SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN NARASI SISWA KELAS X MA AL-MANAR PRAMBON NGANJUK TAHUN 2012/2013

Sandhy Nugraha Putra

Abstrak


ABSTRAK

 

Putra, N.S. 2012.Kemampuan MenulisKarangan Narasi Siswa Kelas X MA AL-Manar Prambon Nganjuk Tahun Pelajaran 2012/2013. Skripsi,  Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Dr. Kusubakti Andajani, S.Pd.,  M.Pd., (II) Karkono, M.A.

 

Kata Kunci: pembelajaran menulis, karangan narasi, rangkaian peristiwa, sudut pandang

Kemampuan menulis merupakan hal yang seharusnya dikuasai oleh semua peserta didik.Akan tetapi dalam kenyataannya masih banyak yang masih belum dapat menulis dengan baik dan benar.Kesalahan terjadi pada ejaan, penggunaan kata ulang masih terjadi. Dalam hal lain peserta didik atau siswa sering pula salah menyusun karangan. Kekeliruan tersebut sering terjadi pada karangan narasi yang lebih bersifat deskripsi atau bahkan persuasi.Penulisan karangan yang sering mengalami kekeliruan ini melatarbelakangi penelitian ini.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan menulis karangan narasi siswa. Karangan narasi dipilih karena karangan narasi sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, berupa cerpen, pengalaman pribadi, dongeng dan berbagai bentuk lain dari karangan narasi.

 

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif.Metode deskriptif dirasa tepat untuk menyimpulkan kemampuan siswa dalam menulis karangan naratif.Teknik deskriptif yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif.Penelitian dekriptif kuantitatif ini disajikan dengan angka-angka untuk kemudian dikaji dengan deskriptif mengenai penjelasan dari angka-angka yang didapat.MA AL-Manar Prambon Nganjuk digunakan sebagai sekolah yang dijadikan sebagai lokasi penelitian.Siswa kelas X-4 digunakan sebagai subjek penelitian. Subjek diambil secara acak karena nilai dari empat ulangan terakhir dari empat kelas yang ada relatif sama. Oleh sebab itu, pengambilan subjek diambil secara acak.

 

Setelah dilakukan tes pada siswa X-4 ditemukan bahwa siswa jarang mendapatkan tes serupa. Guru jarang memberi tugas untuk membuat sebuah karangan dan sejenisnya. Guru lebih sering memberikan materi tanpa dilanjutkan dengan memberikan tugas nyata untuk menulis. Faktor kebiasaan tersebut membuat hasil yang didapat siswa kurang maksimal.Dari tiga aspek yaitu, isi, sudut pandang, dan bahasa, siswa hanya menguasai dalam penentuan sudut pandang saja.Sudut pandang yang paling banyak digunakan adalah sudut pandang orang pertama.Sedangkan untuk kemampuan merangkai peristiwa dalam isi dan bahasa dalam karangan narasi, mayoritas siswa masih belum mampu menghasilkan rangkaian peristiwa dan bahasa yang baik.

 

Isi karangan narasi yang dihasilkan siswa mayoritas belum menunjukkan keutuhan, kerincian, dan ketepatan merangkaikan peristiwa.Karangan yang dibuat siswa mayoritas belum utuh.Hal tersebut disebabkan belum adanya peristiwa pokok, atau tidak didukungnya peristiwa pokok dengan penjelas.Karangan siswa belum dapat dikatakan baik dalam merangkaikan peristiwa sebab peristiwa dalam karangan narasi masih belum jelas.Peristiwa yang dikisahkan masih belum runtut dari awal peristiwa hingga akhir. Meski karangan narasi dapat dimengerti, akan tetapi kerincian dalam karangan narasi siswa masih belum baik. Karangan tidak dapat dikatakan rinci karena belum memiliki peristiwa pokok, peristiwa penjelas, dan karangan berbentuk deskripsi atau persuasi.

 

Dalam aspek kebahasaan, hampir seluruh siswa kurang mampu dalam menggunakan bahasa yang baik.Dalam aspek ejaan, kalimat, dan paragraf, hampir mayoritas siswa tidak dapat membuat dengan baik.Baik kesalahan yang terjadi pada ejaan. Kesalahan yang terjadi pada ejaan misal kata yang disingkat seperti “yg”, “dgn”, “sdh”, dan beberapa kata lain yang berasal dari bahasa sehari-hari yang tidak baku. Kesalahan dalam kalimat didapati banyak siswa yang membuat kalimat terlalu panjang, tidak efektif, dan kurang jelas. Sementara itu, dalam aspek  kemampuan menulis paragraf, siswa mayoritas menggunakan satu kalimat dalam satu paragraf tanpa penjeda. Beberapa siswa hanya menggunakan dua kalimat dalam sebuah paragraf.Sementara itu, sebuah paragraf ideal seharusnya memiliki minimal tiga kalimat atau lebih.

 

Dari hasil tersebut, disimpulkan bahwa siswa masih belum mampu untuk membuat sebuah karangan narasi dengan baik.Kekurangan dalam menulis karangan narasi dikarenakan siswa masih belum terbiasa dalam membuat karangan atau karya tulis lainnya. Hal lain yang membuat hasil kurang maksimal adalah kebiasaan siswa yang bergantung kepada teman. Peran guru dalam menggunakan berbagai macam media, dan memperbanyak latihan sangat diharapkan untuk dapat memaksimalkan kemampuan siswa.Sekolah juga diharapkan untuk memperbanyak akses multimedia dan sumber untuk mendukung memaksimalkan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada umumnya dan menulis karangan narasi khususnya.