SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penggunaan Bahasa Remaja dalam Media Jejaring Sosial Twitter

Nur Wahyu Prasetyo

Abstrak


ABSTRAK

 

Prasetyo, Nur Wahyu. 2013. Penggunaan Bahasa Remaja dalam Media Jejaring Sosial Twitter. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Imam Agus Basuki, M. Pd, (II) Moch. Syahri S. Sos., M. Si.

 

Kata Kunci:bahasa remaja, twitter, remaja, jejaring sosial

 

Bahasa remaja merupakan bahasa yang biasa digunakan oleh remaja dalam kegiatan non formal. Bahasa remaja bukanlah bentuk bahasa baru. Bahasa remaja adalah bahasa yang diciptakan oleh remaja sebagai bentuk “kenakalan” diri remaja dalam berbahasa. Penggunaan bahasa remaja sering digunakan dalam berinteraksi di media jejaring sosial, salah satunya adalah twitter.Tujuan penelitian ini ialah untuk memperoleh deskripsi karakteristik bahasa yang digunakan oleh remaja dalam media jejaring sosial twitter, khususnya tentang (1) penggunaan tanda baca, (2) penulisan kata, (3) penggunaan akronim, dan (4) perubahan makna kata.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu kondisi apa adanya. Sumber data penelitian ini adalah tweet yang diunggah oleh sepuluh remaja melalui akun twitter miliknya pada 1 Pebruari sampai 2 Maret 2013. Data penelitian diklasifikasikan berdasarkan penggunaan (1) tanda baca, (2) penulisan kata, (3) akronim, dan (4) perubahan makna kata. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan (1) mengumpulkan data dari sepuluh subjek penelitian, (2) pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan catat, dan (3) pendistribusian data. Ada pun tahapan analisis data yang digunakan adalah (1) mengidentifikasi data yang digunakan dalam penelitian, (2) kodefikasi data, dan (3) mengklasifikasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan klasifikasi masing-masing data.

Penelitian ini menghasilkan empat temuan. Pertama, karakteristik bahasa remaja dalam jejaring sosial twitterterdapat pada penggunaan tanda baca, (1) tanda baca titik (.), (2) tanda baca koma (,), (3) tanda baca tanya (?), (4) tanda baca seru (!), (5) tanda baca hubung (-), (6) tanda baca elipsis (...), dan (7) tanda baca petik (“ “). Kedua, karakteristik penulisan katabahasa remaja dalam media jejaring sosial twitterberbeda dengan penulisan kata bahasa Indonesia pada umumnya. Perbedaan tersebut terlihat pada (1) penggunaan tanda baca sebagai pengganti huruf, (2) penggunaan huruf kapital dan huruf yang berlebihan dalam ejaan, dan (3) kategori lain. Penggunaan kategori lain ditujukan apabila ditemukan hal-hal baru yang berbeda dan tidak bisa dimasukkan ke dalam kedua kategori ejaan diatas. Ketiga, karakteristik bahasa remaja dalam media jejaring sosial twitterditemukan pola penggunaan akronim baru yang muncul. Penggunaan akronim yang ditemukan dalam tweet yang diunggah oleh remaja yaitu, (1) akronim nama diri gabungan huruf awal yang ditulis dengan huruf kapital, (2) akronim nama diri gabungan suku kata yang huruf awal ditulis huruf besar, dan (3) akronim nama diri yang bukan berupa singkatan dari dua kata atau lebih yang ditulis huruf kecil. Keempat, karakteristik penggunaan perubahan makna kata yang digunakan oleh remaja dalam media jejaring sosial twittermemunculkan hal-hal yang unik dan kreatif. Keberagaman perubahan bentuk makna yang muncul terlihat pada (1) perubahan makna kata perluasan arti, (2) perubahan makna kata penyempitan arti, (3) perubahan makna kata penurunan arti, (4) perubahan makna kata peninggian arti, dan (5) perubahan makna kata asosiatif.

Berdasarkan penelitian ini, saran ditujukan bagi pengajar bahasa Indonesia untuk menggunakan hasil pembahasan penelitian ini sebagai bahan pembelajaran dalam menjaga peserta didiknya agar bisa membedakan ranah penggunaan bahasa baku dan non baku sesuai dengan fungsi penggunaannya. Pendidik harus lebih memperhatikan bentuk ujaran berupa tulisan peserta didik dalam ranah akademis dan lebih mengarahkan penggunaan-penggunaan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan kaidah yang berlaku. Saran bagi pemerhati bahasa, hasil pembahasan penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam mengenali bentuk-bentuk keberagaman bahasa nonbaku yang biasa dimunculkan oleh remaja melalui media jejaring sosial. Pembahasan penelitian dapat juga digunakan untuk meningkatkan dan menjaga bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bagi peneliti selanjutnya, yang berminat untuk melakukan penelitian tentang bahasa remaja disarankan untuk mengambil masalah dan sumber data yang lain. peneliti selanjutnya bisa mengambil data dan sumber data yang lain sebagi tindak lanjut penelitian ini, misalnya struktur kalimat, penggunaan partikel, dan pemilihan diksi pada bahasa remaja.