SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Tradisi Gembyangan Waranggana (Kajian Semiotik Roland Barthes)

Nina Queena Hadi Putri

Abstrak


ABSTRAK

 

Putri, Nina Queena Hadi. 2013. Tradisi Gembyangan Waranggana (Kajian Semiotik Roland Barthes). Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. Maryaeni, M. Pd, (II) Sunoto, M.Pd.

 

Kata Kunci: Gembyangan Waranggana, Semiotik, Roland Barthes.

 

Gembyangan Waranggana merupakan salah satu seni ritual di derah Nganjuk yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat. sebagai seni ritual, tradisi ini melibatkan sesuatu tanda atau simbol yang melambangkan harapan sebagai perantara atau perwujudan keinginan dari manusia untuk Sang Penguasa Jagat. Simbol ini sangat erat kaitannya dengan kepercayaan pada milik kolektif (masyarakat) pendukungnya sebagai mitos yang bersifat pralogis. Untuk memahami isi mitos dalam Gembyangan Waranggana perlu ditinjau melalui teori semiotik karena berupa pemahaman mengenai tanda-tanda yang memungkinkan manusia untuk berpikir dan bernalar mengenai makna yang terselubung. Peneliti berpijak pada Teori Barthes yang ditekankan pada kode-kode mengenai tanda yang ada pada mitos.

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengemukakan kajian semiotik Roland Barthes dalam Gembyangan Waranggana yang mencakup kode hermenuitik, kode simbolik, kode proaretik, dan kode genomik.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengutamakan data langsung, yaitu data yang diperoleh dengan pengamatan partisipatif pada tradisi Gembyangan Waranggana di desa Sambirejo, kecamatan Tanjung Anom, kabupaten Nganjuk yang diadakan hari Jumat Pahing, bulan Zulhijah. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer. Kegiatan analisis data dilakukan dengan melakukan pengelompokkan, meingterpretasikan, deskripsi, dan eksplanasi.

Berdasarkan hasil analisa data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, kode hermeutik terjadi karena adanya pemahaman bahwa tarian bukan hanya gerakan, tetapi bagian dari upacara ritual. Hermenutik mengungkap hal verbal dalam tradisi Gembyangan Waranggana yang terkait sosial backgroud dan penafsiran mantra penaluhan yang digunakan dalam tradisi gembyangan. Hal nonverbal dalam tradisi Gembyangan Waranggana tampak dalam fungsi seni yang bukan hanya sebagai hiburan, tetapi merupakan tindakan rasa syukur dan penghormatan kepada Dhanyang.Hal nonverbal lain tampak melalui sarana dalam penyampaiannya.

Kedua, kode simbolik mengungkapkan atau melambangkan suatu hal dengan hal lain dan yang mendasari adalah makna konotatif dan denotatif, konotasi identik dengan ideologi (mitos) yang di dalam tradisi gembyangan terdapat kode simbolik yang tampak dengan adanya petanda yang dimaknai sebagai penanda oleh masyarakat (mitos). Mitos dalam tradisi gembyangan yang merupakan kode simbolik tampak melalui simbol religi yang bertujuan menghubungkan keinginan manusia dengan Tuhan maupun kepada roh yang disebut sebagai Dhanyang. Simbol lain tampak dalam sarana gembyangan waranggna berupa sesaji.

Kode proaretik merupakan lakuan yang dilakukan untuk mengapresiasikan tindakan dari simbol, kode proaretik dalam Tradisi Gembyangan tampak pada pelestarian tradisi yang dilakukan sebagai penolak balak; menjaga kelestarian hubungan harmonis antara manusia dengan tuhan dan antara manusia dengan manusia melalui tradisi ritual; tindakan dari kepercayaan terhadap roh, dan tindakan dari kepercayaan terhadap mantra.

Kode genomik merupakan konotasi sebagai suatu ekpresi budaya. Dalam tradisi gembyangan kode genomik tampak dari kebudayaan dalam penyampaian makna melalui simbol dan Jawardhosok; dan kebudayaan dalam pengekspresian kegiatan ritual.