SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kohesi dan Koherensi Karangan Eksposisi Siswa Kelas XI IPA 3 SMA Negeri 1 Kota Kediri Tahun Pelajaran 2012/2013

Ajeng Ayu Resista

Abstrak


KOHESI DAN KOHERENSI KARANGAN EKSPOSISI
SISWA KELAS XI IPA 3 SMA NEGERI 1KOTA KEDIRI
TAHUN PELAJARAN 2012/2013
 
Ajeng Ayu Resista, Djoko Saryono, Nurchasanah
Universitas Negeri Malang
 
ABSTRAK: Penelitian  ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan
piranti  kohesi  dan  koherensi.  Metode  yang  digunakan  adalah
kualitatif.  Hasil  penelitian  adalah  sebagai  berikut.  Pertama,
penggunaan  piranti  kohesi  meliputi  (a)  referensi  anafora:
pronomina  persona,  demonstratif,  dan  enklitik,  (b)  referensi
katafora:  enklitik  dan  demonstratif,  (c)  substitusi:  tempat,  waktu,
demikian,  dan  hal,  (d)  konjungsi:  penegasan,  sebab-akibat,
perlawanan,  ketidakserasian,  dan  tambahan/aditif,  (e)
pengulangan:  penuh,  hiponim,  dan  sinonim,  dan  (f)  kolokasi:
‘siswa-sekolah’  dan  ‘Pancasila-UUD  1945’.  Kedua,  penggunaan
penanda koherensi meliputi (a) pemilihan dan penggunaan kata dan
(b) penggunaan piranti kohesi.
 
Kata Kunci: kohesi dan koherensi, karangan eksposisi, siswa kelas
XI IPA 3.
 
ABSTRACT:  This  research  aims  to  describe  usage  of  cohesion
and  coherence  signs.  The  research  uses  qualitative  method.  The
result shows, first, usage of cohesion signs (a) anaphoric reference:
personal  pronouns  and    demonstrative  pronouns,  (b)  cataphoric
reference:  personal  pronouns  and  demonstrative  pronoun,  (c)
subtitution:  place,  time,  and  clausal  subtitution,  (d)  conjuction:
confirmation,  causal,  adversative,  contrastive,  and  aditive,  (e)
repetition:  general  word,  superordinate,  and  sinonym,  and  (f)
collocation: ‘students-shcool’, and ‘Pancasila-UUD 1945’. Second,
usage  of  coherence  signs  (a)  selection  and  usage  words  and  (b)
usage of cohesion signs.
 
Key Words:  cohesion  and  coherence,  exposition  composition,
XI IPA 3 Students.
 
Penguasaan  kemampuan  berbahasa  Indonesia  sangat  penting  sebagai  alat
komunikasi,  baik  secara  lisan maupun  tertulis. Kemampuan  berbahasa  ini  harus
dibinakan  dan  dikembangkan  sejak  dini  kepada  siswa.  Salah  satu  wujud
pembinaan  kemampuan  siswa  dalam  berbahasa  adalah  dengan  menerapkan
pengajaran bahasa di tingkat SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi.
Pembelajaran bahasa khususnya bahasa Indonesia di SMA memiliki tujuan
agar  siswa  dapat  mengembangkan  kemampuan  berkomunikasi.  Untuk  dapat
menguasai  kemampuan  berkomunikasi,  matapelajaran  bahasa  Indonesia  dibagi
menjadi  empat  aspek  yang  harus  dikuasai  oleh  siswa,  yaitu  membaca,
mendengarkan atau menyimak, berbicara, dan menulis. Di antara empat aspek pelajaran bahasa Indonesia terdapat dua aspek yang
bersifat  aktif. Dua  aspek  tersebut  adalah membaca  dan menulis. Membaca  dan
menulis  merupakan  keterampilan  berbahasa  aktif  yang  sangat  penting  untuk
dikuasai  oleh  siswa. Karena  dengan menguasai  dua  aspek  tersebut,  siswa  dapat
mengembangkan keterampilan yang dapat bermanfaat bagi masa depan. Dari dua
keterampilan aktif berbahasa, menulis merupakan satu keterampilan yang penting
untuk dikuasai. 
Nurchasanah  dan  Widodo  (1993:1)  mengemukakan  bahwa  menulis
merupakan usaha untuk menuangkan  ide, pikiran, perasaan,dan kemauan dengan
wahana  bahasa  tulis.  Proses  menulis  bersifat  kompleks,  dalam  arti  melibatkan
berbagai pengetahuan dan pengalaman serta ketrampilan dalam mengolah ide, dan
menalarkannya  agar  apa  yang  disampaikan  kepada  pembaca  sesuai  dengan
maksud penulisannya. 
Dari  uraian  di  atas  jelas  bahwa  keterampilan  menulis  perlu  mendapat
perhatian  yang  sungguh-sungguh  karena  sebagai  aspek  kemampuan  berbahasa,
menulis  memang  dapat  dikuasai  oleh  siapa  saja  yang  memiliki  kemampuan
intelektual  memedai.  Namun  berbeda  dengan  keterampilan  menyimak  dan
berbicara  ,  menulis  tidak  dikuasai  seseorang  secara  alami.  Menulis  harus
dipelajari dan dilatihkan secara sungguh-sungguh.
Salah  satu  keterampilan menulis  yang  diajarkan  di  SMA  adalah menulis
paragraf eksposisi. Paragraf eksposisi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha
menguraikan  objek  sehingga memperluas  pandangan  atau  pengetahuan  pembaca
(Keraf,  1995:7).  Kemampuan  menulis  paragraf  eksposisi  perlu  dikuasai  oleh
siswa, khususnya siswa SMA agar siswa telatih untuk mengembangkan pola pikir
mereka  dalam  mengamati,  memahami,  serta  mengatasi  sebuah  permasalahan
dengan cara menulis paragraf eksposisi. 
Hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan karangan adalah penggunaan
piranti  kohesi  dan  koherensi  yang  sesuai  untuk  menghubungkan  informasi
antarkalimat  dalam  wacana.  Rani,  Martutik,  dan  Arifin  (2010:88)  menyatakan
bahwa  untuk  membentuk  kohesi  yang  baik  tidak  cukup  hanya  mengandalkan
hubungan kohesi. Hal  itu dipertegas oleh pendapat Cook  (dalam Rani, Martutik,
dan Arifin, 2010:88) yang menyatakan bahwa penggunaan alat kohesi itu memang
penting  untuk  membentuk  wacana  yang  utuh,  tetapi  tidak  cukup  hanya
menggunakan penanda katon tersebut. Ada faktor lain seperti relevansi dan faktor
tekstual  luar yang  ikut menentukan keutuhan wacana. Kesesuaian  teks dan dunia
nyata dapat membantu menciptakan suatu kondisi untuk membentuk wacana yang
utuh.
Berdasarkan uraian tersebut peneliti berinisiatif untuk melakukan observasi
awal yaitu dengan mewawancarai guru kelas matapelajaran bahasa Indonesia dan
diperoleh  informasi  bahwa  kebanyakan  siswa  SMA  saat  ini,  khususnya  siswa
kelas XI  IPA  3  SMAN  1  kota Kediri  belum  dapat menulis  karangan  eksposisi
dengan  benar  berdasarkan  penggunaan  aspek  kohesi  dan  koherensi  dalam
karangan.  Aspek  kohesi  dan  koherensi  sangatlah  penting  karena  kohesi  dan
koherensi merupakan  unsur  pembentuk  teks  yang  paling  penting. Maka  dari  itu,
peneliti berinisiatif untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan
piranti  kohesi  dan  koherensi  pada  karangan  eksposisi  siswa  kelas  XI  IPA  3
SMAN  1  kota  Kediri  yang  bertujuan  untuk  mendeskripsikan  bagaimana
penggunaan  piranti  kohesi  dan  penggunaan  koherensi  pada  karangan  siswa tersebut. Penelitian  inni dilakukan  bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan
piranti kohesi dan penggunaan penanda koherensi karangan eksposisi siswa kelas
XI IPA 3 SM Negeri 1 kota Kediri Tahun Pelajaran 2012/2013.
Penelitian  serupa  yang  pernah  dilakukan  mengenai  analisis  kohesi  dan
koherensi  adalah  penelitian  berjudul  Kesalahan  Siswa  dalam Menulis  Paragraf
yang Memenuhi Kualifikasi Kohesi dan Koherensi di Kelas V SDN Saptorenggo
02 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang  (Aditama,  2012).  Perbedaan  penelitian
tersebut  dengan  penelitian  ini  adalah  penelitian  tersebut  mendeskripsikan
kemampuan  siswa  kelas  V  dalam  menulis  paragraf  dalam  karangan  yang
memenuhi kualifikasi kohesi dan koherensi dan mendeskripsikan kesalahan siswa
dalam menulis karangan yang memenuhi kualifikasi kohesi dan koherensi. 
Selain penelitian  tersebut, penelitian serupa yang pernah dilakukan adalah
penelitian berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf yang Memenuhi
Syarat Kohesi dan Koherensi Melalui Pembelajaran Pengembangan Outline pada
Siswa Kelas V  SDN Ciptomulyo  1 Malang  (Prabowo,  2011). Penelitian  tersebut
bertujuan  untuk  meningkatkan  keterampilan  menulis  paragraf  yang  memenuhi
syarat  kohesi  dan  koherensi  melalui  pembelajaran  pengembangan  outline  pada
siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang dengan  rancangan penelitian  tindakan
kelas (PTK) dengan bentuk penelitian guru sebagai peneliti. Tujuan penelitian  ini
adalah mendeskripsikan penggunaan piranti kohesi pada karangan eksposisi siswa
kelas  XI  dan  mendeskripsikan  ketidaktepatan  penggunaan  koherensi  pada
karangan eksposisi siswa kelas XI. 
 
METODE
  Jenis    penelitian  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  kualitatif.
Metode  kualitatif  digunakan  untuk  membuat  deskripsi  atau  gambaran  secara
sistematis,  faktual,  dan  akurat  mengenai  fakta-fakta,  sifat-sifat,  serta  hubungan
atau  fenomena  yang  diteliti.  Metode  ini  digunakan  untuk  mendiskripsikan
penggunaan piranti kohesi dan koherensi pada karangan eksposisi.
 Sumber data penelitian ini adalah 30 karangan eksposisi siwa kelas XI IPA
3  SMA  Negeri  1  kota  Kediri  Tahun  Pelajaran  2012/2013.  Data  penelitian  ini
berupa piranti kohesi dan koherensi karangan eksposisi siswa. 
Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah  tes menulis karangan
eskposisi. Tes  tulis  yang  dimaksud  adalah  pemberian  tugas  kepada  siswa  untuk
membuat  sebuah  karangan  eksposisi  dengan  ketentuan-ketentuan  yang  sudah
ditentukan  oleh  peneliti. Karangan  eksposisi  yang  ditulis  oleh  siswa  didasarkan
pada  tema  yang  ditentukan  oleh  peneliti.  Peneliti  menggunakan  alat  untuk
mengumpulkan  data  berupa  lembar  kerja  (LKS).  LKS  tersebut  berisi  perintah
mengerjakan soal menulis karangan eksposisi.
 Teknik  pengumpulan  data  penelitian  ini  adalah  pemberian  tugas menulis
karangan eksposisi kepada siswa kelas XI  IPA 3 yang dilakukan satu kali  sesuai
dengan  jadwal  pelajaran  bahasa  Indonesia  yakni  selama  90  menit.  Prosedur
pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut. Pertama, 
memberikan  tugas menulis karangan eksposisi kepada siswa dengan memberikan
lembar  kerja  siswa  yang  telah  dibuat  oleh  peneliti.  Kedua, menentukan  kriteria
atau syarat data yang akan dianalisis adalah (a) teks yang memiliki piranti kohesi
gramatikal (referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi) dan piranti kohesi leksikal
(repetisi  dan  kolokasi),  (b)  teks  yang  memiliki  penanda  koherensi  yaitu penggunaan kata dan penggunaan piranti kohesi,  (c) teks memiliki  identitas yang
jelas  (nama  pengarang,  nomor  absen,  dan  kelas),  dan  (d)  teks  yang  tidak  jelas
terbaca tidak dianalisis karena dapat menimbulkan kerancuan dalam analisis data.
Ketiga,  membaca  teks  yang  berupa  karangan  eksposisi  yang  dijadikan  sumber
data. Keempat, menandai  piranti  kohesi  dan  koherensi  yang  digunakan. Kelima, 
data yang dikumpulkan diberi kode kemudian dianalisis.
Adapun  analisis  data  dilakukan  melalui  lima  tahapan  sebagai  berikut.
Pertama,  identifikasi  data. Kegiatan  ini  dilakukan  untuk mencari  piranti  kohesi
dan  penanda  koherensi  dari  sumber  data  yang  terkumpul,  menetapkan  piranti
kohesi yang banyak digunakan dari sumber data yang terkumpul, dan mengetahui
penanda  koherensi  dalam  paragraf.  Kedua,  pengodean.  Pengodean  dilakukan
setelah  tahap  identifikasi  selesai. Data  yang  telah  diidentifikasi  kemudian  diberi
tanda dan kode  tertentu dalam karangan subjek penelitian. Kode yang digunakan
meliputi  (a) menyebutkan  nomor  sumber  penelitian  (karangan  yang  diteliti),  (b)
menyebutkan  nomor  data,  dan  (c)  menyebutkan  kode  klasifikasi  piranti  kohesi
yang  digunakan.  Ketiga,  klasifikasi  data.  Setelah  data  dipilih  dan  diberi  kode,
maka  dilakukan  pengklasifikasian  ke  dalam  tabel  sesuai  aspek  masing-masing
data. Keempat, pengolahan atau analisis data sesuai dengan masing-masing aspek.
Kelima,  penarikan  simpulan.  Penarikan  simpulan  merupakan  proses  interpretasi
temuan penelitian yang berkaitan dengan rumusan masalah.
 
HASIL
Berdasarkan data yang diperoleh, dianalisis, dan dipaparkan, terdapat hasil
penelitian  ini sesuai dengan fokus penelitian yang  ingin dicapai. Dua temuan berikut
adalah  sebagai  berikut. Pertama,  penggunaan  piranti  kohesi meliputi  (a)  83  data
penggunaan  kohesi  gramatikal  referensi  anafora  meliputi  pronomina  persona
mereka, pronomina demonstratif tersebut, itu, dan enklitik –nya, (b) 7 penggunaan
kohesi  gramatikal  referensi  katafora:  enklitik  –nya  dan  pronomina  demonstratif
itu,  (c)  119  penggunaan  kohesi  gramatikal  substitusi:  kata  ganti  tempat,  waktu,
kata demikian, dan hal  (ini dan  itu) yang digunakan  sebagai pengganti proposisi
yang disebutkan  sebelumnya pada kalimat,  (d) 41 penggunaan kohesi gramatikal
konjungsi:  penegasan,  sebab-akibat,  perlawanan,  ketidakserasian,  dan
tambahan/aditif,  (e)  45  data  penggunaan  kohesi  leksikal  pengulangan:
pengulangan  penuh,  pengulangan  dengan  hiponim,  dan  pengulangan  dengan
sinonim, dan (f) 6 data penggunaan kohesi  leksikal kolokasi: ‘siswa dan sekolah’
dan  ‘Pancasila dan UUD 1945’. Kedua, 22 data penggunaan penanda koherensi
yang  ditemukan  dalam  karangan  eksposisi  siswa  kelas  XI  SMA  Negeri  1  kota
Kediri adalah (a) pemilihan kata dan penggunaan kata dan (b) penggunaan piranti
kohesi.
 
PEMBAHASAN
Penggunaan Piranti Kohesi
  Kohesi  merupakan  organisasi  sintaksis  dan  merupakan  wadah  kalimat-
kalimat yang disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan (Tarigan, 
1987:96).  Hubungan  kohesif  dalam  wacana  sering  ditandai  dengan  penanda-
penanda kohesi, baik yang sifatnya gramatikal maupun leksikal. Berdasarkan pada
penelitian  yang  telah dilakukan,  terdapat  tiga  jenis piranti kohesi gramatikal dan
dua  jenis  piranti  kohesi  leksikal  yang  digunakan.  Ketiga  jenis  piranti  kohesi gramatikal  antara  lain  (1)  piranti  kohesi  referensi  (anafora  dan  katafora),  (2)
piranti  kohesi  substitusi,  dan  (3)  piranti  kohesi  konjungsi.  Kedua  jenis  piranti
kohesi  leksikal yang digunakan antara lain (1) piranti kohesi pengulangan dan (2)
piranti kohesi kolokasi.
  Piranti  kohesi  gramatikal  merupakan  piranti  atau  penanda  kohesi  yang
melibatkan  penggunaan  unsur-unsur  kaidah  bahasa.  Piranti  kohesi  gramatikal
yang digunakan untuk menghubungkan  ide antarkalimat cukup terbatas ragamnya
(Rani,  Martutik,  dan  Arifin,  2010:97).  Dalam  penelitian  ini  digunakan  piranti
kohesi gramatikal yaitu (1) referensi anafora, (2) referensi katafora, (3) substitusi,
dan (4) konjungsi.
  Referensi  anafora  adalah  referensi  yang  mengacu  pada  anteseden  lebih
dahulu  dituturkan  atau  ada  pada  kalimat  yang  lebih  dahulu  sebelum  pronomina,
sedangkan  referensi katafora merupakan  referensi yang mengacu pada anteseden
yang dituturkan setelah pronomina (Rani, Martutik, dan Arifin,  2010:100). Dalam
penelitian  kohesi  dan  koherensi  karangan  eksposisi  siswa  kelas XI  IPA  3  SMA
Negeri  1  Kota  Kediri  ini  terdapat  penggunaan  referensi  anafora  yang  cukup
banyak  dan  hampir  setiap  paragraf  dalam  semua  karangan  terdapat  penggunaan
referensi anafora. Hal itu dikarenakan sesuai dengan pendapat Rani, Martutik, dan
Arifin,    (2010:100)  yang menyatakan  bahwa  referensi  anafora maupun  katafora
menggunakan  pronomina  persona,  pronomina  penunjuk,  dan  pronomina
komparatif. Oleh  karena  itu,  dapat  dipastikan  dalam  setiap  karangan  selalu  ada
pronomina-pronomina  tersebut,  baik  salah  satu  dari  pronomina  tersebut maupun
ketiga pronomina, yang digunakan sebagai penunjuk dan referen untuk kata ganti
orang, tempat, maupun milik. 
Berbeda  dengan  referensi  anafora  yang  banyak  digunakan,  referensi
katafora jarang ditemukan dalam penelitian  ini dikarenakan karangan yang ditulis
oleh siswa menggunakan pola sebab-akibat, sehingga referensi yang  lebih banyak
digunakan  adalah  referensi  yang  bersifat  anaforis  yakni  referensi  yang mengacu
pada  teks  sebelumnya  yang  menyatakan  sebab  terjadinya  peristiwa,  dan  hanya
sedikit  piranti  kohesi  katafora  yang  digunakan  sebagai  penunjuk  ke  anteseden
sesudahnya  sebagai  penjelasan  akibat  dari  sebab-sebab  yang  dituturkan
sebelumnya.
  Selain  penggunaan  referensi  seperti  yang  tersebut,  penggunaan  piranti
substitusi  paling  banyak  ditemukan  dalam  penelitian  ini.  Substitusi  atau
penggantian merupakan penggantian suatu unsur wacana dengan unsur  lain yang
acuannya tetap sama, dalam hubungan bentuk lain yang lebih besar daripada kata,
frasa, atau klausa (Halliday dan Hassan, 19784:88). 
Dalam  penelitian  ini  banyak  ditemukan  penggunaan  kata  ganti  tempat,
waktu,  dan  hal  (demikian,  hal  ini,  dan  hal  itu).  Pemakaian  kata  ganti  tersebut
bertujuan  untuk  mempersingkat  suatu  ujaran  yang  dituturkan.  Hal  itu  sesuai
dengan pendapat Rani, Martutik, dan Arifin (2010: 106) yang menyatakan bahwa
dalam  pemakaian  bahasa  Indonesia,  untuk  mempersingkat  suatu  ujaran  yang
panjang  yang  digunakan  lagi,  dapat  dilakukan  dengan menggunakan  kata  ganti
hal. Sesuatu yang diuraikan dengan panjang lebar dapat digantikan dengan sebuah
atau  beberapa  buah  kata  tanpa mengurangi  arti  agar  koherensi wacana  terkesan
apik saat dibaca dan tidak mengulang-ulang pernyataan yang panjang.
Substitusi  juga  merupakan  bagian  dari  koherensi  wacana  agar  suatu
wacana  dapat  lebih  jelas  dipahami  dan  dirasa  lebih  apik    untuk  dibaca. Dengan adanya  substitusi, maka  dalam  suatu wacana  tidak  perlu  lagi  adanya  kata,  frasa,
atau  kalimat  yang  diulang-ulang  penulisannya  yang  dapat  menyebabkan
ketidakapikkan dalam suatu wacana.
  Penggunaan  piranti  kohesi  gramatikal  yang  terakhir  adalah  konjungsi.
Konjungsi berfungsi untuk merangkaikan atau mengikat beberapa proposisi dalam
wacana  agar  perpindahan  ide  dalam  wacana  terasa  lembut.  Sesuai  dengan
fungsinya,  konjungsi  dalam  bahasa  Indonesia  dapat  digunakan  utnuk
merangkaikan  ide,  baik  intrakalimat  maupun  antarkalimat.  Konjungsi  yang
digunakan dalam penelitian  ini  yaitu  (1) piranti konjungsi penegasan,  (2)  sebab-
akibat,  (3)  hubungan  pertentangan,  (4)  ketidakserasian,  (5)  tambahan/aditif,  (6)
urutan waktu, dan (7) penarikan kesimpulan. 
Penggunaan  konjungsi  dalam  bahasa  Indonesia  sebagai  piranti  kohesi
menunjukkan  pola  tertentu.  Konjungsi  digunakan  sebagai  logika  berpikir.
Penggunaan  konjungsi  yang  tidak  mempertimbangkan  logika  akan  membuat
wacana menjadi  tidak  apik,  terutama  dilihat  dari  kepaduannya  (Rani, Martutik,
dan Arifin,  2010:108). Berpijak pada teori tersebut, penggunaan piranti konjungsi
yang digunakan dalam karangan pada penelitian  ini hasilnya menunjukkan bahwa
kata  sambung  yang  digunakan  dapat  mendukung  keserasian  dan  keterpaduan
makna antarkalimat untuk menciptakan koherensi dalam teks. 
Kohesi  leksikal  atau  perpaduan  leksikal  adalah  hubungan  leksikal  antara
bagian-bagian  wacana  untuk  mendapatkan  keserasian  struktur  secara  kohesif. 
Dalam penelitian  ini digunakan  tiga piranti kohesi  leksikal yaitu (1) pengulangan
penuh, (2) pengulangan dengan hiponim, dan (3) pengulangan dengan sinonim. 
Piranti  kohesi  leksikal  pengulangan  merupakan  salah  satu  cara  untuk
memepertahankan  hubungan  kohesif  antarkalimat. Pengulangan  yang  berlebihan
dapat  membosankan.  Pengulangan  digunakan  utnuk  mempertahankan  ide  atau
topik  yang  sedang  dibicarakan  (Rani,  Martutik,  dan  Arifin,  2010:132).
Pengulangan  dalam  sebuah  teks,  baik  pengulangan  penuh,  pengulangan  dengan
hiponim,  maupun  pengulangan  dengan  sinonim  dapat  mendukung  keterpaduan
makna untuk menciptakan hubungan yang kohesif dan dapat  juga sebagai piranti
untuk  mendukung  terciptanya  koherensi  dalam  suatu  wacana.  Penggunaan
pengulangan yang berlebihan dalam suatu teks dapat menyebabkan berkurangnya
keapikan dalam suatu teks. 
Berdasarkan  teori  tersebut, dalam penelitian  ini penggunaan pengulangan
yang  banyak  ditemukan  adalah  pengulangan  penuh.  Sebagian  teks  sudah
menggunakan bentuk pengulangan penuh dengan baik  (tidak berlebihan), namun
tidak  jarang  juga  ditemukan  penggunaan  pengulangan  yang  berlebihan  yang
menyebabkan  berkurangnya  keapikan  dalam  teks  sehingga  teks  tersebut  terasa
membosankan saat dibaca.
Selain  piranti  leksikal  tersebut,  Piranti  kohesi  leksikal  ke  dua  yang
digunakan  dalam  karangan  eksposisi  siswa  kelas XI  IPA  3 SMA Negeri  1 Kota
Kediri  adalah  kolokasi. Piranti  kohesi  leksikal  kolokasi  jarang  digunakan  dalam
karangan ini dikarenakan piranti kohesi kolokasi pun juga jarang digunakan dalam
teks  lain.  hal  itu  disebabkan  karena  kolokasi  merupakan  suatu  hal  yang  selalu
berdekatan  atau  berdampingan  dengan  yang  lain  biasanya  diasosiasikan  sebagai
suatu  kesatuan  (Rani,  Martutik,  dan  Arifin,  2010:133),  sehingga  dalam
pembahasannya  hanya pada konteks  tertentu yang  terdapat penggunaan kolokasi
di dalamnya. Seperti dalam penelitian  ini  terbukti bahwa  lebih banyak ditemukan kolokasi  antara  siswa  dan  sekolah  dikarenakan  tema  dalam  karangan  eksposisi
yang  ditulis  oleh  siswa  kelas  XI  IPA  3  SMA  Negeri  1  Kota  Kediri  tersebut
bertema  ‘kenakalan  remaja’  sehingga  dalam  pembahasannya  pun  erat  kaitannya
dengan penggunaan kolokasi antara siswa dan sekolah.
 
Penggunaan Penanda Koherensi
  Dalam  sebuah wacana  aspek  koherensi  sangat  diperlukan  keberadaannya
untuk menjaga  pertalian  batin  antara  proposisi  yang  satu  dengan  lainnya  untuk
mendapatkan keutuhan. Keutuhan  yang koheren  tersebut dijabarkan oleh adanya
hubungan-hubungan  makna  yang  terjadi  antarunsur  (bagian)  secara  semantik.
Hubungan  tersebut  kadang  terjadi  melalui  alat  bantu  kohesi,  namun  kadang-
kadang  terjadi  tanpa  bantuan  alat  kohesi.  Secara  keseluruhan  hubungan  makna
yang bersifat koheren menjadi bagian dari organisasi semantis.
  Koherensi  dapat  terjadi  secara  implisit  (terselubung)  karena  berkaitan
dengan bidang makna yang memerlukan interpretasi. Maka dari pendapat tersebut
diperkuat  dan  disimpulkan  oleh  Mulyana  (2005:31)  yang  menyatakan  bahwa
hubungan koherensi adalah suatau rangkaian fakta dan gagasan yang teratur yang
tersusun secara logis.
Analisis  penggunaan  koherensi  pada  karangan  eksposisi  siswa  kelas  XI
IPA  3 SMA Negeri  1 Kota Kediri  berdasarkan  pada  pemilihan  dan  penggunaan
kata  dan  penggunaan  penanda  kohesi.  Ketepatan  dalam  pemilihan  kata  sangat
mempengaruhi  terbentuknya  koherensi  yang  baik.  Jika  terjadi  kesalahan  dalam
pemilihan kata, maka akan kesulitan saat memaknai sebuah kalimat, paragraf, atau
wacana yang diakibatkan oleh kerancuan saat memahami kata tersebut. 
Selain  itu,  pemilihan  kata  dan  penggunaan  kata  yang  maknanya  tidak
tumpang  tindih  (bersinonim)  pada  saat  yang  bersamaan  akan  mengakibatkan
kemubadziran  kata  yang  akan  mengurangi  ketepatan  koherensi.  Seperti  yang
dikemukakan  oleh  Chaer  (2000:383)  bahwa  ketepatan  sebuah  wacana  masih
tergantung  juga  pada  ketepatan makna  kata-kata  yang  digunakan  serta  berbagai
hal  yang  berkenaan  dengan  makna  tersebut.  Dalam  penelitian  ini  ditemukan
beberapa  data  yang menggunakan  kata  yang  kurang  tepat  dan  penggunaan  kata
yang  maknanya  tidak  tumpang  tindih  (bersinonim)  yang  menyebabkan
kemubadziran  kata.  Seperti  contoh  penggunaan  frasa  sangat  amat  besar  yang
merupakan kemubadziran kata dan dapat diperbaharui menjadi sangat besar atau
amat  besar.  Kemubadziran  kata  menurut  Aminuddin  (1992:32)  adalah
penggunaan  kata/kata-kata  dalam  kalimat  yang melampaui  batas  proposisi  yang
seharusnya  disampaikan.  Selain  itu  pemilihan  kata  dalam  frasa  pergaulan  setan
juga  sebaiknya  tidak  digunakan  karena  penggunaan  yang  tidak  lazim  dan  dapat
menimbulkan kerancuan atau pemahaman ganda saat kita memaknainya.
  Selain ketepatan pemilihan dan penggunaan kata, penanda koherensi yang
lain adalah ketepatan penggunaan piranti kohesi. Kohesi merujuk pada keterkaitan
antarproposisi  yang  secara  eksplisit  diungkapkan  oleh  kalimat-kalimat  yang
digunakan,  sedangkan koherensi  juga mengaitkan dua proposisi atau  lebih  tetapi
keterkaitan  di  antara  proposisi-proposisi  tidak  secara  eksplisit  dinyatakan  dalam
kalimat-kalimat yang dipakai. Oleh karena itu, ketepatan pemilihan piranti kohesi,
baik  piranti  kohesi  gramatikal maupun  leksikal  sangatlah  penting  karena  kohesi
tersebut  sebagai  pengikat  antarkalimat maupun makna  dalam  paragraf,  sehingga
tidak menimbulkan kerancuan saat memahami teks yang dibaca.    Hal  itu sejalan dengan pendapat Martutik  (1995:78-79) yang menegaskan
bahwa  penggunaan  penanda  kohesi  merupakan  bagian  yang  penting  dalam
membentuk  koherensi  wacana.  Penanda-penanda  kohesi  itu  dapat  menyatakan
hubungan  maknawi  dan  hubungan  konferensial,  sehingga  dapat  mengaitkan
komponen-komponen  pesan  dalam  sebuah  teks.  Dengan  demikian,  dapat
terbentuk suatu keseluruhan.
  Data yang ditemukan dalam analisis penggunaan kohesi  sebagai penanda
koherensi  pada  penelitian  ini  sebagian  besar  menujukkan  penanda  kohesi
konjungsi yang digunakan sebagai penanda koherensi antarkalimat. Hal itu sejalan
dengan  pendapat  Eriyanto  (2001:243)  yang  mengemukakan  bahwa  koherensi
dapat secara mudah diamati di antaranya dari kata penghubung  (konjungsi) yang
dipakai  untuk  menghubungkan  fakta.  Apakah  dua  kalimat  dipandang  sebagai
hubungan  kausal  (sebab-akibat),  hubungan  keadaan,  waktu,  kondisi,  dan
sebagainya. Dengan adanya kata hubung, dua kalimat yang menggambarkan fakta
berbeda dapat dihubungkan sehingga  tampak koheren. Sehingga  fakta yang  tidak
berhubungan  sekalipun  dapat  menjadi  berhubungan  ketika  seseorang
menghubungkannya.
 
PENUTUP
Simpulan
  Bertolak  dari  temuan  penelitian  dan  pembahasan,  hasil  penelitian  dapat
disimpulkan  sebagai  berikut.  Pertama,    penggunaan  piranti  kohesi  (a)  referensi
anafora  meliputi  pronomina  persona  mereka,  pronomina  demonstratif  tersebut,
itu,  dan  enklitik  –nya,    (b)  referensi  katafora:  enklitik  –nya  dan  pronomina
demonstratif  itu,  (c)  gramatikal  substitusi:  kata  ganti  tempat,  waktu,  kata
demikian, dan hal  (ini dan  itu) yang digunakan sebagai pengganti proposisi yang
disebutkan  sebelumnya  pada  kalimat,  (d)  konjungsi:  penegasan,  sebab-akibat,
perlawanan, ketidakserasian, dan  tambahan/aditif, (e) pengulangan: pengulangan
penuh,  pengulangan  dengan  hiponim,  dan  pengulangan  dengan  sinonim,  dan  (f)
penggunaan  kohesi  leksikal  kolokasi:  ‘siswa  dan  sekolah’  dan  ‘Pancasila  dan
UUD  1945’.    Kedua,  penggunaan  penanda  koherensi  yang  ditemukan  dalam
karangan eksposisi siswa kelas XI SMA Negeri 1 kota Kediri adalah (a) pemilihan
dan penggunaan kata dan (b) penggunaan piranti kohesi.
 
Saran
Berdasarkan  hasil  penelitian  dapat  dikemukakan  saran  sebagai  berikut.
Pertama,  bagi  siswa  kelas  XI  IPA  3,  dalam  penelitian  ini  banyak  ditemukan
penggunaan referensi anafora enklitik –nya dan  juga penggunaan substitusi. Oleh
sebab  itu, hendaknya menggunakan piranti kohesi yang  lebih  variatif. Selain  itu,
banyak ditemukan ketidaksesuaian penggunaan penanda koherensi pemilihan dan
penggunaan kata, maka dari  itu disarankan untuk  lebih memerhatikan pemilihan
dan  penggunaan  kata  karena  kesalahan  dalam  pemilihan  dan  penggunaan  kata
dapat  mempengaruhi  koherensi  dan  pemaknaan.  Kedua,  bagi  guru  bahasa
Indonesia,  hendaknya  menambah  intensitas  latihan  menulis  karangan  kepada
siswa agar siswa  terbiasa dalam menulis karangan, baik karangan  jenis eksposisi
maupun  jenis karangan yang  lain dengan memerhatikan penggunakan kohesi dan
koherensi  yang  baik  serta  memerhatikan  pemilihan  dan  penggunaan  kata  yang
tepat  sehingga  karangan  yang  dihasilkan  lebih  baik. Ketiga,  bagi  peneliti  lanjut, hendaknya  dilakukan  penelitian  lanjutan  sejenis  dengan  subjek  penelitian  siswa
SMA dengan  jenis karangan  lain agar siswa di SMA terlatih dan terbiasa menulis
dengan  menggunakan  piranti  kohesi  yang  lebih  variatif  dan  memerhat ikan
penanda koherensi yang baik.
 
DAFTAR RUJUKAN
Aditama, N.S. 2012. Kesalahan Siswa dalam Menulis Paragraf yang Memenuhi
Kualifikasi  Kohesi  dan  Koherensi  di  Kelas  V  SDN  Saptorenggo  02
Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Skripsi  tidak diterbitkan. Malang:
Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Program Studi S1
PGSD. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. 
Aminuddin.  1992.  Semantik  Bahasa  Indonesia  I.  Malang:  Universitas  Negeri
Malang.
Chaer, A. 2000. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Eriyanto. 2001. Analisis Wacana. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta.
The Liang Gie. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi Offset.
Halliday,  M.A.K.,&  Hasan,  R.  1984.  Cohesion  in  English.  London  and  New
York: Longman.
Keraf, G. 1995. Komposisi. Jakarta: Gramedia.
Martutik. 1995. Analisis Wacana Interaktif. Malang.    
Mulyana. 2005. Kajian Wacana. Jakarta: Tiara Wacana.
Nurchasanah, dan Hs, Widodo. 1993. Keterampilan Menulis dan Pengajarannya.
Malang.
Prabowo,  H.S.  2011.  Peningkatan  Keterampilan  Menulis  Paragraf  yang
Memenuhi  Syarat  Kohesi  dan  Koherensi  melalui  Pembelajaran
Pengembangan Outline pada Siswa Kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang.
Skripsi  tidak  diterbitkan. Malang:  Jurusan  Kependidikan  Sekolah  Dasar
dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang.
Rani,  A.,  Arifin,  B.,&  Martutik.  2010.  Analisis  Wacana.  Malang:  Bayumedia
Publishing.
Tarigan, H.G. 1987. Pengajaran Wacana. Yogyakarta: LKiS.