalah peneliti sendiri dengan dibantu instrumen tambahan berupa tabel pengumpul data dan panduan analisis data. Kegiatan analisis data dimulai dari identifikasi, klasifikasi, penyajian data, analisis, dan penarikan simpulan. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan teknik ketekunan pengamatan, pengecekan sejawat, dan triangulasi. Ketekunan pengamatan yaitu dengan menganalisis secara berulang-ulang. Pengecekan sejawat dengan cara berdiskusi dengan teman tentang analisis data. Selanjutnya, triangulasi dengan teori yang relevan.

Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, ide cerita yang dikembangkan oleh siswa sesuai dengan usia mereka yang tergolong remaja misalnya tentang percintaan, persahabatan, pencarian jati diri, peristiwa sosial yang terjadi di masyarakat, dan ketuhanan. Cerpen siswa SMA se-Kota Malang memiliki cara-cara khas (style) pada aspek pemilihan bahasa (diksi). Siswa sudah mampu menyisipkan beberapa istilah yang masih terkesan tidak umum bagi orang awam. Beberapa istilah tidak umum itu ditemukan pada cerpen berjudul Dia, Tuhan? yaitu istilah terdistorsi, beralih kiblat jadi ketuhanan, sorot katastropik, bertranslokasi, dan perpustakaan bersiluet. Terdapat tujuh variasi pola  pengembangan ide cerita. Ketujuh variasi pola pengembangan ide cerita yaitu (1) pengenalan-konflik-komplikasi-klimaks-peleraian-penyelesaian sejumlah tujuh belas cerpen, (2) konflik-pengenalan-komplikasi-klimaks-peleraian-penyelesaian sejumlah dua cerpen, (3) pengenalan-konflik-komplikasi-pengenalan-klimaks-peleraian-penyelesaian sejumlah dua cerpen, (4) pengenalan-konflik-pengenalan-komplikasi-klimaks-penyelesaian sejumlah satu cerpen, (5) pengenalan-konflik-pengenalan-konflik-komplikasi-klimaks-peleraian-penyelesaian sejumlah satu cerpen, (6) pengenalan-konflik-komplikasi-peleraian-penyelesaian sejumlah tiga cerpen, dan (7) pengenalan-konflik-pengenalan-komplikasi-peleraian-penyelesaian sejumlah satu cerpen. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa siswa sudah mampu menggarap cerita dengan baik. Kualitas cerpen siswa dinilai dari aspek pemilihan ide cerita yang beragam hingga pengembangan cerita melalui tahapan-tahapan peristiwa yang membangun cerpen.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat enam klasifikasi jenis tokoh dan dua klasifikasi penokohan pada cerpen siswa SMA se-Kota Malang. Secara umum, tokoh yang ditampilkan adalah siswa, guru, dan penjaga perpustakaan. Penentuan watak tokoh berdasarkan (1) gambaran fisiknya, (2) status sosial yang dimiliki tokoh, (3) hubungan dengan profesinya, (4) hubungan dengan arti nama, (5) hubungan dengan asal daerah, dan (6) nama  tokoh dihubungkan dengan usia atau tahun lahir. Pada aspek penokohan, siswa cenderung menggunakan gabungan metode analitik (secara langsung) dan metode dramatik (secara tidak langsung) dalam cerpen untuk mengambarkan watak tokoh. Siswa mampu mempertimbangkan hubungan nama tokoh dengan arti nama, asal daerah, tahun lahir atau usia, profesi, status sosial tokoh dengan baik.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa siswa dipengaruhi oleh lingkungan dalam penentuan tokoh pada cerpennya. Tokoh siswa, guru, dan penjaga perpustakaan dekat dengan lingkungannya sebagai pelajar sehingga siswa lebih mudah mendeskripsikan karakteristik tokoh tersebut.

Saran kepada guru untuk memberikan apresiasi dan penguatan pada siswa karena hasil penelitian menunjukkan siswa telah mampu mengembangkan dan menggarap ide cerita dengan baik. Keberagaman pola pengembangan ide cerita dan penyajian tokoh penokohan pada cerpen siswa SMA se-Kota Malang patut diberi apresiasi agar siswa lebih termotivasi dalam berkarya. Siswa tidak hanya mengangkat ide cerita tentang percintaan dan persahabatan, tetapi juga tentang pencarian jati diri tanpa terlepas dari tema perpustakaan. Selain itu, beberapa tokoh pada cerpen siswa dapat menjadi model pendidikan karakter. Misalnya, tokoh Teguh dalam cerpen Aku, Teguh, dan Perpustakaan Sekolahku merupakan cerminan tokoh yang memiliki karakter baik dan gigih memperjuangkan masa depannya. Untuk siswa, disarankan agar lebih mengasah kreativitas dalam menulis cerpen. Pengasahan kreativitas dapat dilakukan dengan cara rajin membaca cerpen-cerpen karya sastrawan terkenal dan lebih peka mengamati perilaku sosial yang terjadi di lingkungan sekitar. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa pemenang lomba menulis cerpen SMA se-Kota Malang didominasi oleh SMAN 2 Malang dan SMAN 10 Malang. Terdapat kemungkinan bahwa pembelajaran bahasa an sastra Indonesia di SMA tersebut memiliki keistimewaan daripada sekolah lain. Oleh karena itu, disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti atmosfer pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMAN 2 Malang dan SMAN 10 Malang serta pengaruhnya pada hasil belajar siswa terutama pada pembelajaran menulis cerpen.