SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penerapan Maksim Tutur dalam Wacana B-CAK di JTV.

Yuda Pratamawan Wijaya

Abstrak


Pratamawan, W. Yuda. 2009. Penerapan Maksim Tutur dalam Wacana B-CAK di

JTV. Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. SASTRA. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Martutik, M.Pd.

 

Kata kunci: Prinsip Kerja Sama, Wacana B-CAK, Penerapan Maksim Tutur.

 

Dalam kenyataan sehari-hari, manusia yang normal tidak pernah terlepas

dari kegiatan berkomunikasi, baik komunikasi secara internal maupun secara

eksternal. Dalam proses berinteraksi tersebut ada beberapa prinsip yang harus

dipahami oleh penutur dan mitra tutur. Prinsip-prinsip tersebut adalah Prinsip

Kerja Sama (PKS) Grice (1975). Grice (1975:45-46) mengatakan prinsip tersebut

terdiri dari (1) prinsip kuantitas (quantity principle), (2) prinsip kualitas (quality

principle), (3) prinsip hubungan (relation principle), dan (4) prinsip cara (manner

principle).

Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan (a) penerapan maksim

kualitas, (b) penerapan maksim kuantitas, (c) penerapan maksim hubungan, dan

(d) penerapan maksim cara yang ada dalam acara B-CAK di JTV. Hal itu karena

dalam acara B-CAK di JTV masalah penerapan maksim tutur sangat menonjol.

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah para peserta tutur

dalam acara B-CAK di JTV. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data

verbal yang mengandung PKS (kualitas, kuantitas, hubungan, dan cara) yang

berupa percakapan lisan pembawa acara dengan mitra tuturnya yang ditranskrip

sehingga membentuk teks tulis. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama.

Analisis data dilakukan dalam tiga langkah, (1) reduksi data, (2) sajian data, dan

(3) verifikasi data.

Berdasarkan hasil analisis data, peserta tutur dalam acara B-CAK di JTV

menerapkan dan menyimpangkan keempat maksim dari PKS. Penerapan PKS

tanpa penyimpangan digunakan karena dalam acara B-CAK tersebut dibutuhkan

informasi yang benar, informatif, jelas, dan tidak ambigu. Pertama, penerapan

maksim kualitas ditandai oleh informasi yang benar dan memiliki bukti-bukti.

Kedua, penerapan maksim kuantitas ditunjukkan dengan adanya informasi yang

cukup dan tidak melebihi apa yang dibutuhkan oleh peserta tutur. Ketiga,

penerapan maksim hubungan ditunjukkan dengan adanya kesesuaian topik yang

dibicarakan antara penutur dan mitra tuturnya. Keempat, penerapan maksim cara

ditunjukkan oleh peserta tutur dari kejelasan informasi yang diberikan, tidak

kabur, runtut, dan singkat dalam bertutur.

Penerapan PKS dengan penyimpangan yang terungkap dari hasil analisis

data dalam acara B-CAK di JTV terdapat empat maksim yang menyimpang.

Pertama, penyimpangan maksim kualitas yang ditandai dengan adanya informasi

yang salah, bohong, dan tidak meyakinkan. Kedua, penyimpangan maksim

kuantitas yang ditunjukkan dengan diberikannya informasi yang berlebihan oleh

peserta tutur dan informasi yang bertele-tele. Ketiga, penyimpangan maksim

hubungan yang ditunjukkan dengan tidak sesuainya informasi yang diberikan

antara topik dan isi tuturan. Keempat, penyimpangan maksim cara yang

ditunjukkan dengan adanya informasi yang tidak jelas, kabur, ambigu, panjang

lebar, dan tidak teratur.

Berdasarkan penelitian ini, saran yang diajukan peneliti adalah (1) untuk

peserta tutur dalam acara B-CAK di JTV diharapkan mampu memberikan

informasi yang diharapkan oleh penontonnya dengan memperhatikan konteks

percakapannya terutama dalam menerapkan keempat maksim dalam prinsip kerja

sama, (2) untuk pembaca, khususnya mahasiswa. Hasil penelitian ini dapat

digunakan untuk menambah wawasan tentang prinsip kerja sama, dan (3) untuk

peneliti lainnya, penelitian ini bisa digunakan untuk bandingan dalam penelitian

sejenis