SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Nilai Karakter dalam Tembang Dolanan di Kabupaten Trenggalek

Candra Rahma Wijaya Putra

Abstrak


 

Candra Rahma Wijaya putra[1], Maryaeni2, dan Dwi Sulistyorini3

Email: candraa5@yahoo.com

Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang Nomor 5 Malang

 

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai karakter yang terdapat pada lirik tembang dolanan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah tembang dolanan yang pernah dikenal oleh masyarakat Trenggalek. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam tembang dolanan terdapat nilai karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

 

Kata kunci: tembang dolanan, nilai karakter, folklor lisan.

 

ABSTRACT: This research is aimed at describing the character values appear in the traditional game songs. This research used descriptive research design. The source of data in the present research is the traditional game songs which still recognized by the society in Trenggalek. The results shows that traditional game songs contain the velues of tolerance, discipline, work ethic, creative, independent, democratic, curiousity, nationalism spirit, patriotism, appreciation, friendly and communicative, love peace, reading a lot, look after the environment, look after the society, and responsibility.

 

Keyword: game songs, character value, folklore.

 

Bentuk nyanyian rakyat Jawa yang paling banyak dikenal oleh masyarakat dan mudah dipelajari adalah tembang dolanan. Pada umumnya, objek sasaran dari tembang dolanan adalah anak-anak. Oleh karena itu, tembang dolanan ini sangat mudah diterima oleh banyak kalangan. Tembang dolanan termasuk jenis nyanyian rakyat berfungsi (Danandjaja, 2002:146), yaitu nyanyian rakyat yang kata-kata dan lagunya memegang peranan yang sama penting. Jenis nyanyian rakyat ini selanjutnya dapat dibagi lagi menjadi tiga kategori, yaitu nyanyian kelonan, nyanyian kerja, dan nyanyian permainan. Pada zaman dahulu, tembang dolanan digunakan sebagai media pengajaran nilai-nilai luhur suatu budaya.

Nilai-nilai luhur yang terdapat dalam lirik tembang dolanan tersebut dihubungkan dengan delapan belas karakter pada pendidikan karakter. Sesuai dengan pernyataan tersebut, Wibowo (2012:36) mengartikan pendidikan karakter sebagai pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur kepada anak didik untuk dipraktekkan dan diterapkan dalam kehidupan. Kementrian Pendidikan Nasional melalui Badan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kurikulum tahun 2010 (dalam Wibowo, 2012:43) menyatakan bahwa secara keseluruhan nilai karakter yang dikembangkan dalam pendidikan karakter ada 18, yaitu religuis, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Berdasarkan paparan tersebut, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan nilai karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab yang terdapat pada lirik tembang dolanan.

 

METODE

Data dalam penelitian ini berupa kata-kata dalam lirik tembang dolanan. Sedangkan sumber data penelitian ini adalah tembang dolanan. Tembang-tembang dolanan tersebut diperoleh dari buku kumpulan tembang “Laras”  yang disusun oleh Yayasan Pendidikan Mardi Utomo Kabupaten Trenggalek pada tahun 1972. Selain itu, tembang dolanan juga diperoleh dari hasil wawancara beberapa masyarakat Trenggalek.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua puluh tembang dolanan, yaitu Lintang, Kupu Kuwi, Gambang Suling, Sopir Becak, Becik Ketitik Ala Ketara, Sluku-sluku Bathok, Nyata Kowe Wasis, Jamuran, Welingku, Kartini, Ijo-ijo, Abang Putih, Trontong-trontong, Bocah-bocah Dolanan, Putra Putri Indonesia, Cublak-cublak Suweng, Aku Nandur Kembang, Rambutan, Gundul Pacul, dan Aja Dhemen Saguh Aja Wedi Saguh. Pemilihan sumber data tersebut dilakukan berdasarkan kriteria (1) tembang dolanan tersebut dikenal oleh masyarakat Trenggalek, (2) tembang dolanan yang menggunakan bahasa Jawa, dan (3) tembang dolanan yang bermuatan nilai karakter. Berdasarkan jenis data dan sumber data, pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumen.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah human instrument. Ciri khas penelitian kualitatif adalah pengamatan berperan serta. Peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan skenarionya (Moleong, 2000:163). Peneliti menggunakan instrumen pembantu berupa tabel format panduan kajian analisis. Langkah-langkah analisis data yang ditempuh dalam penelitian adalah reduksi data, kodifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan verifikasi. Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan di lapangan. Kodifikasi merupakan pemilihan data yang sesuai dan memberi kode pada data yang telah dipilih tersebut. Klasifikasi data didasarkan pada delapan belas nilai karakter bangsa. Interpretasi data didasarkan pada fokus penelitian terhadap lirik dari tembang dolanan. Sedangkan verifikasi merupakan proses penyempurnaan yang dilakukan secara terus-menerus sepanjang proses penelitian berlangsung.

 

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian yang pertama yaitu nilai religius yang ditemukan pada tembang dolanan. Nilai ini terdapat pada lirik keempat tembang dolanan berjudul Lintang. Lirik tersebut berbunyi Sapa ta sing nata jejer jejer ana kana (siapa yang menata berjajar di sana). Lirik ini merupakan kalimat nasihat kepada pembaca untuk selalu ingat kepada Tuhan. Selanjutnya, pada lirik kedua dan ketiga tembang sluku-sluku bathok juga merupakan seruan untuk menaati ajaran agama. Lirik tersebut adalah Bathoké éla-élo batine La-ilaha-illallah”, yang artinya tiada Tuhan selain Allah. Kalimat tersebut merupakan wujud pengakuan terhadap keesaan Tuhan. Kemudian pada lirik ketiga, Sirama menyang Solo (mandi dan laksanakan sholat) yaitu seruan untuk melakukan sholat.

Nilai karakter religius yang berupa hidup rukun dengan pemeluk agam lain dapat dilihat pada lirik pertama tembang Bocah-bocah Dolanan. Kata Bocah-bocah (anak-anak) di sini tidak dijelaskan dari suku, agama, atau latar belakang apa. Nilai karakter religius berikutnya dapat diambil dari tembang Kupu Kuwi. Pada lirik kupu-kupu kuwi tak cekele (kupu itu aku tangkap) memiliki makna bahwa seseorang ingin memperoleh kemulyaan dengan bertobat (menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhan) seperti kepompong.

Hasil penelitian yang kedua yaitu nilai karakter jujur yang ditemukan dalam tembang dolanan. Perkataan yang tidak dapat dipercaya orang dapat dilihat pada tembang Becik Ketitik Ala Ketara. Hal itu diutarakan secara jelas pada lirik Yen kojah ngaku prasaja, Lumrahe wong ati diri, dan Yen kojah angaku sura, Lumrahe wong ati jirih. Kata