SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Ekspresi Pengalaman Kejiwaan Pengarang dalam Naskah Drama Indonesia

Dian Fitra Fajarina

Abstrak


ABSTRAK

 

Fajarina, D.F. 2012. Ekspresi Pengalaman Kejiwaan Pengarang dalam Naskah Drama Indonesia. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Heri Suwignyo, M.Pd. (II) Indra Suherjanto, S.Pd., M.Sn.

 

Kata Kunci: ekspresi pengalaman kejiwaan, pengalaman kejiwaan pengarang, naskah drama Indonesia

Naskah drama sebagai salah satu bentuk karya sastra dapat dipandang sebagai ekspresi dunia batin pengarangnya. Salah satu wujud ekspresi dunia batin pengarang adalah ekspresi pengalaman kejiwaan. Dalam naskah drama, pengalaman kejiwaan pengarang diekspresikan melalui dialog/monolog tokoh dan petunjuk teknis. Untuk mengidentifikasi ekspresi pengarang dalam unsur tersebut dikaji melalui teori tingkat pengalaman kejiwaan. Dalam teori ini dibahas bahwa pengalaman kejiwaan  memiliki lima tingkatan, yakni tingkat anorganis, vegetatif, animal, human, dan filosofis atau religius.

 

Dalam proses pengekspresian pengalaman kejiwaan dalam naskah drama, pada umumnya pengarang menggunakan lambang kebahasaan. Oleh karena itu, pemaknaan terhadap lambang kebahasaan tersebut diperlukan untuk menginterpretasi ekspresi pengalaman kejiwaan pengarang. Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan dalam naskah drama dikaji melalui teori semiotik atau semiotika. Semiotik merupakan studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengan tanda.

 

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ekspresi pengalaman kejiwaan pengarang dalam naskah drama Indonesia. Ekspresi pengalaman kejiwaan pengarang didasarkan pada temuan tingkat pengalaman anorganis, tingkat pengalaman vegetatif, tingkat pengalaman animal, tingkat pengalaman human, dan tingkat pengalaman filosofis atau religius dalam naskah drama.

 

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data  penelitian ini adalah data verbal berupa dialog/monolog tokoh dan  petunjuk teknis dalam naskah drama Indonesia.  Sumber data penelitian ini adalah empat naskah drama Indonesia hasil reduksi dari 21 naskah drama penulisan tahun 2001—2008. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi. Instrumen utama penelitian adalah peneliti sendiri yang dibantu dengan instrumen pendukung berupa tabel panduan pengumpul data dan interpretasi data. Kegiatan analisis dan interpretasi data dimulai dengan membaca cermat data-data yang sudah terkumpul, mengidentifikasi ekspresi pengalaman kejiwaan pengarang dalam naskah drama Indonesia, mengidentifikasi kecenderungan/pola-pola ekspresi pengalaman kejiwaan pengarang dalam naskah drama Indonesia, dan memberi makna pada kecenderungan/pola-pola ekspresi pengalaman kejiwaan pengarang dalam naskah drama Indonesia. Pengecekan keabsahan temuan pada penelitian dilakukan dengan membaca berulang-ulang temuan dan interpretasi untuk melakukan pengecekan sampai mencapai kredibilitas dan konfirmasi pembimbing untuk mencari kritik dan masukan.

 

Berdasarkan hasil analisis data dan temuan penelitian disimpulkan bahwa dalam naskah drama penelitian ini, pengarang mengekspresikan pengalaman kejiwaan tingkat anorganis melalui benda mati dan bau dalam dialog tokoh dan petunjuk teknis. Penggunaan benda-benda mati dan bau dalam naskah drama terkait kesakralan, kemistisan, dan kesederhanaan. Di antara kedua bentuk ekspresi tersebut, pengarang cenderung menggunakan benda mati untuk mengekspresikan pengalaman kejiwaannya dibanding bau. Untuk menyatakan makna simbol, penggunaan benda mati dalam petunjuk teknis dan dialog lebih sering dihubungkan dengan benda-benda mati lain.

 

Dalam naskah drama penelitian ini, pengarang mengekspresikan pengalaman kejiwaan tingkat vegetatif melalui bagian tumbuhan. Pengalaman ini diekspresikan melalui petunjuk teknis. Penggunaan kata-kata yang merupakan bagian tumbuhan tersebut terkait dengan suasana sakral dan mistis.

 

Dalam naskah drama penelitian ini, pengarang mengekspresikan pengalaman kejiwaan tingkat animal melalui tingkah laku binatang. Pengalaman ini diekspresikan melalui dialog tokoh. Penggunaan tingkah laku binatang dalam dialog tokoh terkait nafsu amarah.

 

Dalam naskah drama penelitian ini, pengarang mengekspresikan pengalaman kejiwaan tingkat human melalui dialog tokoh dan lakuan tokoh. Kedua bentuk ekspresi tersebut digunakan pengarang untuk menyatakan makna simbol. Dari kedua bentuk ekspresi tersebut pengarang cenderung menggunakan dialog tokoh sebagai simbol untuk mengekspresikan pengalaman kejiwaannya dibanding lakuan tokoh. Penggunaan dialog/ucapan tokoh dan lakuan tokoh dalam naskah drama terkait dengan konflik jiwa, pergolakan batin, renungan moral, rasa simpati, dan rasa belas kasihan.

 

Dalam naskah drama penelitian ini, pengarang mengekspresikan pengalaman kejiwaan tingkat filosofis atau religius melalui dialog tokoh dan lakuan tokoh. Kedua bentuk ekspresi tersebut digunakan pengarang untuk menyatakan makna simbol. Dari kedua bentuk ekspresi tersebut pengarang cenderung menggunakan dialog tokoh sebagai simbol untuk mengekspresikan pengalaman kejiwaannya dibanding lakuan tokoh. Penggunaan dialog/ucapan tokoh dan lakuan tokoh dalam naskah drama terkait dengan renungan hakikat kehidupan dan hubungan manusia dengan Tuhan.

 

Berdasarkan simpulan hasil penelitian, dikemukakan dua saran sebagai berikut. Pertama, bagi pengajar/guru, hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan baru tentang naskah drama dan dapat menjadi pertimbangan sebagai materi pembelajaran apresiasi drama dan menulis drama. Kedua, bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk melakukan penelitian lanjutan, terutama perkembangan ekspresi pengalaman kejiwaan pengarang dalam naskah drama setiap kurun waktu tertentu.