SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

KAJIAN SEMIOTIK UNSUR VERBAL DALAM PERTUNJUKAN SENI JARAN BODHAG KOTA PROBOLINGGO

Slamet Idina Julaeha

Abstrak


ABSTRAK

 

Julaeha, Slamet Idina. 2013. Kajian Semiotik Unsur Verbal dalam Pertunjukan Seni Jaran Bodhag Kota Probolinggo. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., (II) Dwi Sulistyorini, S.S., M.Hum.

 

Kata Kunci: kajian semiotik, unsur verbal, kesenian jaranan, Jaran Bodhag

 

Cerita, humor, pantun, syair, dan kidungan merupakan unsur verbal dalam pertunjukan seni Jaran Bodhag. Jika unsur verbal tersebut dilihat sebagai sebuah teks maka bisa dihubungkan dengan semiotika. Teks pada unsur verbal tersebut tentunya memiliki sesuatu yang bisa dijadikan tanda oleh masyarakat di sekitarnya. Dalam kurun waktu terakhir ini, penelitian tentang tanda di dalam unsur verbal dalam pertunjukan seni Jaran Bodhag masih belum ada. Berdasarkan hal itu, maka diperlukan pembahasan mengenai kajian semiotik unsur verbal dalam pertunjukan seni Jaran Bodhag Kota Probolinggo tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yaitu jenis tanda verbal dalam cerita, nama-nama sesajen, dan kidungan pada pertunjukan seni Jaran Bodhag Kota Probolinggo.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan pendekatan penelitian semiotik. Pada penelitian ini peneliti berperan sebagai pengamat partisipan. Data penelitian ini berupa data yang diperoleh melalui pengamatan partisipasi pasif dan perekaman unsur verbal pertunjukan seni Jaran Bodhag di Kota Probolinggo yang diselenggarakan di bulan Oktober dan November, yaitu pada tanggal 23 Oktober 2012 di Desa Ranuyoso, tanggal 29 Oktober di desa Jrebeng, dan 6 November 2012 di Desa Tiris. Sumber data penelitian ini dari rekaman pertunjukan seni Jaran Bodhag Kota Probolinggo, 3 informan kunci dan 20-25 informan tindak lanjut. Data penelitian diperoleh melalui observasi dan perekaman, serta wawancara. Pada penelitian ini peneliti sebagai instrument utama. Aktivitas dalam analisis meliputi reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Untuk mendapatkan data yang lebih akurat diperlukan adanya pengecekan keabsahan data yang meliputi perpanjangan keikutsertaan, trianggulasi, dan diskusi dengan teman sejawat.

Berdasarkan temuan penelitian, diperoleh data berupa unsur verbal berupa cerita pertunjukan Jaran Bodhag, nama-nama sesajen, kidungan, dan hal-hal yang mendukung cerita pertunjukan Jaran Bodhag, yaitu Jaran Bodhag, tokoh janis, pengantin sunat, lawakan, dan alat-alat musik. Cerita yang dimainkan di dalam pertunjukan Jaran Bodhag, yaitu tentang pengantin sunat, tetapi cerita yang dimainkan bisa disesuaikan dengan permintaan tuan rumah, misalnya, tentang pernikahan. Adapun cerita tentang asal-usul Jaran Bodhag adalah berawal dari seorang ayah yang ingin memberikan kebahagiaan kepada anaknya yang ingin sunat. Pada saat pertunjukan, cerita yang dimainkan bertitik tolak pada perkawinan kuda dan pengantin sunat.

Sesajen terbagi atas dua macam, yaitu sesajen untuk tuan rumah dan sesajen untuk pemain, gamelan, dan pengantin dalam pertunjukan Jaran Bodhag. Adapun sesajen untuk pemain, gamelan, dan pengantin dalam pertunjukan Jaran Bodhag terdiri atas beras putih, kelapa, ayam mentah dan hidup, dua tandan pisang yang masing-masing jenisnya sama, jajan tujuh rupa, sirih dan pinang, tembakau dan cengkeh, gula dan kopi, bunga, kopi, santan, jenang putih, jenang merah, lawon atau sewek, perapian dan kemenyan. Sementara itu, sesajen untuk tuan rumah atau yang punya hajatan terdiri atas berbagai macam barang yang digantung pada seutas tali rafia yang masing-masing ujungnya diikatkan pada tiang. Barang-barang yang digantung itu kemudian digantung di depan pentas yang nantinya akan dipakai untuk pertunjukan. Pada saat pertunjukan Jaran Bodhag, barang-barang itu akan dijadikan sebuah lagu yang berbentuk pantun. Adapun bentuk lagunya yaitu dengan menyebutkan beberapa barang menjadi satu larik kemudian diartikan menurut pemikiran dari pemain drama Jaran Bodhag. Kidung adalah sejenis nyanyian seperti sebuah lirik atau syair yang dinyanyikan. Bahasa yang digunakan dalam kidungan adalah bahasa sehari-hari masyarakat sekitar, yaitu bahasa Madura atau bahasa Jawa. Kidungan Jawa ada Suroboyoan, dan Malangan. Syair yang dinyanyikan biasanya diambil dari sejarah dan pantun. Sementara itu, kidungan Madura terbagi atas candaan atau cerita lucu dan pantun. Macam-macam kidungan Madura antara lain angleng, gunung sari, beleng kekek. Namun semua tembang baik Jawa dan Madura pada awalnya diambil dari gending jula-juli.

Adapun dari deskripsi data dan pembahasan tentang kajian semiotik unsur verbal dalam pertunjukan seni Jaran Bodhag Kota Probolinggo dapat dikemukakan tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, pada cerita di dalam pertunjukan Jaran Bodhag terdapat unsur verbal yang diucapkan oleh beberapa orang, yaitu narator, tokoh janis, tuan rumah, dan penonton yang memberikan saweran. Di dalam unsur verbal itu terdapat sistem ketandaan yang mempunyai hubungan dengan objek lain yang menjadi acuannya. Jenis tanda yang terdapat dalam cerita pertunjukan seni Jaran Bodhag Kota Probolinggo, yaitu indeks, ikon diagramatis, ikon imagis, dan simbol.

Kedua, unsur verbal dalam sesajen terdapat pada sesajen untuk tuan rumah, sedangkan unsur verbal dalam sesajen untuk pemain, gamelan, dan pengantin hanya berupa pembacaan doa. Unsur verbal dalam penggantungan sesajen disajikan dengan bentuk pantun yang dilagukan. Pada nama-nama sesajen, tanda yang terdapat di dalamnya hanyalah ikon diagramatis karena pada semua baitnya terdapat pengulangan bunyi akhir kata pada tengah dan akhir tiap baris sehingga menciptakan suatu harmoni dalam tiap baitnya.

Ketiga, unsur verbal kidungan merupakan unsur verbal mayoritas yang ada dalam pertunnjukan seni Jaran Bodhag. Adapun kidungan yang dilantunkan dalam pertunjukan seni Jaran Bodhag berupa kidungan jula-juli bahasa Jawa dengan tema sejarah, kidungan jula-juli Jawa berupa pantun, dan kidungan julajuli Madura. Selain kidungan yang mendukung isi cerita, terdapat juga kidungan yang tidak terkait dengan cerita, yaitu kidungan dalam cerita lawakan. Tanda yang terdapat dalam kidungan ini adalah indeks, ikon diagramatis, dan ikon metaforis.